Sensasi Patin Chao Phraya

patin3

Ikan patin yang dimasak dengan berbagai macam bumbu, termasuk kacanag mede di restoran pinggir sungai Chao Phraya, Bangkok, Thailand.

Merasakan berpuasa di negeri orang, rasanya enak-enak tidak enak. Apalagi kalau berpuasa di negeri Gajah Putih – Thailand, yang notabene rakyatnya beragama Budha. Jadi rasanya benar seperti orang asing, karena yang lain justru tak berpuasa. Tapi enaknya, saat berbuka puasa, rasanya benar-benar jadi menikmati makanan yang dihidangkan. Lidah seperti tak hanya menyesap rasa, lalu menelan. Tapi benar-benar menikmati, karena sudah hampir 12 jam tidak makan dan minum.

Di Ibukota Thailand- Bangkok, sebenarnya banyak lokasi untuk berbuka puasa. Tapi enaknya mencari lokasi yang bisa jalan menikmati pemandangan dahulu, sebelum berbuka. Salahsatu lokasi yang cocok merupakan area sungai Chao Phraya yang membelah kota Bangkok.

Belum lama lalu, tepatnya pertengahan Juli 2013 kemungkinan tersebut juga dicoba penulis. Perjalanan dimulai dari dermaga Sophan Thaksin, tak jauh dari jalan Silom. Dengan membayar sekitar 20 baht, atau sekitar Rp 6.000, bisa mulai menikmati naik ke atas kapal yang melintas di sungai Chao Phraya.

Sungai Chao Phraya seperti biasa sibuk dengan hilik mudik kapal-kapal. Lebar sungai ini bisa mencapai 100 meter, kira-kira lebih kecil dibanding sungai Kapuas yang membelah kota Pontianak-Kalimantan Barat. Namun dengan lebar seperti itu cukup untuk berbagai kapal angkutan melintas hilir mudik. Salahsatunya kapal angkutan untuk para penduduk kota Bangkok. Selain gedung perkantoran, ada juga jembatan dan rumah ibadah umat Budha dipinggir sungai. Melintas sungai ini saat akan berbuka puasa terasa lupa segala haus dan lapar, karena indahnya pemandangan saat matahari terbenam.

Usai melintas sungai, kemudian turun di dermaga Wang Lang. Tepat saat waktu berbuka puasa terjadi. Di dekat dermaga Wang Lang ada resto terkenal bernama Krua Rakang Thong. Menurut pemiliknya, resto tersebut sudah 20 tahun berdiri. Makanan di resto ini bermacam-macam, dan tentu saja dengan cita rasa khas Thailand. Menu pembuka bisa dimulai dengan sup Tom Yum Kung. Disini sup selain terasa pedas dan panas, berisi dengan udang besar. Cukup sebagai pemanasan pembukaan sebelum menyantap makanan utama.

Nasi putih dengan hidangan ikan patin besar, dengan bumbu dan kacang mede serta cabe merah gosong, merupakan hidangan utama yang tak bisa dilupakan. Rasa ikan patin yang renyah, dan pedas bumbu, membuat tak bosan untuk terus menambah. Kacang mede didalamnya, makin membuat rasa menjadi agak aneh, tapi cocok dengan lidah Asia. Ketika mencoba cabe gosongnya sedikit, rasa pedas menjalar tak keruan. Belum lagi bawang putih dan potongan-potongan kecil sayur diatasnya. Membuat rasa makin unik dan tak ada mirip-miripnya dengan makanan di Indonesia.

Agar puas, hidangan utama bisa ditambah dengan Yam Thua Phu. Sejenis udang goreng, yang diberi kuah kental dan dihias dengan telur rebus disekelilingnya. Udang terasa seperti kerupuk kering, tapi menjadi gurih karena bercampur dengan rasa kuning telur rebus. Diantara keunikan tersebut, rasa menjadi makin ramai karena selalu ada pedas yang menyelusup.

Menikmati itu semua sambil meminum es kelapa dan menikmati malam yang mulai menguasai bumi, seperti tak ada habisnya bersyukur. Sebab masih diberikan kesempatan untuk menikmati citarasa Thailand yang cukup terkenal sejagad dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s