Pemagaran Perkecil Kepunahan Badak Jawa

Kontroversi mengenai pemagaran yang akan dilakukan pada daerah Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) untuk program Area Studi Konservasi Badak Jawa (Javan Rhino Study Conservation Area/JRSCA), ditepis sebagai langkah terbaik untuk menyelamatkan populasi badak jawa yang kini makin kritis.

“JRSCA dibangun untuk menyediakan kondisi habitat dataran rendah dengan pakan yang cukup dan baik bagi badak jawa,” papar Widodo Ramono, Ketua Yayasan Badak Indonesia (YaBI), di kampus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Depok, Selasa (26/7/2011).

Selain memastikan ketersediaan lahan dan pakan yang memadai, rencana pemagaran tersebut juga dibangun untuk menghindarkan kemungkinan penularan penyakit zoonosis dari ternak masyarakat.

“Tanpa pemagaran, penyakit seperti Tripanosoma yang dibawa kerbau bisa makin menyebar pada badak,” tambah Widodo lagi. Penyakit tersebut disinyalir menjadi penyebab paling utama dari kematian badak saat ini.

Sementara alasan lain dibangunnya pagar pembatas yang akan dialiri listrik tersebut, juga dimaksudkan untuk memudahkan pemantauan dan membatasi gangguan, penyediaan faktor kesejahteraan bagi badak, sebagai tempat untuk mempelajari perilaku antara lain biologi dan reproduksi badak, serta untuk memberikan kemungkinan untuk menyeleksi calon-calon induk yang akan dipindahkan ke habitat lain sebagai populasi kedua badak jawa.

Dekan FMIPA UI, Adi Basukriadi juga menganggap rencana pemagaran merupakan langkah terbaik, yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan badak jawa sekarang ini. Sementara masalah terputusnya koneksi badak dengan ekosistem diluar area program JRSCA, menurut Adi sudah diperhitungkan melalui adanya koridor penghubung antara area JRSCA dan diluarnya.

Di lain pihak, pakar mamalia besar, Hariyo T Wibisono mengkritisi masalah konsep JRSCA yang dianggap telah mengeluarkan banyak biaya namun tak kunjung memperlihatkan hasil memuaskan.

“Program seperti ini telah dilakukan bertahun-tahun lamanya, dengan biaya yang tak kecil juga. Namun hasilnya masih dapat dianggap mengecewakan saat ini,” imbuhnya pada kesempatan berbeda.

Beberapa konsep serupa yang bisa disebutkan merupakan program Rhino Protection Unit (RPU) yang tak berjalan lagi saat ini. Sementara program Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) yang diharapkan bisa menjadi lokasi pengembangbiakan badak, tak kunjung membuahkan hasil juga.

Menurut info yang beredar, SRS telah berhasil membuat badak jantan bernama Andalas dan betina bernama Ratu hamil sampai dua kali, namun kedua proses kehamilan tersebut mengalami keguguran.

“Keberhasilan program konservasi badak dengan pemagaran listrik seperti itu, terhitung leih banyak tak berhasil. Lebih baik belajar dari India, yang berhasil mengkonservasi badak di daerah-daerah konservasi dengan tanpa pemagaran,” tambah Hariyo.

Pembangunan pagar beraliran listrik itu sendiri direncanakan berada di daerah Cilintang hingga Aermokla, yang diperkirakan sepanjang 28 kilometer (km), dan di Laban hingga Karang Ranjang sepanjang dua km. Selain pemagaran juga akan dibuat jalan sepanjang pagar tersebut, sebagai sarana bagi para penjaga untuk melakukan patroli.

Perkembangbiakan badak jawa sendiri hingga kini diasumsikan bergerak sangat lambat, dengan tren pertumbuhan negatif, dimana rata-rata pertumbuhan diperkirakan bernilai minus 0,7 persen pertahun. Jika tren tersebut terus bertahan, maka diprediksi badak jawa akan punah pada akhir abad 21 ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s