Menjajal Jeram Jantung Borneo

Jeram Matahari

Jeram Matahari di hulu sungai Kapuas, Kalimantan Barat, Februari 2014.

Awalnya perjalanan ini dimulai dengan kecemasan. Seperti ada yang berbeda dengan kegiatan serupa yang pernah dilakukan sebelumnya. Tidak seperti layaknya sebuah perjalanan ekspedisi dilakukan, kami menjalankan tanpa mengenal satu sama lain.

Meskipun tidak telak seperti orang baru yang tidak saling mengenal, anggota perjalanan ini dikabarkan akan dipenuhi oleh para ekspertis kegiatan alam bebas. Tujuannya jelas, menggali potensi arung jeram sebagai wisata di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Perjalanan dengan misi seperti ini, sebenarnya bukan pertama kali dilakukan disana. Puluhan tahun sebelumnya ada cerita dari Rully, anggota Mapala UI yang pernah melintas jeram Matahari, di hulu Kapuas . Ditambah laporan dari WWF Indonesia yang pernah berniat melakukan penelusuran dan pelatihan bagi penduduk lokal, pada tahun 2007 lalu.

Menuju Hulu Kapuas

Menuju hulu sungai Kapuas, Kalimantan Barat, Februari 2014.

Bahkan Lody Korua dari Arus Liar, yang kali ini juga menjadi peserta, pernah melintasi sungai hulu Kapuas, setelah melalui Mahakam tahun 1993 lalu. Tapi dulu, kata Lody ia tidak menggunakan perahu karet, melainkan dengan perahu kayu milik para penduduk setempat.

“Sekarang banyak yang berbeda,” kata Lody, sembari mengulang kembali memori dikepalanya.

Matanya yang mulai memutih seperti mencari-cari yang dulu ada, disekitar pinggir sungai yang dilintasi, mulai dari kota Putussibau, hingga Nanga Bungan. Panas terik, di tanggal 24 Februari 2014 lalu, pada akhirnya hanya meninggalkan perasaan kecewa, bagi Lody. Sebab terlalu banyak pohon yang hilang, menurutnya.

Untung, tuak-tuak dari pohon nira mampu meredamkan suasana. Membawa kami kembali untuk hanyut dalam petualangan menuju hulu sungai Kapuas . Bersama motoris perahu yang cekatan, memacu irama motor penggerak perahu, melawan arus dan jeram menuju hulu.

Nanga Bungan yang akhirnya menjadi tempat menginap, hanya berupa desa kecil yang terletak diantara pertemuan sungai Bungan dan Kapuas . Notabene isi kampung Nanga Bungan berisi keturunan Dayak Punan Hoovongan. Yang dikenal memiliki kemampuan meramu dan berkebun yang baik. Hanya sayangnya mereka tidak memiliki karakter seperti orang Dayak pada umumnya. Sehingga jangan harapkan ada rumah betang panjang, atau tattoo tradisional disini.

Gaya hidup berbeda sebagai orang Dayak itu juga yang kemudian menjadi polemik, bagi beberapa orang. Salahsatunya Hendricus Mutter, peserta dari Wanadri, sebagai salahsatu ekspertis gunung hutan di Indonesia .

“Seperti ada nuansa Dayak yang hilang,” katanya.

Meskipun malam sebelumnya, kami sudah disuguhi tari tradisional dan hidangan makan malam khas penduduk sekitar.

Jeram Matahari

Baru satu hari setelahnya, setelah menginap dulu di Nanga Bungan, keseluruhan tim berhasil menuju titik target kegiatan. Kali ini target kami adalah jeram Matahari. Merupakan jeram terbesar dan tersulit yang harus dilalui.

Perjalanan menuju jeram Matahari harus ditempuh sampai tiga jam menuju hulu, dari Nanga Bungan. Mengangkat dan menarik perahu melawan jeram yang mulai tampak patah dan berarus keras, sudah bukan menjadi hal asing yang selalu dilakukan. Beramai-ramai kami harus menarik empat perahu kayu, yang didalamnya berisi perahu karet, kayak dan body board khusus untuk sungai.

