Terkaya Karena Merusak Alam

Orang terkaya di Indonesia terus bertambah. Hanya sayangnya sumber kekayaan tersebut berasal dari industri yang terbukti merusak lingkungan. Sudah saatnya memiliki sumber kekayaan yang lebih ramah terhadap alam.

Berbagai media termasuk Forbes dan Asia Globe, terus memunculkan daftar nama orang terkaya di Indonesia. Daftar Forbes yang dikeluarkan Mei 2011 lalu, bahkan menyimpulkan adanya tren meningkat pada jumlah dan pemilik kekayaan. Bahkan ada nama-nama baru yang sebelumnya tak ada. Seperti misalnya pada nama Kiki Barki, yang menurut Forbes memiliki kekayaan mencapai US$ 2 milyar, menempati peringkat ke tujuh.

Nama pengisi peringkat pertama terkaya, terus berubah-ubah, berbeda-beda pula, tergantung dari institusi yang melakukan penilaian. Namun Globe Asia, yang mengeluarkan nama 150 orang terkaya di awal bulan Juni 2011 ini, menaruh nama Eka Tjipta Widjaja sebagai pengisi peringkat pertama. Jumlah kekayaan Eka Tjipta tercatat mencapai US$ 12 milyar.

Tapi masalahnya, sumber kekayaan tersebut membuat dahi jadi mengkerut juga. Bagaimana tidak, ternyata sebagian besar dari orang terkaya tersebut memiliki kekayaan yang berasal dari sumber-sumber yang cenderung memiliki daya rusak tinggi terhadap lingkungan.

Seperti misalnya Eka Tjipta, sumber kekayaannya berasal dari industri kelapa sawit. Globe Asia menyebutkan, kekayaan Eka Tjipta meningkat tajam terutama karena ekspansi besar-besaran yang dilakukan Sinar Mas dalam bisnis minyak sawit

“Kami memperkirakan Sinar Mas memiliki lebih dari satu juta hektare perkebunan kelapa sawit, baik di bawah produksi atau pada tahap awal persiapan. Ini saja bernilai USS 8 miliar,” tulis Globe Asia.

Itu belum apa-apa, bahkan dalam list orang terkaya versi Forbes, diketahui delapan dari 10 orang terkaya di Indonesia diketahui memiliki bisnis yang potensial merusak lingkungan, karena bergerak dibidang batubara, sawit dan kertas. Uniknya lagi, diketahui juga, kalau nama-nama baru orang kaya, seperti Kiki Barki, juga diketahui memiliki perusahaan penambangan batubara, dengan nama PT Harum Energy Tbk.

Bukti Merusak

Mengklasifikasi jenis industri yang memiliki potensial besar dalam kerusakan dibidang lingkungan, dapat ditelusuri melalui dampak yang diakibatkan. Seperti misalnya batubara, yang dikenal mampu melepaskan karbondoksida (CO2) dan menyebabkan perubahan iklim. Tidak hanya dalam bentuk dampak tak langsung, penambangan batubara juga merusak fisik bumi secara langsung. Terbukti dengan pembabatan hutan sebelum penambangan dibuka, dan minimnya kesadaran pengusaha untuk menutup kembali lubang tambang yang telah tidak dipergunakan kembali.

Salah satu contohnya adalah kondisi di Kalimantan Timur, dari 18 perusahaan pertambangan batu bara dan sejumlah bahan tambang lain seperti emas, dari 20.530,51 hektar lahan yang dibuka, sekitar 11.532,35 ha, sama sekali belum direklamasi maupun direvegetasi. “Lokasi tambang terbuka berupa lubang-lubang raksasa berdiameter ratusan meter dengan kedalaman lebih dari 100 meter. Saat hujan, lubang-lubang tersebut berisi air dan membentuk kolam-kolam raksasa,” ungkap Rhino Subagyo dari Indonesia Center for Environmental Law (Icel).

