Blusukan ke Bawah Laut

170913slg_Shotgun

doc. sulung prasetyo
Seorang penyelam sedang menyusuri pasir putih di dalam laut pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (13/9/2013).

Tren pejabat sekarang sering melakukan blusukan didaratan. Menteri Kehutanan (Menhut), Zulkifli Hasan justru blusukan dibawah laut. Apa rasanya bila ia harus merasakan terhempas di arus kuat Kepulauan Komodo?

Jumat (13/9/2013) langit di Taman Nasional Komodo (TNK) berwarna biru terang. Disekitar kami terlihat pulau-pulau kecil, dengan warna coklat mendominasi. Tepat di depan sebuah celah antara dua pulau, kapal memutuskan berhenti. Arus permukaan laut terlihat mengalir kuat, diantara celah pulau tersebut. Membentuk buih-buih seperti air yang menggelegak kepanasan.

Badak Laut, kapal milik Kementerian Kehutanan (Kemenhut) tampak menghampiri. Termasuk didalamnya Menhut, yang sudah tiba dari satu hari sebelumnya. Kali ini Menhut menepati janji untuk blusukan bersama, melihat kondisi bawah laut, di daerah penyelaman bernama Shotgun.

Selain memiliki alam yang cantik, Shotgun dikenal sebagai daerah dengan hempasan arus yang kuat. Terletak diarah timur laut pulau Komodo. Terjepit diantara pulau Gili Rawa Laut dan Gili Rawa Darat. Jadi perlu kemampuan khusus menyelam, bila ingin merasakan sensasi arus kuat dibawahnya.

Kami segera menyelam, saat seluruh perlengkapan siap dipakai. Gaya negatif, langsung menyelam dengan sistem backroll dari perahu dilakukan. Alasannya agar tak terlalu lama terseret arus dipermukaan. Penyelaman terus dilakukan hingga kedalaman sepuluh meter. Terlihat kondisi landai hingga pandangan mencapai lima belas meter. Menhut menyelam ditemani dengan dua orang, disisi kiri dan kanan.

Hingga limabelas meter ke arah timur, kondisi karang terlihat banyak menghias. Pasir putih juga memenuhi sebagian besar area. Ikan-ikan kecil berliweran disana-sini. Ikan Butterfly yang cantik dengan badan pipih, berwarna hitam putih mematuk-matuk karang lunak. Penyu hijau terlihat seperti melayang. Terlihat juga belut laut atau eel, dengan warna menyerupai pasir putih berbintik hitam.

Tanda pengukur oksigen ditabung masih menunjukan angka 160 psi. Berarti bisa sampai 20 menit dimuka, menikmati daerah bawah laut. Terlihat beberapa fotographer sibuk mendokumentasikan aksi Menhut menyelam. Sementara beberapa orang mulai mencari bahan dokumentasi lain, seperti terumbu karang meja atau ikan Napoleon yang tiba-tiba nongol.

Bawah laut yang berwarna biru terang, dengan pasir putih tanpa sampah, mengindikasikan kondisi lingkungan yang masih baik. Kehidupan terumbu karang dan berbagai jenis ikan, menunjukan lingkaran ekosistem masih terbilang sehat.

Menhut masih memberikan kode lingkaran antara jempol dan telunjuk yang dipadukan. Berarti semua baik-baik saja. Daerah datar tiba-tiba berubah menjadi celah disamping kiri. Dua tebing besar membentuk ngarai dibawah laut. Seperti selokan besar, dengan ujung yang makin lama makin naik ke atas. Tepat didepan celah tersebut, Condo, penyelam senior memegang tangan Menhut. Bergerak memasukinya, dan kemudian terlihat seperti terdorong bebas ke permukaan air.

Tapi belum lama melihat itu semua, badan terasa mulai terbawa arus dari arah kanan belakang. Rupanya sudah mulai memasuki celah kecil dibawah laut. Terlihat kondisi celah kecil hanya cukup untuk tiga orang bergerak. Badan tiba-tiba seperti didorong arus kuat dari arah belakang. Percuma untuk melawan arus tersebut. Tungkai monopod yang dimiliki Sumarto, Kepala Pusat Hubungan Masyarakat Kementerian Kehutanan, bahkan sampai bengkok, karena dipaksa menjadi penahan tubuh melawan arus tersebut.

Di permukaan laut, Menhut masih tampak antusias untuk melanjutkan penyelaman. Namun kapal sudah menjemput kami semua. Ia masih terlihat antusias diatas kapal, mungkin karena masih mengingat pengalaman terhempas di arus kuat bawah laut tadi. Saking antusiasnya, sampai lupa menyebutkan jenis ikan yang tadi dilihatnya. “Oh itu jadi itu ikan Napoleon, bukan Barracuda yang panjang badannya itu,” urainya sambil tertawa-tawa.

Di kapal besar, pembicaraan masih berlanjut seputar kondisi bawah laut, yang tadi disambangi. Isu terakhir seperti perusakan terumbu karang juga mulai dilontarkan.

“Sayang kalau keragaman dibawah laut sana rusak. Memang ada beberapa orang dari Bima kadang datang dan merusak. Tapi akan segera diselesaikan masalahnya,” kata Menhut lagi.

Hingga kemudian kami berpisah, Menhut masih tampak bersemangat. Bahkan kemudian mengajak kembali menyelam. Bisa di Taman Nasional Kepulauan Seribu, yang dekat Jakarta, atau melihat ikan hiu paus yang banyak ada di Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Papua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s