Ambiguitas Hasil Tanam Pohon Indonesia

Hasil menanam pohon di Indonesia sebenarnya masih mengandung nilai ambigu, atau bermakna ganda. Satu pihak bilang penanaman berhasil, bernilai tinggi dan bermanfaat. Pihak lain malah seperti tidak tahu menahu masa depan program menanam tersebut.

Bali terkenal dengan keindahan alam tiada tara. Gunung menjulang tinggi, serta hamparan pasir putih dan berkerikil. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.

Di kaki bagian tenggara dan timur gunung Agung, Bali kebanyakan tanah tergambar tandus. Tanah terlihat kering, dengan rumput kecil berwarna coklat. Beberapa pohon kaktus malah hidup subur, dibawah pohon-pohon tak terlalu besar dengan ranting sedikit berdaun.

Ada satu area, tepatnya di Desa Datah, Karangasem banyak tanah terlihat gundul. Hawa panas kadang menerpa, diselingi hujan kecil turun. Wajar bila penduduk disana mengeluhkan persediaan air yang sedikit. Mereka hanya mengandalkan mata-mata air dan hujan, untuk keperluan sehari-hari.

Menurut data dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut), di wilayah Kabupaten Karangasem, Bali terdapat lahan kritis seluas 47.631 hektare (ha), atau 57 persen dari luas wilayah kabupaten.

Maka wajar bila Senin (25/11/2013) kemarin, dilakukan puncak Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI), di desa Datah tersebut. Diperkirakan 3.000 orang hadir dalam acara tersebut, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, istri, anak dan menantunya.

Presiden kali ini dikabarkan akan menanam pohon Kalpataru. Terkenal sebagai pohon kehidupan dengan tumbuhan tinggi menjulang. Beberapa pohon lain juga ditanam, seperti Meranti, Tembesu dan Kelapa. Khusus untuk pohon Kelapa ini Menteri Kehutanan (Menhut), Zulkifli Hasan bilang kalau Desa Datah merupakan daerah pesisir pantai.

Jadi cocok untuk pengembangan jenis kelapa, yang bisa membantu meningkatkan perekonomian masyarakat,” katanya.

Menhut juga menguraikan kalau selama 4 tahun terakhir sejak 2010, realisasi penanaman pohon melalui Gerakan Penanaman Satu Milyar Pohon terus meningkat, yaitu 1,3 milyar pohon pada tahun 2010. Bertambah menjadi 1,5 milyar pohon tahun 2011. Kemudian 1,6 milyar pada tahun 2012, dan sampai dengan akhir Oktober 2013, telah tertanam sebanyak1,14 milyar pohon. Jadi sudah melebihi target sebesar 114 persen dari yang ditetapkan.

Selebihnya Menhut menyatakan kalau Kementerian Kehutanan memberikan kewenangan legalitas kayu rakyat kepada Lurah atau Kepala Desa, untuk menerbitkan Surat Keterangan Asal Usul Kayu rakyat seperti sengon, jabon, suren dan lain-lain. Sedangkan untuk jenis kayu yang umum diperdagangkan cukup menggunakan Nota Penjualan.

Dampak dari kebijakan ini adalah berkembangnya industri kayu berbasis kayu rakyat, sebanyak 367 unit industri perkayuan dengan kapasitas produksi 67,74 juta m3 per-tahun. Jauh melebihi produksi industri yang berbasis hutan alam pada masa 20-30 tahun yang lalu. Dengan demikian, usaha kayu rakyat telah meningkatkan income keluarga, menciptakan lapangan kerja dan menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), kesimpulan Menhut.

Beda Pendapat

Tapi kenyataan dilapangan seperti masih berbeda dengan harapan. Seperti penduduk di Desa Datah yang sempat diwawancarai. Wayan Mada, mengaku sebagai menantu dari pemilik tanah yang akan ditanami di Bali tersebut.

Saat ditemui dirumahnya, Minggu (24/11/2013) ia baru saja selesai makan. Rumahnya tak jauh dari panggung utama, dan tonggak-tonggak bambu penopang pohon yang baru ditanam. Dengan gamblang ia menjelaskan kalau ada 2.100 pohon yang sekarang akan ditanam. Seribu pohon berjenis Kelapa, dan sisanya sebanyak 1.100 pohon terdiri dari berbagai macam jenis.

Namun sayangnya ia masih tak mengerti bagaimana urusan penanaman itu dimasa depan. Seperti urusan perawatan, termasuk biaya didalamnya, serta bagi hasil setelahnya. Menurutnya juga ia merasa pesimis, bila kayu-kayu yang ditanam tersebut akan hidup bertahan lama. Sebab bertahun-tahun ia hidup disana, tak ada jenis kayu besar yang mampu hidup, karena keringnya air.

 “Saya hanya rakyat kecil, sulit juga menolak keinginan banjar untuk memakai tanah itu sebagai daerah penanaman,” kata Wayan, sambil mengangkat bahu dan kembali sibuk dengan ayam aduannya. 

One response to “Ambiguitas Hasil Tanam Pohon Indonesia

  1. Penjelasan yang menarik gan 🙂 bermanfaat bgt, visit ya http://www.ipb.ac.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s