Perhutani Dituding Rusak Gunung Lemongan

Perhutani diklaim telah melakukan tindakan perusakan hutan konservasi di Gunung Lemongan, Jawa Timur. Perusakan tersebut mencakup 300 hektare (ha) tanaman konservasi di sana.

A’ak Abdullah, juru bicara Laskar Hijau menyatakan laan yang dirusak merupakan daerah konservasi mereka. “Perhutani dengan membabi buta menebangi tanaman akasia yang ada di lereng Gunung Lemongan tanpa mempedulikan tanaman konservasi yang ada di sekitarnya,” ujar Aak, akhir minggu lalu.

Aak menambahkan bahkan dengan sengaja ada yang ditebas, atau kerobohan pohon akasia yang ditebang bahkan tak cukup dengan itu mereka masih membakar kawasan tersebut yang jelas-jelas sangat rawan terjadi kebakaran hutan seperti tahun 2011 yang menghanguskan sekitar 300 hektar tanaman konservasi di Gunung Lemongan.

Sekedar untuk diketahui bersama, bahwa sejak terjadi penebangan liar pada kisaran tahun 1998 – 2002, kawasan hutan lindung di Gunung Lemongan luluh lantak. Akibat dari perusakan hutan ini 13 ranu / danau yang ada di sekitar Gunung Lemongan mengalami penurunan debit air yang sangat signifikan. Bahkan Ranu Kembar yang ada di Desa Salak, Kecamatan Randuagung kering total. Kondisi ini selanjutnya menjadi penyebab utama terjadinya krisis air bersih di kawasan Lumajang utara khususnya saat musim kemarau seperti saat ini.

Menurut Aak, Perhutani tak pernah sedikitpun membantu upaya pelestarian ini meskipun sebenarnya ini merupakan tanggung jawab sosialnya. Tapi bukannya membantu ikut menjaga dan melestarikan, Perhutani malah menjadi perusak terdepan kelestarian hutan di Gunung Lemongan.

Sementara itu, pihak Perhutani melalui kantor berita Antara, membantah tudingan melakukan perusakan hutan di kawasan konservasi Gunung Lemongan, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

“Kami melakukan penebangan pohon akasia di kawasan hutan produksi milik Perhutani dan sudah sesuai prosedur,” kata Asisten Perhutani (Asper) Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Wilayah Klakah-Lumajang, Wargono, saat dihubungi via telepon dari Lumajang, Sabtu.

Menurut dia, pohon akasia yang tumbuh di kawasan hutan produksi lereng Gunung Lemongan tersebut ditanam sejak tahun 2002 dan sudah waktunya masa tebang, sehingga petugas melakukan penebangan di areal yang sudah ditentukan.

“Sebelum melakukan penebangan, pihak Perhutani juga melakukan sosialisasi bersama muspika dan kepala desa setempat kepada warga yang menanam secara liar di sela-sela pohon akasia itu,” tuturnya.

Dalam sosialisasi tersebut, lanjut dia, warga tidak keberatan karena penebangan pohon akasia tidak merusak tanaman yang ditanam mereka seperti jambu biji, mangga, alpukat, kayu manis, kopi, nangka, sukun, dan lain-lain.

“Warga sebenarnya menanam tanaman itu secara liar di kawasan hutan produksi karena tidak memberitahu pihak Perhutani, namun kami tidak mempermasalahkan hal tersebut karena tujuannya baik,” katanya.

Wargono juga membantah tudingan LSM Laskar Hijau yang menyatakan pihak Perhutani melakukan perusakan tanaman konservasi yang selama ini ditanam oleh Laskar Hijau di Gunung Lemongan.

“Petugas hanya melakukan penebangan di areal yang sudah ditentukan dan pohon akasia tersebut ditanam oleh pihak Perhutani yang berada di kawasan hutan produksi, sehingga tidak menebang pohon yang ditanam pihak LSM Laskar Hijau,” paparnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s