Bencana dari Sungai di Udara

Karena pemanasan global, kuantitas air di udara kini makin besar. Kelebihan air di udara tersebut bahkan mirip aliran sungai. Bila menemui puncaknya akan menurunkan hujan lebat, yang mengakibatkan banjir hebat.

Kota Cockermouth di Inggris tak pernah mengira, bisa terjadi banjir di daerah mereka. Bahkan hingga puluhan tahun sebelumnya, warga Cockermouth tak pernah merasakan banjir datang menerpa.

Hal ihwal keanehan tersebut kemudian disimpulkan sebagai salahsatu dampak dari berlebihnya air di udara. Seperti diketahui sebelumnya daur hidrologi membawa air ke angkasa melalui panas. Ketika kondisi panas bumi makin tinggi, seperti saat sekarang ini, maka proses kondensasi air makin meningkat. Mengakibatkan unsur air berlebih di lapisan atmosfir bumi. Kumpulan air tersebut pada analisis citra satelit terlihat seperti aliran sungai, karena berkumpul pada daerah-daerah pertemuan angin dan berada di lapisan atmosfir bumi. Maka wajar air di udara tersebut kemudian dikenal secara ilmiah sebagai Sungai Atmosfir/Atmospheric River.

Sungai Atmosfir ini yang kemudian dianggap juga sebagai biang keladi banjir di sungai-sungai Rusia, antara tahun 1997-2006 lalu. Selain juga kejadian banjir besar di California pada tahun 1997, yang menyebabkan kerugian hingga US$ 1 milyar.

NOAA (National Oceanic & Atmospheric Administration) dari Amerika Serikat (AS) dalam situsnya menjelaskan kalau sungai atmosfir ini bisa selebar 300 kilometer (km) dan memiliki panjang sampai 2.000 km. Diperkirakan aliran air di udara ini berada secara tak tampak di ketinggian 1 – 2,5 km dari permukaan air laut.

Peneliti sungai atmosfir dari Universitas Iowa , David Lavers pernah memperkirakan kalau pada saat puncak, aliran sungai atmosfir tersebut bisa membawa beban sampai 300.000 ton.

“Bisa dibandingkan dengan sungai Thames yang membelah London, hanya membawa 65 ton air pada periode yang sama,” urai Lavers, melalui jurnal Institute of Physics in Environmental Research Letters, pertengahan 2013 lalu.

Bencana

Dengan kekuatan air sebesar itu, bisa dibayangkan akibatnya bila jatuh pada sebuah lokasi. Seperti teori pada umumnya, air akan menjadi hujan saat partikel hidrogen dan oksigen bergabung menjadi satu. Selain itu diperlukan juga penurunan kelembaban udara, seperti layaknya udara yang turun ke daerah yang lebih lembab.

Pada kasus di Cockermouth, turunnya sungai atmosfir menjadi seperti hujan yang terus turun tanpa henti. Bisa dibayangkan ratusan ribu air jatuh secara berkesinambungan, pada daerah yang bertekanan udara rendah.

Logan Johnson dari NOAA menyatakan kalau bahaya dari sungai atmosfir tergantung dari kapasitas air yang dibawanya. Bila terlalu besar maka bisa mengakibatkan banjir, longsor dan kerusakan.

“Sungai atmosfir itu juga yang mengakibatkan banjir dan badai di California dan pesisir San Fransisco tahun 2012 lalu,” kata Logan.

 Berkah

Kemudian diprediksi dalam waktu dekat ini, bagian California dikabarkan akan mengalami kembali fenomena sungai atmosfir. Namun sekarang, kondisi tersebut justru dianggap sebagai berkah. Sebab saat ini California sedang mengalami musim kering yang mengganggu.

“Untuk merubah musim kering ini, California membutuhkan paling tidak curah hujan setinggi 10 inci, yang diperkirakan akan datang dari sungai atmosfir,” kata Fritz Coleman, pada siaran prakiraan cuaca stasiun televisi NBC4, Jumat (21/2/2014).

Kedatangan sungai atmosfir diperkirakan terjadi pada Kamis (26/2/2014) mendatang. Kemudian disusul kembali satu hari setelahnya, yang diperkirakan akan membawa kebutuhan air bagi warga California yang kekeringan.

Teknologi Baru

Keberadaan sungai di udara ini memang kadang mengganggu. Maka wajar bila kemudian dilakukan banyak investasi untuk mempelajarinya. Termasuk yang dilakukan pendirian Atmospheric River Observatory (ARO) oleh NOAA. Selain juga dilakukan studi untuk mempelajari dampak dari perubahan iklim terhadap sungai atmosfir tersebut, seperti resiko banjir dan cadangan air.

Untuk memahami sungai atmosfir ini juga NOAA telah memasang stasiun cuaca otomatis, bernilai US$ 11 juta. Pada alat itu dipasang radar Doppler yang dapat menerka kedatangan badai.

“Dengan alat ini kami dapat mempelajari angin dengan lebih baik,” kata Martin Raplh, meteorologis dari NOAA.

Dari prediksi terhadap angin tersebut, maka bisa diperkirakan berapa lama sungai atmosfir akan bergerak dan berapa kecepatannya.

Selain dipasang radar, alat itu juga dipasang alat monitor gerakan tanah. Dengan alat tersebut maka potensi longsor bisa diperkirakan kedatangannya, bila dikombinasi dengan jumlah debit air hujan dan tingkat kejenuhan tanah terhadap air.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s