Buruh Sawit Tak Makan Malam

soc.sulung prasetyo Kamp buruh sawit di Kalimantan Timur masih jauh dari standar layak.

doc.sulung prasetyo
Kamp buruh sawit di Kalimantan Timur masih jauh dari standar layak.

Tak berapa lama setelah tiba di Jakarta, tiba-tiba telepon genggam berdering. Ponidi, rekan dari organisasi Menapak di Berau, Kalimantan Timur dengan tergesa mengabarkan kondisi darurat. Seorang buruh di perkebunan sawit kecelakaan patah tangan.

Pasalnya remeh saja. Rantai motor karatan milik buruh tersebut tiba-tiba putus, saat dipaksa menanjak bukit, menuju pabrik pengolahan sawit tempat kerjanya.

Sulaiman, nama pekerja tersebut hingga Senin (7/4/2014) masih terbujur kesakitan di rumah sakit daerah Berau. Malam sebelumnya ia harus berjuang bisa keluar dari perkebunan, untuk mendapatkan fasilitas pengobatan.

“Perusahaan baru bayar biaya pen untuk patah tulang sebesar 8 juta. Tapi obat untuk operasi belum dibayar. Sekarang pekerja itu ditinggalkan di rumah sakit tanpa pesan apapun, dan tak ada pihak perusahaan yang menemani,” urai Ponidi menjelaskan situasi.

Untungnya dengan berbagai desakan, akhirnya pihak rumah sakit mau memberikan obat tersebut. Operasi kemudian dilakukan dengan kebimbangan mengenai biaya kesehatan yang akan dikenakan.

Teringat beberapa hari sebelumnya, Rabu (2/4/2014) saat berhasil menyinggahi salah satu daerah pedalaman di Kalimantan Timur. Di pertemuan sungai Malinau dengan Segah tepatnya. Dimana berjejer rumah-rumah suku Dayak Kenyah dan Punan dipinggir-pinggirnya.

Bing, Kepala adat desa Malinau dengan ramah menyambut. Dari beberapa penduduk sekitar disebutkan kalau perkebunan sawit telah mengepung desa mereka. Bahkan ada yang mencapai pinggir-pinggir sungai, melabrak peraturan tentang bantaran sungai yang seharusnya dibiarkan alami.

Tak Makan Malam

Satu hal yang paling mengenaskan adalah mengenai kondisi buruh harian lepas perkebunan sawit. Salahsatunya berada dalam konsesi PT Natura Pacific Nusantara (NPN). Dalam kunjungan yang dilakukan malam harinya, terungkap berbagai kondisi miris yang harus dihadapi para buruh sawit, terutama yang berstatus buruh harian lepas.

“Banyak buruh yang kabur, karena tak kuat dengan kondisi di perkebunan sawit,” urai Sammy Tamunuk, buruh yang telah bekerja dua tahun disana.

Sammy sendiri lahir di Rote, Nusa Tenggara Timur. Memutuskan menyeberang ke Kalimantan dengan harapan pekerjaan yang lebih baik. Hingga akhirnya terdampar di pedalaman perkebunan sawit tersebut.

Banyak hal yang menyebabkan buruh bisa kabur, urai Sammy. Kondisi kamp buruh yang tidak memadai, sanitasi yang buruk, lokasi kerja yang berat dan jauh, ketidakpastian jaminan kesehatan, serta upah yang dianggap tidak memadai.

Gara-gara upah kecil itu juga, Dorci Fanggidae, seorang buruh wanita harus berpuasa bila malam hari.

“Saya tidak makan malam karena tidak ada lauk. Mau beli lauk uangnya kurang. Nanti tak ada yang dikirimkan ke anak saya di Kupang sana,” ucap Dorci, saat ditemui di kamp beratap terpal miliknya.

Kebanyakan buruh harian lepas sawit di daerah itu, memang dominan berasal dari daerah timur Nusa Tenggara. Sebagian besar datang dengan iming-iming pekerjaan dan tempat tinggal yang layak. Namun kenyataannya, tidur beratap terpal, dengan lantai tanah, dan mengais kayu-kayu bangunan untuk menutupi dinding kamp mereka.

Urusan kamp baru satu masalah. Saat pagi hari, berbondong-bondong buruh harian lepas harus berjalan mendaki dan menuruni bukit, menuju lokasi kerja. Tak sebentar, bisa berjam-jam lamanya. Tanpa dukungan fasilitas transportasi dari perusahaan. Membopong sendiri tangki-tangki penyemprot hama dan peralatan kerja.