Jenis industri lain merupakan kelapa sawit dan perusahaan kertas. Untuk kelapa sawit, dianggap tak ramah lingkungan karena memiliki sistem monokultur. Dimana hanya satu jenis tanaman saja yang ada di setiap lahan. Padahal pembukaan lahan sawit, bisa saja menggusur jenis tanaman lain yang bisa saja sama, atau bahkan lebih nilainya.

Menteri Kehutanan Ri, Zulkifli Hasan juga membenarkan dominasi sawit dalam perusakan hutan.  Zulkifli Hasan pernah membeberkan, kalau kasus pelanggaran perambahan hutan terbanyak terjadi pada perluasan lahan sawit. “Terbesar adalah sawit, ada juga tanaman budidaya lainnya,” kata Zulkifli.

Sementara industri kertas diketahui banyak memanfaatkan berbagai jenis kayu, untuk produksi. Karena sifat industri kertas yang rakus kayu tersebut, maka pantas bila berbagai jenis kayu bisa dibabat dan dijadikan bahan dasar. Bahkan Greenpeace, pada Kamis (9/6) kemarin menyatakan kalau pembabatan hutan karena kebutuhan industri kertas di Sumatera, telah membuat satwa langka seperti harimau makin kehilangan tempat tinggal.

Industri Baru

Membicarakan praktik-praktik peduli terhadap lingkungan bisa diaplikasikan dalam berbagai bentuk, oleh berbagai individu dan korporat juga. Namun bagi kalangan korporasi, aplikasi kepedulian terhadap lingkungan, kadang identik dengan makna ‘Greenwash’. Makna tersebut dapat diartikan sebagai upaya cuci tangan dari korporasi perusak lingkungan, dengan membuat acara-acara atau kegiatan-kegiatan yang mengesankan peduli terhadap lingkungan.

Bagi para pebisnis yang jeli melihat paradigma ini, kemudian cenderung memilih usaha yang lebih ramah terhadap lingkungan. Karena kalau mau pintar melihat celah, sebenarnya banyak bisnis bernuansa lingkungan, yang bisa membuat seseorang menjadi kaya juga.

Seperti misalnya bisnis karbon offset, atau penjualan fungsi hutan dalam menyerap karbondioksida penyebab perubahan iklim. Bahkan negara seperti Indonesia telah mengambil keuntungan dari bisnis ‘hijau’ seperti karbon offset. Terbukti dengan ditandatanganinya kesepakatan antara Indonesia dan Norwegia, dalam program Pengurangan emisi penyebab perubahan iklim melalui perbaikan deforestasi dan degradasi hutan (Reducing Emission from forest Deforestation and Degradation/REDD) yang bernilai mencapai US$ 1 milyar.

Mungkin kurang tepat kalau dimasukan bisnis pemerintah dalam hal ini. Namun bisnis secara perorangan sebenarnya terbukti juga bisa membuat kaya, dengan tanpa merusak hutan. Seperti pada daftar orang terkaya di dunia yang dikeluarkan Forbes tahun 2011 ini, lima peringkat teratas tidak sama sekali memiliki industri seperti kelapa sawit atau pertambangan.

Contohnya Carlos Slim Helu dari Meksiko, menjadi terkaya di dunia dengan bisnis komunikasi. Bill Gates pemilik Microsoft dan Larry Ellison pemilik Oracle dari Amerika Serikat (AS), menjadi lima besar terkaya dunia dengan bisnis teknologi informasi.

Jadi sebenarnya potensi untuk menjadi orang kaya, tidak melulu berasal dari usaha yang merusak hutan. Ide-ide kreatif baru bisa dimunculkan. Bahkan penjualan barang-barang non ekstraktif seperti lagu, fashion, budaya mampu memberikan pemasukan besar bagi negara seperti Inggris.  Kelihatannya itu lebih bermartabat, ketimbang menjadi kaya karena merusak alam. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s