Tulang Terangkat Tapi Gigi Paus Hilang

Sekarang sudah sekitar lima bulan, pemakaman di laut untuk paus terjadi. Rasa-rasanya sudah tepat waktunya untuk mengangkat tulang paus itu ke permukaan.

Regulator yang mengantarkan oksigen ke mulut, terasa tak ada masalah. Suhu laut juga cenderung hangat, Sabtu (8/12/2012) lalu. Ke 12 orang yang akan menyelam saling memberikan kode dengan tanda jari melingkar. Berarti semua tak ada masalah, dan masing-masing hilang dari permukaan air sebentar kemudian.

Tak banyak isyarat komunikasi dilakukan satu sama lain. Semua terfokus sama, menuju titik sekitar lima meter setelah menyelam. Tak lama menyelam, melewati deretan karang mati, dan dengan penglihatan terbatas, kemudian mulai terlihat hamparan tulang paus sudah berwarna keputihan. Beberapa tampak masih memiliki daging di tulang, beberapa yang lain justru sudah terlihat mulai kehijauan.

Proses pengambilan tulang paus dengan menggunakan jaring, Sabtu-Minggu (8-9/12/2012) di Pulau Kotok, Kepulauan Seribu.

Tanty Surya Thamrin
Proses pengambilan tulang paus dengan menggunakan jaring, Sabtu-Minggu (8-9/12/2012) di Pulau Kotok, Kepulauan Seribu.

“Kalau terus didiamkan tulang paus itu akan rapuh, dan bisa hanyut terbawa arus angin barat,” cerita Tanty Surya Thamrin, salah satu penyelam dari Illa Diues, yang bekerjasama dengan Jakarta Animal Aid Network  (JAAN) untuk mengangkat tulang paus tersebut.

Sebelumnya paus berjenis sperma (sperm whale) ini terdampar di Karawang. Sempat menjadi pemberitaan hangat, karena saat ditarik kembali ke laut malah terdampar kembali, dan kemudian mati di perairan Muara Gembong, Juli 2012 lalu.

Kemudian berdasarkan keputusan bersama antara pihak Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKS), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta pemerhati dalam bidang ini seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Global Diver, JAAN dan aktivis penyelaman lain, akhirnya diputuskan paus akan dimakamkan dengan cara dibenamkan ke dalam laut. Lokasi pemakaman disetujui dilakukan di sekitar pulau Kotok, dengan alasan berada tak jauh dengan Muara Gembong dan tidak akan mengganggu masyarakat sekitar karena perairan terancam mengandung penyakit.

Sekitar lima bulan setelah pemakaman laut tersebut, akhirnya tulang paus diangkat kembali ke daratan. Sebenarnya proses pengangkatan menurut cerita Tanty berlangsung selama dua kali. Pertama paus ditenggelamkan hingga kedalaman 18 meter. Selang beberapa bulan kemudian, tulang paus yang sudah terlepas dari kulit diangkat naik mendekati permukaan, hingga sekitar lima meter. Pada penyelaman kedua, baru tulang yang berada di kedalaman lima meter tersebut diangkat ke permukaan.

“Tehnik untuk mengangkat tulang dipergunakan sistem salvage, atau mengangkat dengan menggunakan jaring dan tali, kemudian dikerek ke perahu yang menunggu dipermukaan laut,” urai Tanty.

Hanya sayangnya, hingga penyelaman terakhir, masih tersisa tulang rahang atas dan rahang bawah dari paus itu dibawah laut. Karena saking beratnya, tulang tersebut kini masih ditinggalkan pada kedalaman lima meter. Rencananya tulang rahang tersebut akan diangkat pada waktu dekat, bila peralatan pengangkatan sudah memenuhi standar.

Tehnik pengangkatan tulang paus seperti itu memang bukan asal saja. Untuk tulang rahang yang tertinggal, malah dibutuhkan tehnik khusus untuk mengangkatnya. Untung Suripto, salah satu penyelam dari TNKS menyebutkan kalau masalah utama pengangkatan rahang karena beratnya yang tak ringan. Bahkan diperkirakan membutuhkan tongkang untuk mengangkat tulang rahang tersebut, selain juga sistem menyisipkan pelampung agar tulang paus terangkat sendiri ke permukaan.

“Sampai sekarang tim berhasil mengevakuasi sekitar 117 fragmen tulang paus. Bila semua tulang sudah berhasil diangkat, maka akan dilakukan proses rekonstruksi,” urai Untung, Kamis (20/12/2012).

Tulang paus yang berhasil diangkat ke daratan.

Tanty Surya Thamrin
Tulang paus yang berhasil diangkat ke daratan.

Sebelum rekonstruksi dilakukan, menurut Untung terdapat evaluasi yang akan dilakukan. Salahsatu evaluasi merupakan hilangnya sebagian besar gigi paus tersebut. Dimungkinkan hilangnya gigi paus dilakukan oleh para pengunjung wisata penyelaman yang memang banyak di pulau Kotok.

“Waktu itu suasana memang ruwet sekali. Waktu ditenggelamkan paus berada pada kondisi lengkap. Namun saat diangkat tulangnya, kebanyakan gigi paus sudah hilang,” papar Untung.

Menurut Untung, proses rekonstruksi dilakukan dengan bantuan ahli dari luar negeri, mengingat masih belum memadainya pakar mamalia laut yang ada di Indonesia. Proses selanjutnya adalah memamerkan hasil rekonstruksi tersebut kepada khalayak ramai. Yang hingga kini terus menjadi perdebatan, mau ditaruh dimana tulang paus yang selesai direkonstruksi tersebut. Apakah akan ditaruh secara in situ, atau ditaruh didalam lokasi taman nasional, atau ex situ yaitu ditaruh diluar wilayah taman nasional seperti museum atau di Kementerian Kehutanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s