Bisakah Menuju Pertambangan Hijau?

Dampak sosial dan lingkungan dari pertambangan, makin diperhatikan sebagai nilai yang tak terganti. Meminimalisasi dampak tersebut dianggap jalan keluar menuju pertambangan berkelanjutan. Sementara negeri yang sudah terlanjur merugi karena dampak tersebut, memilih meninggalkan pertambangan.

Di Indonesia, pertambangan diklaim sebagai biang masalah baru. Utamanya masalah mengenai sosial dan lingkungan yang mengemuka. Di Bima, Nusa Tenggara Timur penduduk sampai terluka karena aksi represif polisi yang menghentikan aksi penolakan terhadap rencana pembukaan pertambangan.

Di Halmahera, pertambangan merusak sungai-sungai penduduk asli. Menjadikannya coklat, dari yang semula jernih. Membuat gatal-gatal kulit yang terkena, dan menimbulkan penyakit perut bila terlanjur meminumnya.

“Dengan tren desentralisasi dan meningkatnya kesadaran publik tentang berbagai isu lingkungan, perusahaan tambang harus berubah dan menaruh perhatian yang lebih besar terhadap isu-isu sosial dan lingkungan,” kata Country Director The Nature Conservancy (TNC) Program Indonesia , Rizal Algamar, Selasa (18/3) kemarin.

Sebab menurut Algamar, perhatian pada isu sosial dan lingkungan, akan membuat dunia pertambangan akan memenuhi konsep keberlanjutan dimasa depan. Tanpa perhatian pada isu tersebut, maka dapat dipastikan sebuah usaha pertambangan akan mengalami kolaps lebih cepat.

Masa Depan Suram

Itu salah satu  pengamatan untuk masalah sosial lingkungan pertambangan. Namun bagi negeri Cina, urusan dampak sosial lingkungan dari hasil pertambangan ini, seperti sudah mencapai kata akhir.

Seperti diketahui, bencana polusi udara terus menggerogoti Cina beberapa tahun terakhir ini. Mencapai puncaknya pada Januari 2013 lalu, ketika kota Beijing memiliki nilai partikulat matter (pm) udara mencapai 886 mikrogram per meter kubik. Melebihi 30 kali dari tingkat aman yang diberlakukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 25 mikrogram per meter kubik.

Maka wajar bila kemudian Cina memberlakukan kebijakan pemangkasan pemakaian batubara, dan mulai mengembangkan energi terbarukan lebih serius.

Khusus untuk energi terbarukan, Cina dikabarkan akan menginvestasikan US$61 milyar

untuk pengembangan energi terbarukan pada tahun 2013. Berarti sekitar seperempat dari total investasi energi terbarukan global, menurut Bloomberg New Energy Finance.

Selain itu sejak 2009, Cina juga telah mulai berinvestasi dalam tenaga surya dalam negeri. Pada Juli 2013, Dewan Negara atau kabinet Cina, mengumumkan target baru untuk meningkatkan kapasitas pembangkit surya menjadi 35 Giga Watt (GW) pada tahun 2015.

Dengan kebijakan tersebut, otomatis Cina juga akan menurunkan jumlah energi yang bersumber dari batubara. Sebab semua sepakat besarnya polusi udara yang terjadi bersumber dari pemakaian batubara yang berlebihan. Tercatat sebanyak  26  provinsi di Cina telah mengeluarkan rencana  aksi polusi udara, sementara 12 provinsi utama memiliki target pengurangan batubara yang jelas pada 2017.

Secara bersamaan, ke-12 provinsi ini merupakan 45 persen dari total konsumsi batubara  Cina. Tetapi yang lebih penting bagi Indonesia , merupakan 62,5 persen dari total impor batubara ke Cina.

“Fakta bahwa ke-12 provinsi Cina, kini berkomitmen pada pengurangan mutlak dalam konsumsi batubara, menimbulkan pertanyaan serius tentang permintaan Cina akan batubara dari Indonesia di masa mendatang,” ujar Arif Fiyanto, Pengkampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, pada kesempatan berbeda.

Penanganan

Direktur Strategi Regional-Infrastruktur TNC Asia Pasifik, Michael Looker menuturkan kalau diperlukan sebuah mekanisme, agar dampak sosial dan lingkungan dari pertambangan bisa diminimalisasi. Salah satunya dengan menjalankan mekanisme Development by Design (DbD), pada dunia pertambangan. Penerapan DbD menurutnya penting untuk memahami keseimbangan sosial-lingkungan, serta praktek berkelanjutan dari industri yang berhubungan dengan sumber daya alam.

“DbD ditujukan untuk membantu industri pertanian, minyak, gas, dan tambang dalam operasinya di tempat dengan keanekaragaman hayati yang tinggi,” kata Looker.

TNC sendiri telah melakukan berbagai percobaan sistem diberbagai negara, untuk mengurangi masalah sosial dan lingkungan pada pertambangan ini. Salahsatu yang berhasil terjadi di Australia . Dimana dengan mekanisme DbD, maka pertambangan batubara di Australia bisa menyelamatkan juga hampir keseluruhan biodiversitas, yang endemik ada disebuah wilayah seperti sebelum dibuka menjadi pertambangan.

Sementara menurut Greenpeace Indonesia , tak ada penanganan yang lebih sesuai untuk pertambangan batubara, selain menghentikan sama sekali. Sebab selain famtor ekonomi yang diperkirakan menurun, tambang batubara juga dianggap meninggalkan jejak kerugian teramat besar.

Menurut catatan Greenpeace Indonesia , pertambangan  batubara di Kalimantan Timur  telah mengakibatkan kerusakan besar pada lahan pertanian, lahan basah, sungai dan hutan. Ketika tutupan vegetasi hancur, tanah tidak lagi menyerap dan mempertahankan  air.

Limpasan  meningkatkan banjir secara dramatis. Sebagian besar pendapatan pemerintah  dari pertambangan hilang, karena pengeluaran yang diperlukan untuk menanggulangi banjir. Terlalu banyak biaya ekonomi bangunan yang hancur akibat banjir, aktivitas perekonomian kota-kota yang terkena dampak menjadi terhenti, dan bahkan korban jiwa.

Greenpeace telah mendokumentasikan beberapa desa di Kalimantan Timur di mana air yang berpotensi terkontaminasi dari tambang batu bara digunakan untuk irigasi, dan para petani melaporkan panen yang menurun dan peningkatan kebutuhan penggunaan kapur.

Di Kalimantan Selatan sebuah studi menunjukan kalau industri batubara ternyata sangat sedikit mempekerjakan orang. Dari studi tersebut diketahui bahwa keseluruhan sektor  pertambangan mempekerjakan hanya dua persen dari angkatan kerja di wilayah tersebut.

Studi tersebut juga menemukan bahwa keuntungan ekonomi dari pertambangan batubara  menggelontor terutama untuk rumah tangga berpendapatan tinggi daripada rumah tangga berpendapatan rendah.

Jadi menurut Greenpeace dalam laporan bertajuk “Bagaimana Pertambangan Batubara Melukai Perekonomian Indonesia ”, mengharapkan adanya upaya cerdas dari pemerintah untuk tidak berlarut-larut dalam masalah ini. Meninggalkan batubara adalah upaya cerdas yang bisa dilakukan. Sebab tak akan ada yang akan menjadi miskin, meskipun batubara ditinggalkan.  Namun banyak yang akan lebih menderita, bila pertambangan batubara terus dilanjutkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s