Belang Hitam Pembangunan Berkelanjutan

Konsep pembangunan berkelanjutan pada akhirnya dianggap terlalu ambisius. Berbagai masalah mulai dari dasar hingga implementasi, menjadi belang hitam yang patut dihilangkan.

Lingkungan sebagai salah satu pilar pembangunan berkelanjutan, kerap dikalahkan ketimbang faktor ekonomi. Sumber daya digerogoti terus menerus, tanpa memperdulikan keterbatasan. Akhirnya kini kita dihadang oleh resiko kehidupan yang makin besar. Krisis pangan menghadang, krisis energi, kemiskinan, bencana akibat kerusakan alam, punahnya keanekaragaman hayati menjadi masalah yang harus dihadapi anak cucu.

“Bila ingin memperbaiki kondisi pembangunan berkelanjutan saat ini, maka seharusnya paham korporatokrasi harus dihancurkan,” tukas Ketua Institut Hijau Indonesia (IHI), Chalid Muhammad di sela kegiatan Dialog Tingkat Tinggi untuk Pembangunan Berkelanjutan, di Solo, Rabu (20/7/2011).

Korporatokrasi mulanya diperkenalkan John Perkins dalam bukunya yang berjudul Confessions of An Economic Hit Man tahun 2004 lalu. Dalam buku tersebut Perkins membeberkan berbagai upaya untuk menjebak negara-negara berkembang, agar terlibat utang dalam jumlah besar, dan membelit negara tersebut untuk mengambil keuntungan dengan dalih pembayaran utang.

Korporatokrasi jelas merugikan bagi negara berkembang yang notabene berada di daerah selatan. Itu lantaran negara maju, yang banyak berada di utara bumi, jelas memanfaatkan korporatokrasi ini untuk mengeruk sumber daya alam, yang memang lebih banyak berada di negara berkembang.

Negara berkembang seperti Indonesia jelas hanya bisa mengangguk, ketika berbagai kontrak karya untuk mengeruk sumber daya alam diajukan negara pemberi utang. Seperti juga cerita orang tua Siti Nurbaya, yang hanya bisa mengangguk ketika Datuk Maringgih meminta anaknya menjadi ganti utang yang tak bisa dibayarkan.

“Mau dibungkus seperti apa saja, kondisi sekarang ini hanya akan menjadi pelayan korporasi,” imbuh Chalid lagi.

Maka tak ada jalan lain, untuk memastikan pembangunan berkelanjutan bisa berjalan sesuai harapan, dan tak timpang antara tiga pilar ekonomi, sosial dan lingkungan didalamnya, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengganti format pemikiran ekonomi saat ini, yang semula berbasis korporasi berganti dengan kerakyatan.

Itu baru satu belang hitam yang dianggap menjadi musabab konsep pembangunan berkelanjutan tak berjalan sesuai harapan. Sebab lainnya dibeberkan Pejabat Sementara Direktur Eksekutif Pusat Hukum Lingkungan Indonesia (Indonesia Center of Environmental Law/Icel), Henri Subagyo dalam bentuk tidak sinerginya implementasi dari tiga pilar pembangunan berkelanjutan yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan.

“Terdapat ketimpangan dari implementasi ketiga pilar tersebut,” ujar Henri, yang mewakili kalangan organisai non pemerintah dalam dialog tingkat tinggi tersebut.

Masalah ketimpangan tersebut kemudian merembet pada tahap implementasi. Penegakan hukum yang tak tegas makin membuat implementasi melemah. Contoh-contoh yang dapat diberikan berkisar pada tahap perencanaan, yang tak sepadan, serta tidak lahirnya perangkat-perangkat hukum yang memadai untuk memuluskan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Sementara delegasi dari Amerika Serikat (AS) Kerri Ann Jones berpendapat kalau implementasi pembangunan berkelanjutan, sampai saat ini belum menyentuh semua tingkat kehidupan bermasyarakat.

“Aksi untuk pembangunan berkelanjutan seharusnya dilakukan oleh kalangan akar rumput yang dibantu oleh pemerintah lokal, organisasi non pemerintah, kalangan bisnis, ilmuwan dan warga negara” ujar Kerri.

Sementara untuk pemerintah pusat dan organisasi antarpemerintah seharusnya memfasilitasi dan mengkatalisasi upaya tersebut.

Makin hari, berbagai belang hitam pembangunan berkelanjutan kian terkuak. Semua harus dibersihkan dan diperbaiki. Bukan lain, upaya perbaikan tersebut dimaksudkan agar manusia tidak terjerembab di lubang yang sama. Sebab hanya keledai yang melakukan hal seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s