Menolak Impunitas Atas Nama Keadilan

the-act-of-killing

Foto salah satu adegan di film “Act of Killing” yang menggambarkan nilai absurd dari permohonan maaf para penjagal aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI) Medan, paska era Orde Lama berakhir.

Sulit membedakan kejam mana antara pembantaian kaum Yahudi oleh militan Nazi pada perang dunia II, bila dibandingkan dengan peristiwa pembantaian jutaan warga Kamboja oleh rejim Khmer Merah. Sama sulit juga membandingkan antara pembantaian etnis Hutu dan Tutsi di Rwanda, dengan pembantaian orang Madura di Kalimantan Indonesia beberapa waktu silam. Setelah menonton film “The Act of Killing” atau Jagal, rasa sulit membandingkan itu makin keras menggerayang, lantaran sulit juga membandingkan lebih kejam mana antara kelakuan Partai Komunis Indonesia (PKI), bila dibandingkan dengan pembantai-pembantai mereka, saat PKI resmi dianggap sebagai musuh negara.

Anwar Congo, mungkin hanya  megalomaniak yang kini menjadi seorang terhormat di jajaran pemimpin Pemuda Pancasila (PP) wilayah Sumatera Utara.  Dengan gaya orang timur Indonesia yang kental, ia berada di posisi dan waktu yang sulit pada masanya. Hidup di masa transisi politik Indonesia antara tahun 1965, dimana PKI dianggap sebagai biang masalah saat itu. Posisi Anwar sebagai anggota PP kala itu, membuatnya seperti memiliki ‘Surat Ijin Membunuh’ orang komunis di Sumatera Utara khususnya wilayah Medan, dengan jaminan tak ada campur tangan penegak hukum.

“Kami menenggak banyak minuman keras, mariyuana dan ectasy sebelum membunuh,” kata Anwar, pada cuplikan film The Act of Killing, yang kembali diputarkan di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Selasa (11/12).

Setelah itu Anwar memperagakan berbagai cara membunuh anggota komunis di Medan. Ada yang lehernya dilingkari kawat, dan ditarik kedua ujungnya, sehingga membuat korban mati lemas. Ada pula dengan cara diinjak kepalanya dengan kaki meja. Beberapa digorok dengan clurit, hingga mengeluarkan suara-suara seperti mengorok. Seorang anak orang Cina, yang mengaku selamat dari pembantaian waktu itu menceritakan kalau ia menemukan ayahnya, yang hilang semalaman telah tergeletak tewas dipinggir jalan dengan ditutupi kaleng drum terbelah. Tak ada yang berani mengangkatnya, karena membantu korban berarti saudara dari pengkhianat bangsa, alias orang PKI yang harus dibasmi juga.

“Waktu itu kami ingin membunuh dengan sedikit mengeluarkan darah. Bisa menghabisi orang komunis dengan rasa gembira,” papar Anwar lagi.

Entah apa yang ada dipikiran Anwar, hingga ia mau membongkar semua busuk pembantaian tersebut. Namun tampaknya sutradara Joshua Oppenheimer berhasil mengelabui dengan janji sebuah film yang mengangkat perjuangan Anwar, namun diputar balik menjadi bahasan sisi kelam dari pertanyaan terdalam tentang keadilan.

“Pada bulan Februari 2004, seorang mantan pemimpin jagal orang PKI menunjukan bagaimana ia secara sistematis bisa membunuh 10.500 nyawa orang yang dianggap komunis, hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan, pada sebuah sungai di Sumatera Utara” urai Joshua, pada pernyataan resminya mengenai film The Act of Killing.

Joshua mencoba memaparkan pertanyaan esensial penting mengenai aksi kejahatan perang dalam bentuk genosida, yang terjadi di Indonesia. Namun yang tak habis pikir, Joshua hanya bisa termangu karena pelaku pembantaian justru kini masih bebas, dan mendapat posisi terhormat di masyarakat.

“Singkatnya peristiwa itu menimbulkan kekacauan yang mengerikan. Semua menjadi tak adil ketika pembunuh tetap berkuasa, tak ada upaya keadilan, dan cerita seperti ini hanya dijadikan alat untuk mengintimidasi calon korban yang masih hidup sampai sekarang,” imbuh Joshua.

Salahsatu cara yang mencerahkan untuk masalah ini mungkin memaafkan. Seperti juga akhir film yang memberikan gambar absurd tentang korban dan pembunuh yang berdiri bersama di bawah air terjun. Kemudian korban membuka sendiri jerat leher yang membuatnya tewas, dan setelahnya berjabat tangan dengan pembunuh seperti Anwar, dan mengucapkan terimakasih karena telah membunuh mereka.

Namun memaafkan tetap tak pantas dianggap sebagai penyelesaian. Sebab impunitas atau kejahatan tanpa hukuman, tidak memenuhi rasa keadilan bagi korban. Itu juga yang sepertinya dialami oleh Anwar dan Andy Zulkarnaen (rekan erat Anwar) yang bersama-sama menjadi penjagal.

“Dulu kita bisa mudah membunuh karena mereka sudah kalah. Secara mental dan harga diri sudah tak ada. Jadi sekarang bila mereka tetap ingin menyerang, hanya tersisa roh saja. Dulu saja roh dan tubuh bisa dikalahkan, masa sekarang tidak?”, tanya Andy, menanggapi mimpi buruk yang kerap dialami Anwar paska pembantaian tersebut.

Menurut Andy, kebenaran adalah milik pemenang perang. Harus ada orang yang mau dengan tegas menjalankan apa yang dianggap kebenaran tersebut. Meskipun ia juga harus mengakui, kalau sebenarnya tindakan massa PP pada kasus tersebut, bisa jadi lebih kejam dari apa yang pernah dilakukan PKI sebelumnya.

“Wajar bila pemerintah meminta maaf kepada publik mengenai kasus itu. Bila memang terlalu berat, permohonan maaf bisa dilakukan seperti sumpah berbisik,” urai Andy.

Tapi tampaknya tetap saja segala yang pernah dilewati tak akan bisa hilang begitu saja dari ingatan. Sepintar-pintarnya manusia memodifikasi suasana, tetap saja sebuah masa kelam tetaplah masa kelam. Berbagai hukuman, seperti mimpi buruk pada Anwar, tetaplah bukan balasan setimpal baginya. Sebab biar bagaimana, impunitas bukan jalan keluar menuju keadilan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s