Air Juga Bisa Stres

Air ibarat nadi bagi manusia. Bila tak mengalir, maka putus juga kehidupan. Saat manusia makin bertambah banyak, air malah mengalami stress. Lantaran hulu yang makin rusak, dan berkurang kemampuan dalam menyimpan air.

Pernah suatu waktu di Pacitan, Jawa Timur harus ikut mengantri air. Jumlah pengantri bisa mengular, sampai puluhan orang. Untuk kebutuhan air pagi hari, harus mulai mengantri dari subuh, baru setelah matahari terbit bisa mendapatkan bagian.

Kemudian daripada terus repot seperti itu, beberapa warga membuat embung air. Sehingga isi dapur sekarang ada kolam-kolam bak terbuka juga. Tapi bukan untuk berenang, melainkan menampung air hujan. Kebutuhan air memang mulai sedikit lebih tercukupi, tapi wabah demam berdarah jadi merebak luas.

Beda dengan di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Air melimpah ruah, bahkan bisa berlebih-lebih bila keran terus dibuka. Tapi repotnya air tidak memenuhi kualitas yang diharapkan. Air berwarna seperti agak merah, dan berasa lengket. Kata orang-orang disana, air rawa gambut memang seperti itu.

Di Halmahera, awalnya orang-orang pedalaman merasa tak pusing untuk mendapatkan air. Sebab air mengalir dari hutan-hutan sejak ratusan tahun lalu. Tapi kini, mereka menyumpah-nyumpah perusahaan pertambangan nikel, yang membuka lahan di hutan pedalaman. Membuat air sungai menjadi keruh dan berwarna coklat. Membuat kulit gatal dan sakit perut bila mengkonsumsinya.

Manajemen pengelolaan air sepertinya memang menjadi kata kunci, untuk masalah air saat ini. Tanpa manajemen yang jelas maka air bisa menjadi masalah besar. Ada yang sangat kekurangan, ada yang berlebihan tapi tak cocok, ada yang banyak tapi terlalu rusak.

“ Ada dua persoalan besar soal air di Indonesia. Pertama adalah buruknya tata kelola air. Kedua, rendahnya partisipasi dan masyarakat untuk melindungi sumber-sumber air baku kita,” urai Firdaus Ali, dari Indonesia Water Institute, Kamis (20/3) kemarin.

Buruknya tata kelola terlihat dari tidak meratanya populasi manusia dan jumlah stok air yang ada. Seperti misalnya di pulau Jawa dengan jumlah penduduk terbanyak, tapi total potensi ketersediaan air sangat minim sekali. Berbeda dengan pulau Kalimantan , Papua dan Sumatera, yang memiliki potensi air besar, namun penduduk masih sangat sedikit.

Jumlah proporsi yang tak seimbang tersebut, juga diperberat dengan kondisi kualitas air yang banyak tercemar.

Dalam laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) 2012 disebutkan hasil pemantauan tahun 2008 – 2012 menunjukkan kualitas air sungai cenderung menurun, terutama di Pulau Jawa dan  Sumatera. Sumber utama pencemar berasal dari

aktivitas domestik, yang terlihat dari parameter organik terutama di Maluku, Sulawesi Tenggara dan Sumatera Utara.

“Kualitas air sungai sebagian  besar  provinsi  memiliki  nilai  kandungan organik  melebihi  baku   mutu. Nilai  organik  tertinggi  terpantau  di  Jawa Barat. Hal ini berkaitan dengan tingkat sanitasi rendah,” ujar Hendry Bastaman, Deputi Menteri Lingkungan Hidup (MenLH) bidang Pembinaan Sarana Teknis Lingkungan dan Peningkatan Kapasitas, pada kesempatan berbeda.

Meskipun begitu,  menurutnya persentase mutu air cemar berat sudah berkurang dari 82  persen pada 2011,  menjadi 75,2 persen pada 2012. Bahkan khusus Pulau Jawa, terlihat ada tendensi menurunnya kualitas air dari perindustrian.

“Sumber pencemar dari pertanian belum bisa diidentifikasi karena monitoring rutin pencemar spesifik sektor ini belum dilakukan,” imbuh Bastaman lagi.

Mengenai kualitas air buruk yang menimpa daerah Jawa Barat, juga diamini organisasi pelestari lingkungan Greenpeace Indonesia . Menurut Greenpeace hal tersebut bisa dibuktikan pada kasus sungai Citarum, yang membelah kota Bandung .

Menurut Ahmad Ashov dari Greenpeace Indonesia , kondisi Citarum saat ini merupakan potret parahnya pengelolaan air permukaan di Indonesia . Saat ini di daerah hulu Citarum, sekitar 500 pabrik berdiri dan hanya sekitar 20 persen saja yang mengolah limbah mereka, sementara sisanya membuang langsung limbah mereka secara tidak bertanggung jawab ke anak sungai Citarum atau ke Citarum secara langsung tanpa pengawasan dan tindakan dari pihak yang berwenang. Maka wajar bila kemudian Greenpeace mengatakan kalau limbah, membuat sungai Citarum menjadi berwarna-warni sekarang.

Mengurangi Beban

Jadi sekarang untuk memanfaatkan air yang masih ada, salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan mengurangi beban. Beban utama yang harus diselesaikan merupakan perbaikan Daerah Aliran Sungai (DAS) mulai dari hulu sampai ke hilir.

Perbaikan DAS tersebut diharapkan bisa mengurangi tingkat luncuran air (run off), yang kini diprediksi makin kencang, karena tak ada pohon untuk menyimpan air.

Tingkat luncuran dan kemampuan menyimpan yang makin kritis ini, disebut berbagai kalangan sebagai air stress. World Resources Institute (WRI) dalam laporan terbaru mereka, Rabu (19/3) ini menyebutkan kalau ada dua sungai di Indonesia yang memiliki tingkat stress tinggi. Kedua sungai tersebut adalah Brantas dan Bengawan Solo.

Cara lain untuk mengurangi beban sungai dijabarkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dengan melakukan pengawasan secara intensif.Pengawasan bisa dilakukan melalui Program Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) dan sistem perizinan telah berhasil menurunkan beban pencemaran lingkungan.

“Selama 2010 – 2012 beban pencemaran air yang bisa diturunkan dari industri mencapai  19.885.997.416 kilogram atau 52,3 persen dari total air limbah organik industri,” papar Bastaman lagi.

Menurutnya, tantangan  terbesar justru mengurangi pencemaran dari rumah tangga, yang baru berhasil menurunkan 139.693.010 kg, atau 5,4 persen dari total beban yang dihasilkan  setiap hari. Termasuk beban pencemaran dari pertanian, seiring makin banyaknya  pemakaian pupuk dan pestisida.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s