Perkebunan Sawit Penyebab Konflik Terbesar

Secara kuantitatif perkebunan sawit menduduki peringkat pertama, penyebab konflik mengenai sumber daya alam dan agraria yang terjadi di Indonesia saat ini. Demikian diungkapkan organisasi HuMa, dalam Outlook Konflik Sumber Daya Alam dan Agraria, yang dikeluarkan Jumat (15/2/2013) di Jakarta.

Tercatat ada tujuh provinsi di Indonesia yang memiliki konflik terbesar. Peringkat pertama diduduki Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan 67 kasus. Diikuti dengan Jawa Tengah (Jateng) dengan 36 kasus. Berturutan kemudian Sumatera Utara (Sumut) 16 kasus, Banten 14 kasus, Jawa Barat (Jabar) 12 kasus, Kalimantan Barat (Kalbar) 11 kasus dan terakhir Nangroe Aceh Darussalam (NAD) sebanyak 10 kasus.

Data HuMa menunjukkan terdapat 232 konflik sumberdaya alam dan agraria. Konflik berlangsung di 98 kota/kabupaten di 22 provinsi. Luas area konflik mencapai 2.043.287 hektare (ha), atau lebih dari 20 ribu kilometer persegi (km2). HuMa mencatat sebanyak 91.968 orang dari 315 komunitas telah menjadi korban dalam konflik sumberdaya alam dan agraria.

“Total konflik terdapat 232 kasus, konflik perkebunan sawit menduduki posisi pertama dengan 118 kasus,” papar Widiyanto, dari HuMa yang dihubungi Kamis (14/2/2013) malam.

Konflik pada bidang kehutanan kemudian menyusul dengan jumlah 72 kasus, dengan luasan konflik mencapai 1.266.449 hektare (ha). Konflik pada kehutanan ini menunjukan tren meningkat. Seperti catatan pada tahun 2011 dirilis total area konflik seluas 800.000 ha, dan tahun 2012 menjadi hampir mencapai 1,3 ha.

Pada konflik perkebunan diindikasikan terdapat lima faktor penyebab utama. Pertama pemeritah lebih memprioritaskan pemodal besar. Kedua adanya keinginan untuk mengembangkan komoditas tertentu seperti sawit. Penyebab ketiga merupakan pola kerjasama yang tidak seimbang antara perusahaan dan petani plasma. Diikuti dengan konflik ruang yang terjadi antara pemilik modal dan masyarakat, serta juga terjadi antar pemilik modal. Sementara penyebab terakhir merupakan penentuan pola (tata) ruang yang tidak partisipatif.

Pada sisi pelaku terbesar konflik, perusahaan lintas sektoral menduduki peringkat pertama dengan jumlah 69 persen. Sementara Perhutani menduduki pelaku penyebab selanjutnya dengan jumlah 13 persen. Taman nasional atau Kementerian Kehutanan (Kemenhut) sembilan persen. Pemerintah Daerah (Pemda) dengan prosentase tiga persen dan instansi lain termasuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebanyak satu persen.

Hasil outlook ini merupakan penilaian yang dilakukan Huma selama 6 tahun terakhir, antara tahun 2006 sampai 2012. Satu hal yang mencemaskan kalau konflik ini terus didiamkan atau tak ada perubahan mendasar dalam penyelesaian, maka diprediksi konflik akan terus meningkat dimasa mendatang.

“Ada tren yang cukup kuat, konflik yang dulu bersifat laten berubah menjadi manifes,” papar Widianto.

Banyak konflik yang awalnya terjadi secara diam-diam, tiba-tiba meletus ke permukaan, seperti terjadi di Mesuji-Lampung Utara, Ogan  Ilir, Kebumen, hingga Sumbawa.

Sebelumnya berbagai pihak menyebutkan makin tingginya konflik terjadi di Indonesia. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) menyatakan terdapat peningkatan konflik dari tahun 2011 dan 2012. Hal itu terlihat dari adanya peningkatan laporan hingga 10 kasus perminggu pada tahun 2012 lalu.

Pihak ilmuwan juga menyebutkan hal serupa. Dasar pemikiran penyebabnya diindikasikan karena lebihberpihaknya pemerintah pada para pemodal ketimbang masyarakat. 153 ilmuwan kemudian menyampaikan petisi kepada Presiden Republik Indonesia (RI) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk sesegera mungkin menyelesaikan masalah ini, mengingat makin tingginya eskalasi konflik dimasa mendatang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s