Menjaga Lingkungan Sebelum Mati dan Lahir Kembali

Kajian lingkungan saat ini seperti berada di medan perang. Ada pihak-pihak yang gontok-gontokan, dan korban-korban didalamnya. Jurnalisme damai dibutuhkan agar ada batas yang dipertahankan dan solusi sama-sama menang (win-win solution).

Wartawan senior Aristide Katoppo menyebut hal ini. “Seperti meliput pemberitaan di daerah konflik. Idealnya tak bisa hanya mengirim dua reporter yang meliput dari dua pihak yang berkonflik. Namun juga mencari jalan tengah agar konflik tersebut bisa sesegera mungkin diselesaikan,” ungkapnya.

Ucapan wartawan gaek yang akrab dipanggil Tides ini  mendapat perhatian dalam diskusi antarwartawan lingkungan yang digelar awal tahun 2011 ini di Jakarta.

“Kasus lingkungan saat ini sama juga seperti medan perang. Ada yang setuju dan tidak. Ada merasa merusak dan tidak. Namun jelas harus dicarikan batas-batas yang disepakati agar lingkungan saat mendatang tidak semakin rusak,” ungkapnya.

Tides yang mantan Pemimpin Redaksi Sinar Harapan, terhitung sudah puas makan asam garam dalam dunia lingkungan. Dahulu bersama Soe Hok Gie, Herman O Lantang, dan Rudy Badil bersama-sama memupuk kecintaan mereka pada lingkungan melalui perjalanan-perjalanan mendaki gunung bersama kelompok Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia.

Pemikiran untuk melestarikan lingkungan tersebut kemudian ditularkan juga melalui pemberitaan-pemberitaan di Sinar Harapan. Bahkan pada media-media lain yang masih merupakan underbouw dari PT Sinar Kasih seperti tabloid mingguan Mutiara, pemberlakuan prioritas artikel bertema lingkungan juga didahulukan.

“Delapan puluh persen isi artikel di Mutiara waktu itu diarahkan untuk ilmu pengetahuan dan lingkungan sebagai gaya hidup,” tutur Don Hasman, mantan fotografer Mutiara yang kini terkenal dengan gaya foto etnografi.

Dicekoki dengan prioritas seperti itu, jelas meninggalkan bekas mendalam bagi Don Hasman. Bahkan bertahun-tahun setelahnya, Don tetap memegang teguh perhatian pada kelestarian lingkungan. Terutama melalui foto-foto berbau masyarakat dan tradisinya.

Selain memanfaatkan pemberitaan, proses penularan perhatian pada kajian lingkungan juga dilakukan Sinar Harapan melalui bentuk lain, seperti penyelenggaraan lomba foto lingkungan yang pertama kali di adakan di Indonesia. Lucunya dari lomba tersebut, ada yang mengirimkan foto mengenai profil satu keluarga utuh. Mungkin karena dikira, pembahasan mengenai lingkungan adalah tentang manusia.

Dari hasil lomba foto tersebut akhirnya diketahui, kalau kapasitas masyarakat mengenai lingkungan masih sangat rendah. Sehingga perlu dilakukan upaya-upaya yang lebih efektif untuk menginformasikannya secara lebih luas kepada masyarakat.

Ternyata pemikiran serupa juga dimiliki oleh Menteri Lingkungan Hidup yang pertama kala zaman Orde Baru, Emil Salim. Dalam penuturannya tentang sejarah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Emil jelas mengungkapkan keinginannya untuk menggelindingkan makin besar “bola salju” isu lingkungan untuk kemaslahatan umat Indonesia.

Upaya menggelindingkan “bola salju” tersebut bersambut dengan niat Sinar Harapan. Setelah partisipasi Sinar Harapan dalam kelahiran Himpunan untuk Kelestarian Lingkungan Hidup (Hukli), yang kala itu dikomandani oleh George Aditjondro, dan kelahiran Kelompok Sepuluh sebagai cikal bakal Walhi, Sinar Harapan akhirnya turut tercatat sebagai arsitek kelahiran Walhi, pada tanggal 15 Oktober 1980. Waktu itu Sinar Harapan diwakili oleh Winarta Adisoebrata.

