Gunung Api Tidak Tiba-Tiba Meletus

Masyarakat diharapkan tidak terpancing isu kondisi gunung berapi yang tiba-tiba meletus. Ada tahapan yang harus dilalui, hingga gunung api masuk status berbahaya jika meletus.

“Gunungapi bersifat slow in set. Artinya tidak akan tiba-tiba meletus. Ada tanda-tandanya sehingga status gunung punya tahapan yaitu dari normal kemudian menjadi waspada, siaga, dan awas sesuai ancamannya,” urai Sutopo P Nugroho, Kepala Bidang Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa (4/1/2014).

Oleh karena itu, Sutopo amat menyesalkan bila ada pihak-pihak yang menyebarkan isu akan terjadinya letusan gunung secara tiba-tiba, tanpa diketahui prosesnya, seperti di gunung Kelud baru-baru ini.

Informasi terakhir terjadi peningkatan jumlah Gempa Vulkanik Dangkal (VB) di gunung Kelud, Jawa Timur. Peningkatan cukup signfikan dimulai pada tangggal 15 dan 16 Januari 2014, yaitu jumlah 22 dan 24 kali kejadian. Peningkatan jumlah Gempa Vulkanik Dangkal (VB) cenderung terus naik namun berfluktuatif seperti pada pada tanggal 28 Januari 2014 mencapai 33 kali kejadian, dan tanggal 2 Februari 2014 hinggap pukul 11:00 WIB mencapai 68 kali kejadian.

Sementara jumlah Gempa Vulkanik Dalam (VA) cenderung terus naik namun berfluktuatif. Seperti sejak tanggal 27 Januari 2014, yaitu mencapai 23 kejadian pada tanggal 30 Januari 2014, dan 14 kejadian pada 2 Februari 2014.  Penentuan lokasi sumber gempa-gempa vulkanik berada pada sekitar tubuh G. Kelud dengan kedalaman 2-8 kilometer (km).

Suhu air di kawah gunung Kelud juga dikabarkan meningkat, dari sejak 10 September 2013 sampai 2 Februari 2014. Suhu air panas menunjukkan peningkatan sebesar 5,5 derajat celcius.

Surono, Staf ahli Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral pada hari yang sama menyatakan kalau status gunung api merupakan hak masyarakat untuk mengetahui, untuk mengantisipasi. “Namun status gunung bukan prediksi atau ramalan sebuah gunung pasti akan meletus,” tutur Surono.

Peningkatan status juga bermacam-macam. Mulai dari waspada hingga awas. Kalau waspada berarti ada ancaman bahaya, biasanya warga sekitar gunung api tidak boleh masuk sampai radius 2 km di sekitar kawah gunung.

“Sementara status awas, tergantung radius bahaya. Kasus di Merapi radius bahaya mencapai 10 km, tapi Sinabung hanya mencapai 5 km,” kata Surono.

Hingga saat ini menurut Surono sulit diprediksi kapan letusan gunung Sinabung akan berhenti. Namun menurutnya sudah terdapat penurunan jumlah letusan, hingga hanya 69 kali letusan dari semula hingga ratusan kali per hari.

“Namun meskipun jumlah letusan menurun, tapi intensitas letusan masih tinggi,” kata Surono.

Sehingga menurutnya pihak berwenang tidak akan menurunkan status dalam waktu cepat ini, mengingat intensitas letusan yang masih tinggi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s