Mangrove Hilang Makanan Laut Melayang

Sepuluh tahun lalu, nelayan dari Cirebon bisa merambah sampai teluk Jakarta untuk mencari rajungan. Hasilnya bisa berkali lipat, ketimbang lima tahun setelahnya. Kini mereka harus gigit jari, karena hampir tak pernah ada lagi rajungan di teluk Jakarta.

Bagi para penikmat makanan laut, rajungan mungkin merupakan salah satu menu favorit yang dipilih. Bentuk dan rasanya yang unik, serta cara makan yang tidak mudah, membuat para pecinta kuliner kerap mencari-cari kembali satwa laut itu. Tapi jangan harap kita masih bisa merasakan nikmat rajungan, bila kondisi kerusakan lingkungan pesisir terus terjadi. Terutama hilangnya rumpun bakau atau mangrove di pesisir.

“Mangrove merupakan tempat pemijahan, nursery dan berkembangbiaknya ikan. Jadi bila lahan mangrove terus menipis seperti sekarang, kemungkinan keberlanjutan hidup ikan di lautan juga makin terancam,” urai Arif Satria, mantan Direktur Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Februari 2008 silam.

“Seperti rajungan di Jakarta, sekarang sudah terbilang sulit dicari. Padahal kalau mangrove bisa dipertahankan, komoditi tersebut bisa menjadi andalan produksi nasional,” tambah Arif, yang kini menjadi Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB.

Keberadaan hutan mangrove Indonesia sendiri sebenarnya tergolong besar. Dimana 75 persen hutan mangrove Asia berada di Indonesia. Namun sayangnya angka penipisannya juga teramat besar. Setidaknya kini, dari 3,7 juta hektare lahan mangrove yang ada, sebanyak 1,8 juta hektare telah mengalami kepunahan. Seperti kasus di Jakarta, hampir keseluruhan lahan mangrove telah mengalami pembabatan. Hal tersebut kemudian mengakibatkan banyak ekosistem kelautan yang turut mengalami penurunan.

Penipisan mangrove, tampaknya tak hanya terjadi di Jakarta. Pada penelusuran di daerah Wakatobi, Sulawesi Tenggara tahun 2004 lalu, banyak mangrove justru hilang karena digunakan sebagai kayu bakar. Jadi bisa dibilang penipisan mangrove hilang bukan hanya karena untuk daerah hunian, tapi memang ditebang untuk kebutuhan manusia juga.

 

Menahan Badai

Pada penelusuran didaerah mangrove Brebes yang merupakan bagian pantai utara Jawa, tahun 2010 lalu. Mangrove terlihat mulai ditanami kembali. Kebanyakan masyarakat nelayan disana mulai menyadari kalau justru mereka akan makin rugi, bila mangrove terus ditebangi. Mulai dari satwa laut yang menghilang, hingga tidak adanya penahan gelombang laut.

Urusan menahan gelombang laut, mangrove memang sudah terbukti sebagai ahlinya. Pada kejadian tsunami di Aceh akhir tahun 2004 lalu, banyak daerah justru tidak terlalu rusak karena mangrove mampu memecah terjangan ombak tsunami yang maha dahsyat.

Bahkan tak hanya tsunami, mangrove dipercaya juga mampu melindungi dari terjangan badai atau cuaca ekstrem. Terbukti pada penelitian yang dilakukan The Nature Conservancy (TNC) dan Wetlands International, Desember 2012 silam. Menurut penjelasan Mark Spalding dari TNC, mangrove ternyata dapat mengurangi ketinggian air sampai dengan setengah meter, pada setiap kilometer mangrove yang dilalui oleh gelombang badai.

“Hal ini menunjukkan bahwa mangrove yang relatif tebal akan dibutuhkan untuk menahan seluruh atau sebagian besar kekuatan gelombang badai,” paparnya.

 

Konservasi Mangrove

Menyadari banyaknya fungsi dari mangrove, maka wajar bila banyak orang tertarik untuk membantu menyelamatkannya. Termasuk pesepakbola internasional, Christian Ronaldo dan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono di Bali, belum lama kemarin.

Ronaldo jelas berpesan kalau mangrove harus dipertahankan. Ia teringat bagaimana seorang anak, berkaos CR-7 selamat dari terjangan tsunami didaerah mangrove Aceh. Maka ia mau membantu program pelestarian mangrove di Bali tersebut.

Padahal kalau mau jujur, mangrove di Bali sebenarnya mengalami gerusan kerusakan terus-menerus hingga saat ini. Seperti penjelasan Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali, Wayan Suardana. Menurutnya area mangrove di dekat bandara Ngurah Rai terus terbebani oleh sampah plastik.

Dalam pantauan, ucapan yang disebutkan Wayan memang terbukti. Banyak sampah plastik memenuhi kawasan yang disebut Pusat Informasi Mangrove Bali tersebut. Bahkan salah seorang petugas kebersihan disana menyebutkan, sebanyak dua ton sampah harus diangkat tiap hari dari area tersebut.

Beda lagi saat melihat lokasi mangrove di kawasan Karimun Jawa. Banyak mangrove di daerah pesisir juga diklaim hilang saat ini. Hal tersebut seiring dengan makin tingginya pemukiman, dan perkembangan wisata. Banyak penginapan kini menjamur dipinggir-pinggir pantai, mengorbankan rumpun mangrove yang semula ada disana.

Salahsatu kawasan mangrove yang bisa diselamatkan, merupakan bagian dari Balai Taman Nasional Karimun Jawa (TNKJ). Didalamnya terdapat jalur tracking sejauh 1.377 meter. Jalur jalan yang mirip jembatan kayu panjang tersebut, akan mengantarkan pada sekitar 45 jenis mangrove yang masih bisa diselamatkan.

Kepala Balai TNKJ, F. Kurung menyatakan hilangnya mangrove di Karimun Jawa merupakan konsekuensi dari perkembangan wisata saat ini. “Kedepannya akan diterapkan konsep ekowisata agar pengembangan pariwisata dan kelestarian lingkungan dapat berjalan secara beriringan,” urai F. Kurung, 29 Mei 2013 di Semarang.

Begitu banyaknya manfaat mangrove, namun begitu rentan tumbuhan tersebut hilang. Padahal saat kita kehilangan, teramat banyak juga kerugian yang harus diderita manusia. Termasuk hilangnya sumber makanan bagi anak cucu dimasa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s