Pelaku Kebakaran Hutan Jangan Lolos dari Jerat Hukum

Mafia peradilan dalam kasus lanjutan sidang kebakaran hutan diperkirakan kembali akan terjadi, bila masyarakat tidak mengikuti dan mencermati. ”Tanpa public terlibat memantau kasus tersebut potensi mafia peradilan terbuka lebar,” kata Muslim Rasyid, Koordinator Jikahalari, Selasa (11/2/2014).

Ia memberikan contoh kasus PT Adei Plantation (PTAP)yang tiap tahun kerap melakukan pembakaran hutan, namun selalu lolos dari jeratan hukum. Menurut uraian Muslim, pada tahun 2003 lalu PTAP pernah dinyatakan bersalah oleh pengadilan Negeri Bangkinang. Pada amar keputusannya pengadilan menetapkan manajer PT AP Mr Goby dipenjara 4 tahun. “Tetapi hingga kini Mr Goby tidak pernah masuk penjara dan malah lari ke Malaysia ,” ujar Muslim.

Dan sampai sekarang PTAP masih beroperasi, bahkan tahun tahun selanjutnya masih membakar lahan sampai akhir 2013.

Sekarang pihak kepolisian telah menetapkan Danesuvran KR Singam dan PTAP yang diwakili Tan Kei Yoong (Direktur) sebagai tersangka pembakar lahan di Riau tahun 2013 lalu. Sejak Januari 2014, dua terdakwa tersebut sedang diperiksa oleh hakim di PN Pelalawan. Sekarang sudah memasuki sidang keenam dengan agenda lanjutan pemeriksaan saksi,” papar Muslim.

Sementara itu Eksekutif Daerah Walhi Riau, Riko Kurniaawan menyatakan PTAP, merupakan pemain lama dan terus menerus melakukan pembakaran lahan di konsesi mereka setiap tahun di Propinsi Riau. “Selain juga perusahaan ini merusak lahan gambut dan masih meninggalkan konflik dengan masyarakat sekitar,” kata Riko.

PTAP diketahui memiliki Hak Guna Usaha (HGU) di Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Pelalawan. Khusus di Kabupaten Pelalawan, seluas 12.860 hektare (ha).

“Kini kita menunggu putusan atas kasus terdakwa PT AP. Kita berharap hakim di Pengadilan Negeri Pelalawan benar-benar berpihak pada lingkungan hidup,” kata Muslim Rasyid.

Tahun 2013 lalu, Menteri Lingkungan Hidup (MenLH) Balthazar Kambuaya menyatakan ada delapan perusahaan yang melakukan pembakaran lahan di Indonesia. Kedelapan perusahaan tersebut disinyalir justru berasal dari luar Indonesia , seperti Malaysia dan Singapura.

Terkait dengan hal itu Jikalahari dan Walhi Riau juga mendesak Presiden RI Susilo B Yudhoyono untuk menarik ucapan maaf yang sempat dilakukan tahun lalu, karena asap yang kebakaran yang menyerang Singapura dan Malaysia . Menurut mereka permohonan maaf tersebut merupakan penghinaan bagi lingkungan hidup di Indonesia , karena faktanya perusahaan Malaysia dan Singapura yang melakukan aksi pembakaran hutan di Riau, dan menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s