Jurassic Park untuk Badak Jawa

Seperti film Jurassic Park, badak Jawa akan hidup di dalam kawasan konservasi berpagar listrik.

Kalau mau mencari ujung pangkal orang mencari dan membunuh badak, seharusnya orang Cina yang paling bertanggung jawab akan hal tersebut. Sebab menurut catatan-catatan kuno, ternyata penggunaan cula badak untuk kesehatan pertama kali dimulai di Cina, pada sekitar tahun 2600 sebelum masehi. Bahkan pada masa dinasti Tang, antara tahun 600 – 900 masehi, tercatat terjadi import besar-besaran cula badak ke Cina. Dengan terbukanya pasar obat cula badak tersebut, pemasok yang semula notabene dari Afrika, kemudian berkembang menjarah badak-badak yang berada di Asia Tenggara. Hingga kini badak yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), dipercaya merupakan sisa badak yang bisa selamat dari kejaran pemburu pada masa itu. Sisa spesies sejenis yang sampai saat ini masih bertahan, tinggal berada di daerah Cat Loc – Vietnam utara.

Proporsi populasi badak di Ujung Kulon, memiliki grafis yang mirip gelombang laut. Pada tahun 1937, diperkirakan ada 25 ekor, dengan rincian 10 jantan dan 15 betina. Tahun 1955, populasi badak diperkirakan bertambah menjadi maksimal 35 ekor. Namun sekitar tahun 1960, jumlah badak diprediksi menurun menjadi maksimal hanya 30 ekor saja. Bahkan pada tahun 1967, jumlah badak Jawa makin menyusut menjadi hanya 28 ekor. Ketika tahun 1975, kembali diadakan sensus badak Jawa, diperkirakan jumlah satwa berkulit keras tersebut meningkat menjadi berkisar 45 ekor. Kemudian data tahun 2000, WWF Indonesia memperkirakan jumlah badak di TNUK terhitung nilai rata-rata mencapai jumlah 42 individu. Sensus populasi badak Jawa yang dilaksanakan oleh Balai TNUK, WWF – Indonesia dan Yayasan Mitra Rhino (YMR) pada tahun 2001 memperkirakan jumlah populasi badak berkisar antara 50 – 60 ekor. Sensus terakhir yang dilaksanakan Balai TNUK tahun 2006, memperkirakan kisaran jumlah populasi badak Jawa maksimal sebanyak 27 ekor.

“Sampai sekarang rata-rata populasi badak Jawa terhitung minus 0,7 persen pertahun,” ujar Widodo Ramono, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI), pertengahan 2011 silam.

Angka minus tersebut terasa miris, sebab dapat diartikan bila program pelestarian badak Jawa terus dijalankan seperti sebelumnya, maka kepunahan tak akan terelakan pada jangka tertentu dimasa datang.

Dipisahkan Dari Manusia

Meskipun memiliki kulit yang keras, badak sebenarnya merupakan pemakan tumbuh-tumbuhan. Namun badak tidak memakan rumput, melainkan pucuk-pucuk pohon muda. Repotnya kini bahan makanan untuk badak di TNUK, makin minim keberadaannya. Lagipula kebanyakan pucuk muda, sepertinya banyak ditemukan badak pada daerah-daerah yang pada mulanya banyak di jarah manusia.

Karena kondisi tersebut, banyak badak kemudian bertemu dengan manusia. Banyak dampak dari pertemuan tersebut. Namun karena masing-masing merasa sama-sama menganggap saling berbahaya, maka terjadi konflik yang berakhir pada pembunuhan.

Selain dibunuh, manusia juga memiliki perangkat hidup yang dianggap membahayakan badak. Seperti kebiasaan manusia untuk memelihara kerbau. Kebiasaan kerbau berkubang, sama dengan badak, sehingga kebanyakan tempat berkubang kerbau di TNUK, kemudian juga dipakai oleh badak. Padahal dalam kubangan tersebut terdapat beberapa penyakit yang bisa mematikan badak. Seperti penyakit Tripanosoma, berasal dari kerbau yang kini banyak menjangkiti badak.

Oleh berbagai sebab tersebut, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memberikan kebijakan dijalankannya program Area Studi dan Konservasi Badak Jawa (Javan Rhino Study and Conservation Area/JRSCA). Dengan program tersebut akan dibangun pagar listrik, jembatan-jembatan kecil, dan rute-rute patroli baru. Berbagai upaya tersebut diharapkan bisa memperkecil resiko pertemuan badak dengan manusia, dan berbagai bentuk gangguan penyakit.

Kontroversif

Niat tersebut kemudian dianggap kontroversif. Mengingat pemagaran jelas-jelas bukan dianggap solusi jalan tengah yang inginkan banyak pihak. Belum lagi adanya pembukaan jalan patroli baru, yang jelas membelah TNUK dan menghancurkan ribuan pohon yang telah hidup lama didalamnya.

“Upaya pemagaran litrik untuk melindungi badak jawa seperti langkah frustrasi,” tukas pakar mamalia besar, Hariyo T Wibisono.

Sebab menurutnya masih banyak upaya lain yang bisa dilakukan, untuk upaya pelestarian satwa tersebut.

Tak cuma Hariyo yang tak sepakat dengan JRSCA, Guru Besar Ekologi Satwa Liar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Hadi S Alikodra juga mengingatkan, kalau pemagaran bisa menjadi bumerang. Ditakutkan badak dan hewan lain justru mengalami kematian, karena areal jelajahnya dibatasi. “Kebiasaan fauna makan di suatu lokasi akan terhambat oleh pagar beraliran listrik sehingga mereka akan kelaparan,” analisa Alikodra.

Ditengah carut marut upaya konservasi itu, pihak YABI bersikukuh tetap melanjutkan proyek JRSCA tersebut. Sebab kabarnya sudah kepalang tanggung, dana US$ 300.000 dari International Rhino Foundation (IRF) telah dikucurkan. Lalu sepertinya manusia mengambil untung dengan proyek tersebut, badak malah seperti masuk penjara berpagar listrik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s