Tradisionalisme yang Tertinggal di Mentawai

Pulau Mentawai di barat Sumatera masih meninggalkan jejak tradisionalisme. Sadar atau tak sadar, jejak-jejak tersebut terbukti nyata, bahkan dalam kehidupan keseharian mereka. Bilamana kemudian jejak itu makin pudar, pada siapa kemudian kita meminta pertanggungjawaban?

Sore hari di pesisir desa Salugima, Mentawai. (dok.sulung prasetyo)

Sore hari di pesisir desa Salugima, Mentawai. (dok.sulung prasetyo)

Seorang penduduk Tua Peijat-Sipora, Mentawai sedang membuat kapal tradisional. (dok.sulung prasetyo)

Seorang penduduk Tua Peijat-Sipora, Mentawai sedang membuat kapal tradisional. (dok.sulung prasetyo)

Karapas penyu menjadi hiasan rumah di desa Tua Peijat, Sipora, Mentawai. (dok.sulung prasetyo)

Karapas penyu menjadi hiasan rumah di desa Tua Peijat, Sipora, Mentawai. (dok.sulung prasetyo)

Rumah adat di desa Sagulima yang mulai ditinggalkan. (dok.sulung prasetyo)

Rumah adat di desa Sagulima yang mulai ditinggalkan. (dok.sulung prasetyo)

Jalan desa di pedalaman desa Tua Peijat, Sipora, Mentawai. (dok.sulung prasetyo)

Jalan desa di pedalaman desa Tua Peijat, Sipora, Mentawai. (dok.sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s