Sampai di lokasi kerja, bukan selesai begitu saja. Khusus untuk penyemprot mereka harus mencari air, untuk dicampur dengan cairan anti hama. Tidak mudah mencari air di perkebunan sawit yang gersang. Setelah air penuh, harus berjalan lagi mencari pohon yang akan disemprot.

“Sarung tangan, kacamata, sepatu karet ini harus kami modali sendiri. Tak ada yang diberikan oleh perusahaan,” ujar Willy Anselmus, salah seorang buruh penyemprot yang sempat ditemui, Kamis (3/4/2014).

Willy menyemprot dengan tanpa penutup pernafasan. Bau pembasmi hama yang menyengat, sesaat bisa membuat pusing kepala. Apabila terus menerus dihisap dalam jangka panjang, maka akan menyebabkan keracunan dan berujung kematian.

Persoalan para buruh menjadi contoh nyata. Mengenai masih buruknya manajemen perkebunan sawit, dalam menangani berbagai kasus kesejahteraan buruh. Kasus itu sendiri sepertinya hanya satu cermin bisu, dari pantulan berbagai masalah lain para buruh sawit di Kalimantan Timur.

“Buruh-buruh BHL (Buruh Harian Lepas – red) yang mengerjakan pemupukan, pemanenan, pembersihan piringan, dan lain-lain adalah buruh yang paling marjinal posisinya. Dan kita bisa temukan posisi mereka sama di semua wilayah di perkebunan,” ungkap Achmad Surambo, dari Sawit Watch menanggapi masalah ini melalui surat elektronik.

Menurutnya memang terjadi ketidakadilan dalam perlakuan buruh sawit dilapangan. “Kondisi yang berbeda bila mereka disebut dengan karyawan, biasanya mereka yang di kantor atau emplasemen,” urai Surambo lagi.

Setengah-Setengah

Bila ditilik secara kondisi riil, sepertinya masalah buruh dan lingkungan perkebunan sawit, berpotensi besar terjadi pada perusahaan menengah dan kecil. Dalam perbincangan dengan para pakar industri kelapa sawit, ditemukan adanya indikasi perusahaan menengah dan kecil paling berpotensi untuk membakar hutan untuk minimalisasi biaya produksi, dan membayar buruh dengan murah serta tak menutupi berbagai jaminan karyawan.

“Untuk menjalankan perkebunan sawit memang tidak bisa setengah-setengah. Banyak biaya yang harus dikeluarkan. Sebaiknya perusahaan sawit kecil dan menengah bergabung menjadi satu, agar banyak masalah tidak berkembang dan merugikan perusahaan,” papar Basuki Sumawinata, pakar ilmu tanah dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Basuki yang ditemui saat lokakarya “Pengelolaan Bisnis dan Dampak Lingkungan pada Perkebunan Sawit” di Denpasar, Bali (28/3/2014) lalu juga menjelaskan kalau perhitungan biaya mahal perkebunan sawit bisa terlihat dari pengelolaan tanah perkebunan saja.

Seperti perkebunan di lahan gambut. Perlu biaya besar karena gambut tak bisa didiamkan begitu saja tanpa dirangsang untuk melakukan dekomposisi. “Gambut itu miskin, bakteri dan jamur sedikit, hanya hidup di permukaan. Dekomposisi sulit terjadi,” urai Basuki.

Minimnya dekomposisi akan mempengaruhi kesuburan lahan. Bila hal tersebut terus didiamkan maka akan berdampak pada produksi perusahaan. Karena pohon sawit tidak berbuah biji sesuai yang diharapkan.

Sementara mengenai buruh sawit yang masih berada pada kondisi mengenaskan ditampik oleh Joko Supriyono, Sekretaris Jendral Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki).
Menurutnya kini ada peraturan Kelapa Sawit Berkelanjutan di Indonesia (ISPO). Dalam peraturan tersebut termaktub parameter-parameter bagi perusahaan untuk memenuhi kewajiban kepada seluruh karyawan mereka.

“Setahu saya tak ada anggota Gapki yang masih menggaji karyawan dibawah standar gaji UMR daerah,” papar Joko.

Bilamana ada menurutnya Gapki bisa memberlakukan peringatan, atau bisa saja perusahaan tersebut dikeluarkan dari keanggotaan Gapki, bila terus melanggar ketentuan.

Sementara dalam penelusuran melalui internet, PT.NPN sendiri tidak masuk sebagai anggota Gapki, seperti tertera pada keterangan daftar anggota di situs daring Gapki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s