Kegagalan Pembangunan Berkelanjutan

Menjelang 20 tahun setelah Deklarasi Rio tentang lingkungan dan pembangunan disepakati, kerusakan alam dan kemiskinan tetap menghantui dunia. Tahun 2012 nanti akan dihelat konferensi serupa, komitmen politik teramat diperlukan untuk memperbaiki nasib dari pembangunan berkelanjutan.

Antara tahun 1990 – 1992 semua orang di Indonesia ini mungkin sudah tahu kalau sungai Ciliwung yang membelah kota Jakarta sudah tercemar. Maka pantas bila Menteri Lingkungan Hidup kala itu, Emil Salim dan Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto melakukan gebrakan dengan “Gerakan Ciliwung Bersih”.

20 tahun setelahnya, alias tahun 2011 ini, semua juga maklum kalau tingkat pencemaran di Ciliwung tak beranjak membaik. Hal ini menjadi bukti, bahwa bahkan setelah 20 tahun banyak pihak berkoar-koar, melakukan tindakan kebersihan, membuat kelembagaan yang diperlukan ternyata tak membuat kondisi lingkungan semakin baik.

Emil salim pantas kecewa dengan kondisi ini. Pria yang kini memiliki alis serba putih itu, pasti sadar, kalau kondisi perbaikan lingkungan di Indonesia seperti berjalan di tempat saja.

“Sepertinya paham lingkungan diterima dengan kecurigaan,” papar Emil Salim, saat ditemui di sela acara Dialog Tingkat Tinggi untuk Pembangunan Berkelanjutan, yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) di Solo, sepanjang minggu ketiga Juli 2011 lalu.

Maka pantas kemudian perjalanan paham lingkungan, seperti berada di medan perang. Bertubrukan dengan berbagai kebutuhan lain, terutama ekonomi dan tak mendukung keinginan sosial.

Padahal ketiga soal tersebut harusnya jalan beriringan. Sebab menurut Emil Salim lagi, ketiga unsur ekonomi, sosial dan lingkungan, merupakan tiga pilar utama dari konsep pembangunan berkelanjutan.

“Pembangunan itu tak hanya ekonomi, tapi juga sosial dan lingkungan,” tambah Emil lagi, sebagai salah satu saksi hidup dari Indonesia, yang turut menggolkan turut sertanya Indonesia menandatangani Deklarasi Rio mengenai pembangunan berkelanjutan tahun 1992 lalu, di kota Rio de Jenairo Brazil.

Ketimpangan dari ketiga unsur tersebut, dijelaskan lebih mendalam oleh staf khusus Menteri Lingkungan Hidup (MenLH) bidang lingkungan global Liana Bratasida, mengakibatkan tekanan lebih berat untuk kehidupan manusia. Diperkirakan kebutuhan terhadap makanan harus ditambah 35 persen, energi 37 persen dan sumber daya 70 persen.

Bahaya dari ketimpangan ketiga unsur tersebut bila didiamkan hingga 2030, malah akan mempengaruhi proses produksi yang harus ditambah 35 persen, tanah dan erosi total 21 persen, dan resiko krisis air bertambah 30 persen.

Tak ada yang harus menanggung beban tersebut, selain ekonomi dan sosial. Dimana berarti manusia harus lebih keras bekerja dan bersiap menghadapi resiko penyimpangan sosial lebih beragam.

Komitmen Politik

Ada dua isyu utama yang dianggap sebagai biang kerok tak mulusnya penerapan konsep pembangunan berkelanjutan, di berbagai negara dunia. Sha Zukang, yang telah ditunjuk oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Ban Ki-Moon untuk menjadi kepala Sekretariat  Konferensi Rio +20 menyatakan kalau kedua isyu tersebut merupakan penerapan ekonomi hijau dan kelembagaan yang tak memadai.

Untuk mencari solusi untuk masalah tersebut, kemudian di kota Solo, antara 19-21 Juli 2011 digelar Dialog Tingkat Tinggi untuk Pembangunan Berkelanjutan yang khusus membahas mengenai kelembagaan yang tak memadai. Hasilnya lahir mandat bernama Pesan Solo (Solo Message), yang salahsatu pesannya menginginkan dileburnya Komite mengenai Ekonomi dan Sosial (Economy Social Committee/Ecosoc) dan Komite Pembangunan Berkelanjutan (Committee of Sustainable Development/CSD) menjadi satu bernama Dewan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Council/SDC). Diharapkan dengan adanya dewan tersebut, maka fungsi kelembagaan yang saat ini dianggap tak kuat, kurang koheren, dan tak terkoordinasi secara efektif dan konstruktif bisa diperbaiki.

Dalam penutupan kegiatan di Solo tersebut, Sha Zukang menyatakan akan membawa mandat tersebut ke PBB dalam waktu dua minggu ke depan. Diharapkan dengan adanya mandat tersebut berarti acuan untuk perbaikan terhadap perjalanan konsep pembangunan berkelanjutan dapat dibenahi dalam Konferensi Tingkat Tinggi mengenai ekonomi dan pembangunan, yang kembali akan digelar di kota Rio de Jeneiro tahun 2012 nanti (Rio +20).

Sementara Menteri Lingkungan Hidup (MenLH) Gusti M Hatta menekankan perlunya penguatan politik untuk pencapaian nilai ideal pembangunan berkelanjutan.

“Kita bisa mendesain institusi terbaik, perjanjian terbaik, mekanisme terbaik, namun tanpa komitmen politik dan implementasinya, semua institusi tersebut tak akan berjalan dan tak akan bergerak kemanapun,” ujar Gusti.

Komitmen politik tersebut, yang kemudian dianggap sebagai point utama perbaikan pembangunan berkelanjutan dimasa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s