Kayak di Jeram Delapan

Jeram Pulas di hulu sungai Kapuas, Kalimantan Barat, Februari 2014.

Terkadang harus juga melipir pinggir sungai, karena perahu kayu tak kuat membawa penumpang melawan arus dan jeram. Sesi-sesi melipir sungai dan mengangkat perahu kemudian sekaligus menjadi acara scouting jeram, seperti layaknya sebuah pengarungan sungai dilakukan.

Tercatat ada tiga rentetan jeram yang harus diwaspadai. Ada jeram Matahari, Pulas, dan Delapan. Jeram Matahari yang sekarang ada didepan mata, berisi hujaman arus pada satu lintasan diantara dua batu besar. Resiko besar bila perahu salah lintasan dan menumbuk batu. Bila terkena baru sebelah kanan, akan terjebak dibawahnya. Bila terkena batu sebelah kiri, bisa dipastikan perahu akan terbalik dengan sempurna.

Abo, skipper perahu dari Arus Sakti yang kini beroperasi di sungai Ae Manna, Bengkulu tampak cermat memperhatikan berbagai kemungkinan. Dengan dibantu Komar, akhirnya berdua mereka menjadi pengendali perahu pertama yang akan turun di jeram Matahari.

“ Ada arus balik yang berbahaya sebelum masuk jeram. Arus bisa bikin perahu terlalu mengarah ke kanan,” kata Komar sambil menunjuk batu tajam dibagian kanan jeram.

Kiki Murdyatmoko, Ketua perjalanan ini juga turut menikmati sensasi melintasi jeram Matahari pada kesempatan pertama tersebut. Usai melintas Kiki mengatakan sempat cemas, ketika perahu terasa terlalu miring ke kanan. Mungkin terbayang dikepalanya bila perahu harus terjerembab di bebatuan, kemudian perahu menjadi terjepit dan terus dihempas arus kuat dari belakang. Bisa putus kepala, bila terus tertimpa air sebanyak itu.

Jeram Bawah Nanga Bungan

Jeram setelah kampung Nanga Bungan, Kapuas Hulu.

Untungnya perahu pertama melewati jeram Matahari dengan sukses. Meskipun terlihat keseluruhan perahu dan awak seperti hilang ditelan air, saat berada di titik utama jeram Matahari.

Keberhasilan tersebut menimbulkan kepercayaan diri bagi penduduk lokal untuk turut mencoba. Hingga lima kali percobaan melintas jeram Matahari kemudian dilakukan. Tiap-tiap kali melintas, berisi setidaknya dua orang penduduk lokal, yang diharapkan bisa mengembangkan wisata arung jeram disana pada masa mendatang.

Sawang, salah seorang penduduk yang ikut mencicipi sensasi melintas jeram Matahari mengaku senang dengan pengalaman itu. Sebab menurutnya pada saat dulu ia berhasil lolos dari maut, usai berenang secara tak sengaja di jeram Matahari, ia mulai berpikir untuk tidak bermain-main lagi dengan sungai.

Sayangnya tim perahu kayak dan Body Board memutuskan untuk tidak menuruni jeram Matahari tersebut. Mamal, salah seorang kayaker bilang kalau jeram Matahari terlalu serius untuk dilintasi perahu kayak.

“Kami akan datang lagi dengan tim rescue khusus kayak yang layak,” urai Mamal, usai kegiatan.

Namun terlepas dari keberhasilan dan penundaan tim kayak melintas jeram Matahari, secara umum hulu sungai Kapuas layak dijadikan sebagai area jualan wisata arung jeram. Alam yang masih alami, jeram yang menantang dan penduduk lokal yang bersahabat, diyakini menjadi menu utama trip wisata petualangan disana. Setidaknya itu bisa menjadi usaha yang lebih baik, ketimbang harus menebang pohon dan menghabisi hutan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s