Perempuan dalam Potret Masyarakat Adat

Keterlibatan perempuan dalam memperjuangkan hak masyarakat adat tak dapat dianggap enteng. Beberapa bahkan harus rela disiksa, hingga hilang nyawa. Namun jelas mereka bukan hanya memperjuangkan hak gender, namun lebih pada perbaikan komunitas dimana mereka tinggal.

Masih terngiang cerita Aleta Baun, mengenai perjuangannya. Desa tempat tinggalnya terancam hilang, lantaran pertambangan marmer meruyak. Sungai-sungai menjadi kotor, hutan-hutan hilang, udara merusak paru-paru.

Demi anak cucunya, ibu berwajah keras itu berjuang melepaskan cengkraman tersebut. Tapi yang dihadapinya adalah raksasa. Yang dengan kuasa dan uang bisa membayar apa saja. Bahkan aparat keamanan sekalipun, mau menjadi algojo untuk penguasa. Menafikan kehadiran mereka yang berasal dari rakyat biasa, seperti mama Aleta juga.

Aleta bahkan pernah dikejar-kejar, dan tidur dibawah jembatan. Dipukuli bahkan diusir dari tanah yang dicintainya. Seorang wanita melawan sekompi tentara? Tapi batu sekeras apapun bisa saja hancur oleh kelembutan. Mama Aleta berhasil memenangkan pertarungan, tanpa menggunakan kekerasan.

Itu baru satu cerita perempuan adat di Indonesia. Di Philipina, sama saja. Bahkan dua perempuan harus meregang nyawa. Juvy Capion, meninggal 18 Oktober 2012 lalu, dengan bayi tiga bulan didalam rahimnya.

Juvy Capion adalah pemimpin kaum perempuan di Philipina, yang menentang pembangunan pabrik pertambangan Sagittarius Mines Inc (SMI). Ia merupakan orang adat B’laan yang menolak tanah kelahirannya dicabik-cabik pertambangan. Namun apa daya, aparat seperti menutup mata, dan menembak mati perempuan hamil tersebut, lengkap dengan dua anaknya sekaligus.

“Perempuan adat di Philipina tidak hanya berjuang untuk kaum mereka, tapi untuk komunitas secara keseluruhan,” urai Norma Capuyan, aktivis perempuan dari Kalumaran yang berpusat di Davao City, pada acara Indigenous Voice of Asia (IVA), Kamis (18/7/2013) di Bangkok, Thailand.

Tak hanya Juvy Capion, Christina Morales Jose juga harus melepaskan nyawanya. Ia terbunuh 4 Maret 2013 lalu. Masalahnya sederhana, ia memimpin perlawanan terhadap pemerintah, lantaran minimnya bantuan terhadap korban badai topan yang terjadi di Philipina.

Christina merupakan pemimpin dari organisasi Barug Katawhan, yang kemudian mati ditembak oleh tentara pemerintah, karena dianggap sebagai pembangkang. Ia dibunuh oleh pengendara motor pada pukul 6 pagi, setelah menghadiri rapat persiapan demonstrasi.

Masih banyak cerita pilu pembunuhan aktivis di Philipina. Bahkan sebuah data terbaru menunjukan hampir tiap bulan ada satu aktivis mati disana. Baik laki-laki dan perempuan, bila dianggap membangkang, maka bersiap ditembak ditempat.

Di Indonesia, perempuan adat yang melakukan perlawanan mungkin masih beruntung. Seperti contoh Mama Aleta, yang kemudian meraih penghargaan Goldman Prize karena perjuangannya. Tapi sebenarnya nada minor mengenai perempuan adat terus menggema di Indonesia.

Terakhir suku adat Polahi, dianggap binatang karena tidak memakai pakaian, dan menikah antara satu keturunan keluarga. Semua menganggap hal tersebut keterbelakangan, sementara kita semua seperti menutup mata, bahwa kondisi tersebut sebenarnya terjadi karena ketidakadilan.

Ketidakadilan tak hanya terjadi pada perempuan di Indonesia. Bahkan perempuan negeri Malaysia, khususnya bagian Sabah juga merasakan hal yang sama. Mary Annunciata Lai Nancy dari Borneo Post, yang juga merupakan keturunan perempuan adat Sabah memaparkan hal serupa.

“30 persen perempuan Sabah tidak memiliki porsi untuk memutuskan, karena tidak memiliki pendidikan yang memadai,” urai Nancy.

Jadi jelas, semua perjuangan perempuan adat hadir karena ketidakadilan. Perbedaan perlakuan dan pendapat miring, yang seharusnya tidak mereka terima, seandainya semua diperlakukan secara adil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s