Masih Seremoni Cinta Puspa dan Satwa

Tahun 2011 Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) kembali digelar. Hajat milik Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Indonesia tersebut, berarti telah memasuki tahun 18, semenjak pertamakali digelar tahun 1993 lalu.

Tahun 2010 lalu, yang mendapat kehormatan sebagai ikon adalah burung kakatua dan Rafflesia Padma. Sementara tahun ini, lambang kehormatan berpindah ke katak api dan bunga Tetepok. Namun masih sama seperti tahun sebelumnya, kegiatan ini masih saja bersifat seremonial belaka.

Seperti pada kasus burung Kakatua. Meskipun telah menjadi ikon kehormatan di hari bagi satwa, malah sampai sekarang terus diburu dan diperjualbelikan secara bebas di Indonesia. Tak percaya? Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Profauna, yang berbasis melestarikan satwa Indonesia membuktikan, melalui observasi mereka sebelum pelaksanaan pesta olahraga bangsa Asia Tenggara (Sea Games), pertengahan November ini.

Dalam catatan Profauna, di pasar 16 Ilir Palembang, ada banyak jenis satwa dilindungi yang dijual termasuk jenis owa (Hylobates sp), elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster) dan Kakatua besar jambul kuning (Cacatua galerita) yang merupakan sebagai ikon satwa HCPSN 2010.

Selain penangkapan dan perdagangan internasional yang tidak memerhatikan keberlangsungan populasi untuk pulih, jenis-jenis kakatua dan paruh bengkok lainnya di Indonesia masih harus menghadapi ancaman berupa bukaan hutan untuk fungsi lain.

Sementara dalam perjalanan di Sungai Ae’ Manna Bengkulu, awal Maret 2011 lalu, penulis melihat sendiri bagaimana pengelolaan tumbuhan Rafflesia  teramat memiriskan. Bahkan lokasi dimana bunga Rafflesia pertamakali ditemukan, sudah teramat sulit dikunjungi. Sementara itu penanganan tumbuhan-tumbuhan baru Rafflesia teramat tak terurus. Dengan data penunjang yang minim dan tak memiliki kesinambungan pengelolaan secara jangka panjang.

Jadi jelas harapan Menteri Lingkungan Hidup (MenLH) kala itu, Gusti M Hatta agar perayaan HCPSN tidak hanya sekedar seremoni, dapat dikatakan perlu dievaluasi kembali bila memperhatikan kondisi saat ini.

“Meskipun begitu, tahun depan sudah semestinya dibuat sebuah inovasi baru untuk memperingati HCPSN, agar jangan hanya sebatas pada seremonial saja seperti sekarang ini,” kata Gusti saat itu.

Tapi tahun 2011 ini, keadaan tak jauh berbeda. Dalam artian tak banyak inovasi baru seperti yang diharapkan Gusti. Kembali dipilih dua ikon HCSPN, yang mewakili flora dan fauna, namun tetap tak mampu menyentuh substansi dasar masalah flora fauna di Indonesia. Yaitu perdagangan satwa dan kepunahan karena makin sedikitnya lahan hidup.

Tahun ini diperkirakan tak jauh berbeda. Meskipun Katak Api dan Bunga Tetepok ditetapkan sebagai ikon, namun diperkirakan itu hanya slogan pelestarian semata.

Menampik hal tersebut Wakil Presiden Indonesia Boediono menyatakan, makna dari peringatan adalah sesuatu bukan hura-hura, “Yang lebih penting makna mengingat ini adalah juga menerjemahkan pesan menjadi aksi nyata,” kata Wapres, melalui kantor berita Antara.

Beberapa satwa di Indonesia menurutnya perlu diperhatikan agar tak punah, seperti badak misalnya. Bahkan ia menyarankan adanya program khusus bersama antara negara-negara pemilik badak di Asia, untuk bersama memikirkan upaya untuk melestarikan satwa bercula keras tersebut.

Sementara itu Dedy Darnaedi, Peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkan bahwa keanekaragaman hayati merupakan sokoguru yang terbukti mampu menopang kehidupan berjuta rakyat Indonesia.

“Keanekaragaman hayati adalah modal dasar dan aset penting dalam pembangunan, walaupun kebijakan pemanfaatannya masih dilakukan secara tradisional dan boros, bahkan terkadang aset penting tersebut tersia-siakan,” tandasnya.

Dedy mengatakan bahwa masyarakat Indonesia harus menyadari keanekaragaman hayati adalah aset negeri dan masa depan bangsa. Gerakan menahan laju kerusakan lingkungan, degradasi lahan, kehilangan jenis dan erosi genetika (ekosistem, jenis, dan gen) serta pemulihan kesehatan lingkungan hidup perlu dilakukan secara serius.

“Hal itu bukan hanya gerakan moral semata, melainkan tercermin dalam kebijakan nasional sebagai etika pembangunan,” tutur Dedy, pada pengukuhan dirinya, sebagai Profesor Riset (LIPI), 10 Oktober 2011 lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s