Harga Mahal Hasil Mengecewakan

Lalu kalau mau dirunut, sebenarnya apa yang salah dalam program pelestarian badak sebelumnya?

Dalam penelusuran data yang ada, terdapat dua macam upaya untuk melestarikan badak Jawa. Pertama dengan pembiakan di dalam kandang dan dikawasan konservasi. Dari dua upaya tersebut, pembiakan di dalam kandang memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi. Terbukti dengan lahirnya seekor badak jantan bernama Andalas, dikebun binatang dan taman botani Cincinnati Amerika Serikat (AS). Keberhasilan tersebut jelas membuka jendela baru dalam bidang ilmu pengatahuan, mengingat program pembiakan badak di daerah asal tinggal badak, yang dilakukan sebelumnya selalu menemui jalan buntu.

“Badak hewan yang sangat sulit untuk melahirkan. Dalam masa setahun, badak hanya memiliki waktu empat minggu produktif dihamili. Namun dalam waktu empat minggu tersebut, seekor badak betina belum tentu mudah ditemui dan mau dihamili. Bahkan harus berkelahi dahulu,” urai Dirketur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI) Widodo Ramono menjelaskan pada pertengahan Agustus 2011 lalu.

Widodo pantas menjelaskan hal tersebut, mengingat lelaki ini telah lama malang melintang dalam dunia konservasi badak. Widodo juga yang kemudian terus mengikuti masa-masa kelanjutan hidup Andalas, setelah dipindahkan ke Suaka Badak Sumatra (Sumatra Rhino Sactuary/SRS) di Way Kambas Lampung,  tahun 2008 lalu.

Di Lampung, Andalas hidup dalam upaya pembiakan yang merupakan kelanjutan dari keberhasilan di Kebun Binatang Cincinnati. Diharapkan Andalas yang dijodohkan dengan seekor badak betina di SRS bernama Ratu, akan membuahkan anak. Apabila benar proses pembiakan tersebut berhasil, maka hal tersebut menjadi prestasi baru dari ilmu pengetahuan, dimana proses reproduksi ternyata bisa dilakukan di daerah konservasi dan bukan hanya di kebun binatang saja. Info terakhir, pasangan Andalas dan Ratu telah dua kali hamil. Namun kedua-duanya mengalami keguguran.

“Kalau belajar dari kasus Andalas dan Ratu, meskipun anak badak itu benar-benar lahir, tetap saja keberhasilannya dua kali gagal berbanding satu berhasil,” imbuh pakar mamalia besar, Hariyo T Wibisono.

Ahli mamalia lain, Suci Utami Atmoko lebih menyetujui pembangunan JRSCA tersebut. Mengingat hasil yang bisa dicapai JRSCA bila berhasil, maka akan menjadi langkah besar baru bagi ilmu pengetahuan. Mengingat belum adanya keberhasilan dari pembiakan badak di habitat aslinya.

“Perlu ada pengorbanan untuk kemungkinan baru. Dan pembangunan JRSCA bisa menjadi contoh dari hal tersebut,” kata Suci.

Harga Mahal

Namun kemungkinan keberhasilan itu, terlihat timpang bila melihat sisi pendanaan dari program serupa seperti JRSCA yagn telah ada sebelumnya. Karena sepertinya terlalu banyak dana yang telah dikeluarkan, tapi hasil yang telah ada terbukti mengecewakan.

Alan Rabinowitz dari Wildlife Conservation Society (WCS), pada tahun 1995 lalu telah memaparkan hal ini. Melalui esai berjudul Helping Species Go Extinct: The Sumatran Rhino in Borneo, Rabinowitz mengemukakan besarnya dana untuk pelestarian badak melalui program pembiakan dalam kandang (captive breeding), diprediksi tak akan bisa melepaskan satwa tersebut dari ancaman kepunahan.

Rabinowitz mengambil sampel program Sumatran Rhino Trust (SRT) yang mulai dilakukan pada tahun 1987, di Indonesia dan Malaysia. Pada program tersebut hingga tahun 1993, dana yang dikucurkan mencapai total US$ 2,5 juta. Namun tetap saja, tak ada satupun badak yang bisa dikembang-biakan.

Sementara hitung-hitungan kasar dari pembangunan JRSCA mencapai US$ 300.000, yang berarti sekitar Rp 6 milyar. Dengan dana sebanyak itu, sebenarnya bisa membiayai penjagaan tiga daerah konservasi, yang sama dengan TNUK.

Belajar dari India

Sekarang kalau mau melihat daerah konservasi badak di India, tak ada satupun yang memberlakukan pemagaran listrik. Seperti di Taman Nasional Kaziranga di Assam India, dengan sistem patroli dan penjagaan yang lebih baik, terbukti bisa menaikan jumlah populasi badak bercula satu dari tahun-tahun sebelumnya.

Tak hanya di Kaziranga, beberapa taman nasional lain di India seperti di Suaka Margasatwa , jumlah badak cula satu bertambah dari semula 84 ekor di tahun 2002, meningkat menjadi 108 ekor pada tahun 2010.  Sementara di Suaka Margasatwa Pobitora jumlah badak meningkat menjadi 81 ekor, dari semula 54 pada tahun 1987.  Di Taman Nasional , jumlah badak juga meningkat dari 35 pada tahun 1972,  menjadi 68. Dan di Gorumara menjadi 27 dari semula 22 ekor di tahun 2002.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s