Sinar Harapan Baru

Hanya karena pembredelan tahun 1986, yang membuat Sinar Harapan vakum dalam memberitakan masalah lingkungan. Untungnya setelah kelahiran kembali Sinar Harapan pada tahun 1999, pemberitaan mengenai lingkungan hidup kembali mendapatkan tempat yang layak.

Salah satu mantan Redaktur Pelaksana Sinar Harapan, Nuryadi, mencoba menjabarkan tingkat kepedulian surat kabar pada pemberitaan mengenai lingkungan hidup, khususnya mengenai air pada harian Sinar Harapan dan Kompas. Meskipun hasil penelitiannya menunjukan hasil yang kurang memuaskan, namun paling tidak terdapat porsi yang seimbang mengenai pemberitaan lingkungan. Tercatat dalam periode satu tahun, antara 2 Januari sampai Desember 2003, terdapat 432 tulisan mengenai lingkungan yang dihasilkan Kompas, dan 255 tulisan dihasilkan Sinar Harapan. Namun secara umum frekuensi dan porsi pemberitaan lingkungan masih dianggap sedikit, bila dibandingkan dengan pemberitaan bidang lain.

Diantara hasil yang masih dianggap sedikit tersebut, pada kenyataannya Sinar Harapan mampu menembus takaran kesuksesan. Salah satunya penghargaan utama dari Indonesia Forest and Media Campaign (Inform) pada tahun 2004. Reporter desk lingkungan Bayu Dwi Mardana terpilih sebagai penulis artikel investigasi terbaik mengenai pembalakan hutan di perbatasan Indonesia – Malaysia.

Tak hanya berkutat pada pemberitaan, upaya aktif Sinar Harapan dalam pembahasan lingkungan juga terasa pada aktivitas lain. Seperti diskusi-diskusi mengenai lingkungan hidup yang digelar bersama para pengusaha industri sawit untuk mendorong industri sawit berkelanjutan.

Diskusi tak hanya digelar pada isu-isu krusial, isu lingkungan plural seperti pembenahan kota tua Jakarta juga diangkat oleh Sinar Harapan. Hasilnya kota tua Jakarta kini dapat lebih dinikmati oleh masyarakat Jakarta, setelah direhabilitasi habis-habisan.

Menyadari makin kompleksnya masalah lingkungan pada masa depan, pantas bila Sinar Harapan kemudian kembali membantu membidani lahirnya Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (Society of Indonesian Environmental Journalist/SIEJ) di Tangkahan Sumatera Utara. Tercatat sekitar 46 wartawan dari seluruh Indonesia hadir dan turut mendeklarasikan kelompok baru tersebut. Kehadiran organisasi wartawan ini jelas bisa membantu meningkatkan kapasitas pengetahuan masyarakat mengenai isu lingkungan. Sebab dengan meningkatkan kapasitas wartawan, berarti meningkatkan kapasitas pembacanya juga.

Oleh sebab itu pantas bila kemudian salah satu artikel Sinar Harapan dijadikan sumber data dalam konflik yang terjadi antara masyarakat Minahasa dan PT Newmont Minahasa Raya (NMR), mengenai pencemaran di Teluk Buyat.

Artikel yang memuat pernyataan Rignolda Jamaluddin, direktur Perkumpulan Kelola,  mengenai gejala-gejala penyakit yang dialami para warga Buyat menyerupai korban tragedi di Teluk Minamata, Jepang. Artikel yang diterbitkan tanggal 21 juli 2004 itu juga yang kemudian dijadikan bahan PT NMR untuk mensomasi Rignolda, dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Kontroversi selalu ada, namun jelas secara intens Sinar Harapan tetap konsisten menularkan perhatian pada kelestarian lingkungan. Peperangan karena kasus lingkungan juga mungkin akan tercipta, dan secara pasti Sinar Harapan akan berdiri ditengahnya dengan maksud damai. (Sulung Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s