Kelestarian Alam Melalui Sertifikasi Udang Disangsikan Berhasil

Melihat kebanyakan petambak udang di Indonesia masih berupa industri kecil, program pelestarian alam melalui sertifikasi udang, kini disangsikan efektifitasnya akan berhasil dilapangan.

“Penerapan sertifikasi internasional terhadap proses produksi udang agaknya hanya relevan atau dapat dicapai atau dipenuhi oleh petambak skala besar,” ungkap Nyoman Suryadiputra, Direktur Wetlands International Indonesia Program (WIIP), Senin (27/1/2014).

Hal tersebut mengingat tingginya biaya yang harus ditanggung. Biaya termasuk pengelolaan limbah dan pencatatan berbagai bahan-bahan kimia, pakan dan pupuk yang digunakan, termasuk pelaksanaan studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

Sementara sebagian besar petambak Indonesia adalah petambak kecil atau tradisional. Dimana mereka hanya memiliki modal terbatas dan dengan skala usaha relatif sangat kecil, dan mengalami kesulitan bila harus mengeluarkan biaya lingkungan tersebut.

“Perlu suatu langkah inovatif dari berbagai pihak untuk menjembatani kesenjangan pencapaian standar tersebut,” tambah Nyoman.

Sebelumnya WWF Indonesia mencoba melakukan program praktik pengelolaan ramah lingkungan atau Better Management Practice (BMP) Budidaya Udang Windu Tanpa Pakan dan Tanpa Aerasi. Program tersebut dipraktekan pada petani udang windu di Tarakan, Kalimantan Timur.

Chandika Yusuf, Koordinator Perikanan Budidaya di Program Kelautan WWF- Indonesia , menjelaskan, “Dalam waktu enam bulan, tambak percontohan ini diharapkan memberi hasil udang yang bisa dikategorikan mendekati ramah lingkungan dan bertanggungjawab,” paparnya.

Praktek tersebut diharapkan kemudian akan bisa diadopsi oleh kalangan petambak tradisional atau industri kecil. Mengingat praktek yang dilakukan sangat mudah diterapkan oleh kalangan tersebut, dan tidak membutuhkan biaya besar.

Praktek yang dilakukan mencakup restorasi tambak yang sesuai dengan memperhatikan kelestarian lingkungan sekitar, seperti mangrove. Pada akhirnya kelestarian alam tersebut justru akan menyehatkan kondisi tambak, dan emngurangi biaya pakan serta komposisi air.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Aliansi Desa Sejahtera (ADS) tahun 2007 lalu, luas pengusahaan tambak di Indonesia berbanding terbalik dengan jumlah pemilik. Kepemilikan tambak skala kecil yaitu petambak yang memiliki lahan kurang dari 2 hektar sebanyak 97.505 rumah tangga, 2 hingga 5 hektar sebanyak 65.680 rumah tangga, 5 hingga 10 hektar sebanyak 41.402 rumah tangga. Sementara untuk lahan seluas lebih dari 10 hektar sebanyak 26.064 rumah tangga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s