Disangka Punah, Kera Langur Abu-Abu Ditemukan Kembali

kera langur abu2

Eric Fell/Ethical Expedition
Kera langur abu-abu di hutan alam Wehea, Kalimantan Timur

Sempat diperkirakan punah pada tahun 2005 lalu, spesies kera langur abu-abu (Presbytis hosei canicrus) kembali ditemukan di hutan alam Wehea, Kalimantan Timur, baru-baru ini. Demikian menurut salahsatu makalah yang diterbitkan Jurnal Primatologi Amerika (American Journal Primatology/AJP), edisi Januari 2012 ini.

Monyet langur abu-abu merupakan salah satu primata yang diperkirakan punah oleh lembaga Conservation International (CI), pada tahun 2005 lalu. Hingga kemudian tak sengaja tertangkap kamera penjebak yang dipasang oleh tim Ethical Expeditions di hutan alam Wehea.

Temuan foto tersebut setidaknya juga melengkapi koleksi museum spesies Amerika Serikat (AS). “Sebab hanya lukisan sketsa saja yang tersisa dari satwa itu, di museum spesimen kami saat ini,” ujar Brent Loken, Direktur Eksekutif Ethical Expeditions, Jumat (20/1/2012).

Hasil temuan terbaru dari satwa tersebut juga menambah panjang daftar primata, yang kini tercatat masih ada di Wehea. Setidaknya sepuluh jenis primata selain manusia ada disana. Jumlah tersebut juga menjadikan hutan Wehea sebagai salah satu lokasi hotspot primata dunia.

Selain jenis kera langur abu-abu, hutan Wehea juga merupakan tempat bernaung satwa seperti orang utan (Pongo pygmaeus), kera langur marun (Presbytis rubicunda), makaka dan monyet, macan tutul (Neofelis diardi), kucing pantai (Pardofelis marmorata) dan beruang madu (Ursus malayanus).

Kini luas hutan alam Wehea tersisa 38.000 hektare (ha). Namun kondisinya terus terjepit oleh berbagai aktivitas manusia yang berpotensi merusak lingkungan. Penulis kedua makalah tersebut, Stephanie Spehar, yang juga merupakan professor antropologi dari Universitas Wisconsin Oshkosh mengatakan kalau kondisi hutan di Wehea sama seperti yang lain di Kalimantan Timur.

“Wehea, seperti kebanyakan hutan di Kalimantan timur, terus terdesak oleh kegiatan manusia seperti penebangan kayu, perkebunan kelapa sawit dan penambangan batubara,” papar Spehar.

Bahkan hingga kini  menurut Spehar, jumlah luasan hutan alam Wehea sebenarnya sudah semakin kecil, karena penebangan kayu terus dilakukan disekitar garis terluar batas wilayah hutan.

Kondisi tersebut sebenarnya bertolak belakang dengan lahirnya Peraturan Presiden (Perpres) No 3 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan, 5 januari 2012. Dalam Perpres ini, pemerintah menegaskan bahwa untuk kelestarian kawasan konservasi keanekaragaman hayati dan kawasan berfungsi lindung yang bervegetasi hutan tropis basah, paling sedikit 45 persen dari luas Pulau Kalimantan, akan dijadikan sebagai paru-paru dunia.

Terkait dengan rencana menyediakan 45 persen luas Pulau Kalimantan sebagai paru-paru dunia itu, akan diatur berbagai kebijakan seperti pelestarian kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati tumbuhan dan satwa endemik kawasan, pengembangan koridor ekosistem antarkawasan konservasi, pemantapan kawasan berfungsi lindung dan rehabilitasi kawasan berfungsi lindung yang terdegradasi dan pengendalian kegiatan budi daya yang berpotensi mengganggu kawasan berfungsi lindung.

Sementara untuk mewujudkan kawasan ekowisata berbasis hutan tropis basah dan wisata budaya, pemerintah akan mengembangkan kawasan ekowisata berbasis ekosistem kehidupan orang utan, bekantan, meranti, anggrek, serta satwa dan tumbuhan endemik kawasan lainnya, dan mengembangkan kawasan wisata berbasis budaya Kalimantan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s