Mikroplastik Ancam Pesisir Indonesia

Tak ada yang mengira, anasir sampah mikroplastik dari cucian baju diam-diam mengancam kesehatan lingkungan manusia. Dengan daya penyelesaian masalah lingkungan secara parsial, seperti yang sampai sekarang masih kerap dilakukan, masa depan pesisir yang sehat menjadi pertanyaan besar dimasa depan.

Coba perhatikan sekali-kali putaran mesin cuci di rumah. Lihat apakah air bekas cucian memperlihatkan warna kusam, atau bahkan seperti berkilat-kilat. Warna kusam, berarti kotoran memang terlepas dari pakaian. Namun, warna berkilat sepertinya membenarkan sebuah hasil penelitian mengenai sampah atau limbah bersifat renik, bernama mikroplastik.

Mikroplastik kini banyak menjadi perhatian dunia. Pasalnya sebuah penelitian baru dari Universitas Dublin Irlandia, membeberkan temuan mengenai adanya anasir kimia mikroplastik pada keseluruhan kontinen, yang diwakili 18 daerah pesisir di seluruh dunia. Hasil penelitian tersebut juga telah dipublikasikan pada Jurnal Environmental Science Technology, demikian dikatakan kantor berita BBC, akhir bulan Januari 2012 ini.

Mark Browne, salah seorang peneliti pada kegiatan tersebut bilang kalau mikroplastik bisa berbahaya kalau sampai dikonsumsi oleh satwa laut, yang kemudian dimakan manusia. Sebab unsur mikroplastik disinyalir bisa hidup di sel-sel satwa laut hingga berbulan-bulan setelahnya.

Keseluruhan 18 garis pantai yang diambil sampelnya, terbukti memiliki kandungan mikroplastik didalamnya. Beberapa titik sampel yang terdekat dari Indonesia, yaitu di Singapura dan Australia juga menunjukan bukti yang serupa.

Kebanyakan anasir mikroplastik ini terdapat di daerah dengan padat penduduk. Menurut identifikasi Browne sumber utama dari mikroplastik ini adalah air limbah dari mesin cuci rumah tangga.

Plastik pada Pakaian

Menurut perkiraan Browne, lebih dari 1.900 serat yang mengandung mikroplastik, terlepas dari satu potong pakaian, saat satu kali dicuci. Serat itu kemudian terlihat seperti serpihan plastik kecil di pantai.

Kalau diselisik lagi, serat yang mengandung mikroplastik tersebut paling tidak memiliki senyawa Polivinil Klorida (Polyvinyl Chlorida/PVC) didalamnya. Seperti diketahui PVC telah digunakan secara luas pada bahan pakaian, yaitu membuat bahan serupa kulit. PVC lebih murah dari karet, kulit, atau lateks sehingga digunakan secara luas. PVC juga memiliki sifat anti air, sehingga dijadikan bahan pembuatan jaket, mantel, dan tas.

Namun sayangnya, PVC ternyata memiliki sifat merusak tubuh manusia yang mematikan. setidaknya gangguan kesehatan pada ginjal, hati dan berat badan dilaporkan memiliki kaitan dengan adanya dosis PVC berlebihan ditubuh penderita.

Untuk melihat barang-barang plastik yang memiliki unsur PVC, perhatikan barang tersebut secara lebih detail. Biasanya dibagian bawah barang terdapat kode daur ulang, berisi angka didalamnya. Kandungan PVC diberikan angka tiga. Sementara botol plastik kecil diberikan angka satu.

Angka satu yang biasanya disertai tulisan PETE atau PET, memiliki arti polyethylene terephthalate. Biasanya angka ini tertera pada botol plastik air minum kemasan. Botol jenis ini direkomendasikan hanya boleh digunakan sekali pakai. Sebab bila terlalu sering digunakan, bisa mengeluarkan zat karsinogenik, seperti saat meleleh karena kena air panas. Zat karsinogenik tersebut bisa menimbulkan kanker secara jangka panjang.

Mengelola Sampah Pesisir

Plastik merupakan bagian dominan dari sampah yang dihasilkan penduduk dunia saat ini. Tak terkecuali juga di Indonesia. Menurut data Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, pada tahun 2009 volume limbah dan sampah yang masuk ke Teluk Jakarta mencapai sebanyak 490 ton/tahun. Diindikasikan sebanyak 15 persen dari jumlah tersebut merupakan sampah plastik.

Urusan sampah plastik ini tak cuma bikin pusing pemerintah Jakarta, wilayah lain seperti Bandarlampung dan Ternate juga memiliki masalah yang sama.

Arie Dipareza Syafei, yang kini bertugas sebagai staf pengajar di Jurusan Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mencoba menjabarkan masalah yang ada di pesisir, melalui pengamatan langsung.

Menurutnya ada tujuh sumber pencemar di daerah pesisir yaitu dari limbah dari aktivitas industri, limbah cair dan padat dari aktivitas pemukiman, limbah cair dan limbah padat dari perkotaan, pertambangan, pelayaran, pertanian dan perikanan budidaya.

Khusus sampah plastik, juga akan serupa pada jenis sampah lain yang potensial untuk dijadikan bahan daur ulang. Upaya pembangkitan ekonomi kerakyatan melalui usaha yang ramah lingkungan, seperti membuat tas dari bahan daur ulang, yang bisa diekspor keluar negeri, merupakan salah satu alternatif yang bisa dipilih. Selain mendapatkan untung ekonomis, pemberdayaan masyarakat juga bisa optimal dilakukan.

Sayangnya hingga kini pola ekonomis dari lingkungan, masih kurang terlalu dimajukan sebagai opsi gerakan lingkungan. Dari catatan sebelumnya, upaya pengelolaan pesisir lebih bersifat seremonial dan cenderung parsial.

Seperti sebelumnya pernah dilakukan kegiatan Jakarta Coastal Clean-Up pada tahun 2009. Acara tersebut cukup sukses, karena melakukan kegiatan bersih pantai di tiga titik utama pesisir Jakarta. Tak kurang Deputi bidang Pemberdayaan Masyarakat Menteri Lingkungan Hidup saat itu Hendry Bastaman, turut hadir pada acara tersebut.

Menurut Bastaman acara seperti ini akan digelar setahun sekali, untuk meningkatkan perhatian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan pesisir. Namun pada kenyataannya, tahun 2010 hingga tahun 2011, program tersebut tak kunjung kembali digelar.

Bila melihat kondisi dilapangan, memang rasa-rasanya akan sulit mengelak dari bahaya mikroplastik. Mulai dari perilaku masyarakat, hingga pengelolaan sampah di pesisir dan penentu kebijakan yang kurang massif, makin membuat bahaya mikroplastik seperti bom waktu, tinggal menunggu saat meledak saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s