Pengambilan Air Tanah Tak Terkontrol

Ekstraksi air tanah sebagai salahsatu penyebab banjir, diperparah dengan tak adanya kontrol pengawasan yang ketat dari pemerintah. Jika terus didiamkan Jakarta akan menjadi kolam raksasa penuh genangan air. Demikian diungkapkan beberapa pengamat, dalam diskusi multi pihak mengenai Banjir Jakarta dan Ekstraksi Air Tanah Berlebihan, di Jakarta, Rabu (29/1/2014).

“Sebanyak 92,13 persen pemakai air tanah di Ibukota saat ini tak terdaftar dalam list pemerintah,” papar Siti Badriyah dari Amrta Institute.

Sementara sisa prosentase yang terdaftar, hanya sekitar 50 persen yang dapat dikategorikan memiliki data akurat mengenai pemakai air tanah. Celakanya diperkirakan dari daftar pemakai air tanah yang terdaftar akurat, 80 persen diantaranya menggunakan jenis air tanah dalam lebih dari 40 meter.

Minimnya kontrol pada pemakai air tanah tersebut, jelas teramat merugikan. Mengingat asumsi yang ada saat ini, banjir terjadi lantaran makin rendahnya permukaan tanah Jakarta , akibat terus hilang air tanahnya.

Firdaus Ali dari pakar teknik lingkungan dari Universitas Indonesia (UI), pada kesempatan yang sama menyatakan ada empat faktor yang menyebabkan permukaan tanah menurun. Keempat faktor tersebut merupakan unsur tanah yang memadat, beban bangunan, daya tektonis gempa dan ekstraksi air tanah.

“Dari keempat faktor tersebut, hanya faktor ekstraksi air tanah yang bisa dikendalikan,” ungkap Firdaus.

Tapi celakanya, jumlah air tanah yang diambil, jauh diatas kemampuan tanah meresap air. Hal itu yang kemudian menyebabkan tanah di Jakarta terus menurun. Tercatat menurut Firdaus, hingga 2013 ini ada 4.406 sumur penyerap air tanah di Jakarta . Nilai tersebut meningkat bila dibandingkan pada tahun 2007, yang hanya ada 3.788 titik sumur.

“Hal itu yang kemudian menyebabkan tanah di Jakarta menurun hingga 10 milimeter pertahun,” imbuh Firdaus.

Penurunan muka tanah, bila terus didiamkan bisa membuat Jakarta tenggelam. Apalagi ditambah dengan fenomena kenaikan muka air laut, yang kini ditengarai bisa mencapai 6 milimeter (mm) per tahun.

“Tahun 2025 aka nada perbedaan tinggi sebanyak 2,2 meter. Jika itu benar terjadi, maka kawasan Harmoni pada tahun tersebut akan menjadi pinggir laut,” tutur Firdaus lagi.

Semakin jauh, pada tahun 2050 penurunan muka air tanah akan makin parah. Mengingat ada tambahan jumlah penduduk. Sehingga pada tahun 2050, pinggir laut akan bergeser ke kawasan Semanggi dan sebagian besar cungkup Monas akan tertutup air.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s