Pengelolaan rehabilitasi mangrove di Indonesia disinyalir salah arah. Mulai dari penanaman kembali, daya hitung ekonomi hijau, hingga cara pandang yang tak akrab kelestarian lingkungan.
Hutan mangrove terus menyusut keberadaannya. Di seluruh dunia diperkirakan 30 – 50 persen mangrove habis dibabat, dalam setengah abad terakhir. Kebanyakan digunakan untuk pembangunan daerah pesisir, perluasan pembangunan tambak dan penebangan berlebihan.
Patut dipahami hutan mangrove atau bakau, memiliki posisi yang penting bagi kehidupan lautan. Mengapa penting? Lantaran mangrove menjadi area pembiakan bagi ikan-ikan kecil dipinggir laut. Bisa dibayangkan kalau mangrove terus menghilang. Maka tak akan ada ikan kecil yang menjadi pasokan makanan, bagi ikan-ikan lainnya. Diperkirakan bila mangrove terus terganggu, maka rantai makanan akan terganggu juga. Secara jangka panjang bisa diperkirakan ikan besar juga akan menghilang, karena tak ada makanan bagi mereka. Ujung-ujungnya manusia yang akan menderita, karena pasokan makanan akan makin berkurang.
Rehabilitasi Gagal
Kesadaran terhadap pelestarian bakau sebenarnya sudah dipahami banyak orang. Namun sayangnya banyak pohon mangrove yang ditanam kembali sebenarnya tak cocok dengan ekosistem sekitar. Terbukti dari kasus penanaman mangrove di Bali , yang dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pesepakbola Christian Ronaldo, beberapa waktu lalu.
“ Ada kesalahan saat memahami lokasi penanaman bakau di Bali . Sekarang pohon bakau yang ditanam SBY dan Ronaldo mati semua,” urai Benjamin Brown dari Mangrove Action Project Indonesia , Rabu (19/2).
Kematian mangrove tersebut disinyalir terjadi karena tak sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar penanaman. Menurut Brown, harus dipahami pesisir yang tak memiliki mangrove, bisa jadi bermasalah dari faktor pendukung lingkungannya.
“Seperti air laut yang terus mengabrasi, arus pasang surut yang berbeda. Seharusnya persoalan seperti itu dulu yang diselesaikan, merestorasi mangrove sebenarnya mudah,” kata Brown.
Menurut data Cifor, penanaman mangrove kembali banyak yang tak diikuti varian mangrove yang berbeda. Dari 54 varian spesies mangrove yang ada di Indonesia saat ini, masih ada 34 varian spesies yang ada. Jadi bisa disimpulkan kalau jenis spesies mangrove yang ada di Indonesia sebenarnya masih beragam. Naun sayangnya ada beberapa lokasi, khususnya yang ditanami kembali, hanya memiliki jenis mangrove yang dominan sejenis.
Ekonomi Hijau
Salahsatu potensi mangrove di Indonesia yang hingga kini belum diketahui, merupakan besaran daya serap terhadap karbondioksida penyebab perubahan iklim. Padahal mangrove diketahui memiliki kapasitas besar dalam menyerap karbondioksida.
“70 persen bagian dari pohon mangrove menyerap karbondioksida, bahkan lebih besar dari kemampuan hutan tropis dalam menyerap karbondioksida,” kata Daniel Murdiyarso dari Center for International Forestry Research (Pusat Penelitian Kehutanan Internasional/Cifor), Rabu (19/2).
Dalam konteks ekonomi hijau, kemampuan mangrove dalam menyerap karbondioksida tersebut jelas menguntungkan. Mengingat banyak pihak yang tertarik program pendanaan pengembalian kualitas lingkungan, melalui fungsi penyerapan tumbuhan terhadap karbondioksida. Salahsatu bukti pendanaan tersebut merupakan kerjasama pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (Reducing Emission from forest Deforestation and Degradation/REDD). Indonesia sendiri paling tidak mendapatkan dana sebesar US$ 1 Milyar dari Norwegia, untuk menjalankan program tersebut.
Selain dari penyerapan karbon, nilai ekonomi hijau juga bisa didapatkan dari perbaikan sistem pertambakan pinggir laut di Indonesia . Seperti diungkapkan Coco Kokarkin Soetrisno dari Direktorat Jenderal Perlindungan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Dulu menurut Coco , banyak petambak yang tak peduli lingkungan pesisir saat membuka lahan. Hampir semua biodiversitas wilayah pesisir hampir habis dibabat dan hilang.
“Padahal tambak yang baik seharusnya ada mangrove disekitarnya,” kata Coco .
Sebab mangrove tersebut akan menyediakan pakan alami bagi satwa yang dipelihara di tambak. Selain juga menghindari penyakit yang bersumber dari lingkungan.
Sementara mengenai peningkatan produksi tambak, bisa dicapai melalui intensifikasi. Sehingga dengan tambak kecil, bisa mencapai jumlah produksi yang bahkan lebih besar dari tambak besar sekalipun.


