Pemerintah Tak Serius Urus Longsor

Meskipun ancaman bencana tanah longsor lebih sering terjadi, daripada gempa bumi dan tsunami, namun pemerintah dianggap masih tak serius dalam membangun sistem peringatan dini sebagai upaya pencegahan.

“Tidak seperti gempabumi dan tsunami, tanah longsor mungkin masih dianggap bahaya yang hanya menimbulkan korban jiwa yang kecil pada wilayah tertentu saja. Padahal ancaman tanah longsor lebih sering terjadi setiap tahunnya dibandingkan gempabumi besar dan tsunami,” urai Adrin Tohari, peneliti gerakan tanah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jumat (27/12/2013).

Sayangnya pemerintah sekarang seperti tak serius dalam mengembangkan teknologi pencegahan bahaya longsor. Padahal teknologi peringatan dini tanah longsor, sudah banyak dihasilkan oleh beberapa lembaga penelitian di Indonesia.

Hingga saat ini pemerintah pusat dan daerah masih menggunakan prediksi curah hujan untuk menghasilkan peta prediksi daerah rentan tanah longsor. Salah satu kekurangan dalam informasi itu adalah, belum dapat mengetahui secara pasti kapan tanah longsor akan terjadi. Sistem peringatan dini perlu memberikan suatu informasi awal yang pasti tentang dimana dan waktu kejadian tanah longsor tersebut.

“Untuk itu, maka pemerintah pusat dan daerah sudah seharusnya menggunakan teknologi real-time yang lebih baik untuk memantau perubahan kondisi kadar air/ tekanan air tanah dalam lereng untuk memprediksi tanah longsor,” papar Adrin.

Teknologi yang bisa digunakan alat takar hujan, alat pengukur kadar air dan tekanan air dalam lereng, ekstensometer. Penggunaan alat tersebut juga disesuaikan dengan tipe tanah longsor. Alat ukur kadar air dan curah hujan digunakan untuk memberikan peringatan dini terhadap bahaya tanah longsor tipe luncuran. Sedang alat ukur tekanan air tanah, ekstensometer dan curah hujan digunakan untuk peringatan dini bahaya tanah longsor jenis rayapan. Selain itu, upaya untuk memantau perubahan curah hujan dan kondisi kadar air dan tekanan air dalam lereng juga perlu didukung dengan sistem yang memadai.

“Sayangnya pemerintah belum memberikan prioritas pada pembangunan infrastruktur untuk membangun sistem peringatan dini yang berbasis teknologi pemantauan real-time,” tambah Adrin .

Sementara itu pada situs Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dijelaskan kalau hampir setiap tahun daerah Banjarnegara, Jawa Tengah terjadi longsor. Untuk antisipasi longsor Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo, telah menetapkan siaga darurat bencana longsor, banjir dan puting beliung. Hujan yang deras, tingginya kerentanan, dan batuan yang labil telah menyebabkan longsor pada 19-24 Desember 2013, di 60 titik di 32 desa di 13 kecamatan. Akibatnya 32 rumah rusak berat, 21 rusak sedang, 56 rusak ringan, 135 rumah terancam dan 46 KK mengungsi.

Pengungsi tersebar di lima desa. Satu orang meninggal dunia. Kerusakan infrastruktur di 23 titik meliputi jalan, jembatan, sekolah, dan irigasi. Kerusakan mencapai Rp 1,4 milyar. Upaya yang dilakukan BPBD bersama TNI, Polri, relawan dan masyarakat adalah evakuasi, pendirian posko, pengiriman logistik, pembersihan material longsor. Bupati menetapkan masa tanggap darurat longsor 21-12-2013 hingga 3-1-2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s