Tanpa Konservasi Industri Kelautan Bisa Kolaps

Sektor kelautan memiliki potensi besar diberdayakan, namun tanpa memperhatikan isu kelestarian alam, maka industri yang berbasis sumber daya alam tak bisa langgeng dalam operasinya. Demikian salah satu kesimpulan yang didapat pada diskusi yang digelar The Nature Conservancy (TNC), Rabu (8/1/2013) di Jakarta.

“Yang diperlukan bukan hanya menghitung stok, serta supply dan demand saja. Tanpa program konservasi yang jelas maka bisa saja industri kelautan akan mengalami kolaps,” demikian diungkapkan Jack Hurd, Deputi Regional Managing Director TNC Asia Pasific Region.

Program konservasi alam yang ada juga seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan lokal, dan tidak mengurangi tingkat partisipasi masyarakat, terutama masyarakat hukum adat setempat.

“Masyarakat asli harus diberikan porsi yang mencakup lokasi strategis untuk keberlangsungan hidup sumberdaya tersebut. Mereka juga harus diberikan kepercayaan untuk menjaga dan tidak merusaknya,” papar Jack.

Dengan situasi yang saling harmonis dan mendukung, maka diharapkan banyak sumberdaya alam bisa dijaga keberlangsungannya, sehingga lebih banyak orang yang dapat menikmati dampaknya.

Sementara untuk penerimaan produksi kelautan dimata konsumen, menurut Jack harus dilakukan upaya standarisasi untuk produk kelautan itu sendiri. Sebab tanpa adanya standarisasi maka bisa saja konsumen menolak, dan menganggap sumber-sumber produksi berasal dari upaya yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan.

Menurutnya banyak pelajaran yang bisa dipetik pada industri kayu atau kelapa sawit, yang bisa diambil pelajaran untuk bidang kelautan. Adanya paradigma negatif mengenai sumber produksi, bisa menyebabkan penolakan dari konsumen.

Firdaus Agung dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pada kesempatan serupa menyatakan saat ini setidaknya ada 50 daerah konservasi yang diurus oleh instansinya. Daerah konservasi tersebut tersebar diberbagai wilayah Indonesia. Kini program konservasi juga dipegang oleh pemerintah daerah setempat, sebagai bentuk kerjasama untuk menjaga masa depan sumber daya tersebut.

“Saat ini selain mendata dan menjaga daerah konservasi laut. Kami juga mulai melakukan pendataan terhadap berbagai jenis sumber daya alam kelautan yang layak komoditas industri,” ujarnya.

Dengan adanya pendataan tersebut, maka kedepannya bisa dijadikan dasar untuk proses produksi industri yang diharapkan. Dengan cara itu maka niat untuk mensejahterakan rakyat Indonesia bisa tercapai.

Sebelumnya Direktur Center for Oceanography and Marine Technology Universitas Surya, Alan Koropitan menyatakan permintaan dunia akan produk kelautan terus meningkat. Dari yang semula sebanyak 133 juta ton pada tahun 1999-2001, menjadi 183 juta ton pada tahun 2015 nanti. Potensi kenaikan ini menurut Alan, merupakan peluang yang harus dimanfaatkan.

Namun sayangnya Indonesia sebagai negara maritim terbesar tidak memanfaatkan potensi itu dengan baik. “Orientasi itu justru masih fokus pada produksi, belum memperhatikan kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir sebagai ujung tombak mata rantai industri perikanan,” papar Alan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s