Flora Melanesiana yang Merana

Indonesia dikenal sebagai negara megadiversitas. Kekayaan flora dan fauna didalamnya, sangat beraneka ragam dan berjumlah banyak. Terbukti untuk jenis tumbuhan palma, menduduki urutan pertama dunia. Dengan 477 jenis, dan 225 endemik asli Indonesia.

Jenis tanaman palma, memang rata-rata banyak tumbuh di Asia Tenggara. Lantaran iklim tropis dan jenis hutan dataran rendah, banyak memenuhi area tersebut. Penyatuan beberapa negara Asia Tenggara disebut sebagai Melanesiana. Termasuk didalamnya Indonesia, Malaysia, Singapore, Brunei Darussalam, Filipina, Papua Nuigini dan Timur Leste. Maka wajar bila jenis tumbuhan didalamnya, seperti palma, hampir rata-rata sama.

Sayangnya data flora Melanesiana, sampai saat ini dianggap belum ada. Kekhawatiran muncul seiring kondisi tersebut, karena flora kawasan Malesiana dikhawatirkan mengalami keterancaman, atau bahkan punah sebelum sempat didokumentasikan dengan baik.

“Keberadaannya di alam cenderung terus terancam atau bahkan mendekati kepunahan,” imbuh Dedy Darnaedi, dari Pusat Penelitian (P2) Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Senin (26/8/2013).

Padahal flora yang ditemukan di daerah Melanesia sangat bervariasi, bahkan beberapa tumbuhan memiliki nilai ekonomi yang tinggi, seperti jati, meranti, anggrek, rotan, kayu cendana, dan berbagai buah tropika.

Bahkan disinyalir Indonesia memiliki setengah dari 350 jenis pohon Dipterocarpaceae, yang bernilai tinggi. Jatna Supriatna, dalam buku Melestarikan Alam Indonesia menyatakan Dipterocarpacae merupakan salah satu famili flora terbesar di dunia. Sebagian besar jenisnya hanya ditemukan di Asia Tenggara. Hanya ada satu jenis di Amerika Selatan, sekitar 40 jenis di Afrika Barat, dan 470 jenis lainnya tersebar dari kawasan Seychelles hingga Irian. Sedangkan di Kalimantan, setidaknya terdapat 267 jenis dipterocarpaceae, yang 155 jenis diantaranya merupakan endemik asli Indonesia.

Salahsatu jenis flora yang terancam punah, mungkin jenis kayu Eusideroxylon zwageri, dikenal dengan nama kayu besi atau ulin. Menurut Jatna, karena aktivitas penebangan, kini hanya tersisa 3.500 kilometer persegi (km2) hutan kayu besi. Jumlah tersebut berarti hanya sekitar 30 persen, dari jumlah asli sebelumnya.

“Untuk mengatasi persoalan tersebut, ajang pertukaran informasi hasil penelitian oleh para peneliti dan pemerhati flora dari kawasan Malesiana perlu dilakukan,” ujar Dedy.

Untuk tujuan tersebut, LIPI, kemudian menggelar Simposium Internasional Flora Malesiana Ke-9. Simposium ini mengangkat tema Contributions of Flora Malesiana to the Welfare of People in Asia.

“Acara tersebut dimaksudkan untuk mengeksplorasi hasil penelitian tentang flora Malesiana sekaligus mengungkap kontribusi flora tersebut untuk mengangkat kesejahtaraan masyarakat Indonesia, Asia, bahkan dunia,” jelasnya.

Kepala LIPI, Lukman Hakim menegaskan pentingnya peneliti Indonesia meningkatkan peran aktifnya dalam penelitian Flora Malesiana, karena sebagian besar dari kawasan malesiana adalah Indonesia.

Selain itu, Lukman menerangkan bahwa gagasan program penelitian Flora Malesiana tercetus pada tahun 1948-an oleh peneliti senior Prof. Van Steenis yang saat itu mendapatkan dukungan kuat dari Prof. Kusnoto Setyodiwiryo, Kepala Kebun Raya Indonesia pertama. Indonesia dengan kawasan Malesiana adalah kawasan kaya biodiversitas, namun juga tinggi ancaman kepunahannya karena pertumbuhan ekonomi berbasis pemanfaatan sumber daya alam tersebut.

“Kita berpacu untuk mengenal, mendokumentasikan dan memanfaatkan keanekaragaman hayati Indonesia sebelum tergerus habis,” ujar Lukman.

Flora Malesiana merupakan tumbuhan yang tumbuh di wilayah Malesiana yang memiliki ciri-ciri sama. Kata “Malesiana” mengandung arti suatu batasan kawasan geografi persebaran tumbuhan yang daerahnya meliputi wilayah: Indonesia, Malaysia, Singapore, Brunei Darussalam, Filipina, Papua Nuigini dan Timur Leste. Wilayah-wilayah tersebut disatukan sebagai suatu kawasan biogeografi karena memiliki kesamaan keanekaragaman tumbuhan yang spesifik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s