Menghitung Nilai Ideal KKL

Ada dua mahzab besar dalam menghitung kelayakan sebuah lokasi dapat
diresmikan menjadi Kawasan Konservasi Laut (KKL). Pertama  berdasarkan luasan teritorial laut. Kedua berdasarkan habitat unik atau rentan yang ada di wilayah tersebut.

Agus Dermawan, sebagai salah satu pakar dari pengelolaan kawasan konservasi laut menuturkan, kalau kedua mahzab tersebut sekarang yang menjadi patokan nilai ideal kawasan konservasi laut di sebuah negara.

“Sampai tahun 2020 kita menargetkan ada kawasan konservasi laut mencapai 20 juta hektare,” urai Agus.

Hitungan tersebut belum mencapai ideal sebenarnya. Karena paling tidak KKL harus mencapai 10 persen dari luas terotori laut sebuah negara. Indonesia yang memiliki teritori laut mencapai 310 juta hektare, berarti perlu 31 juta hektare
dijadikan KKL.

“Tapi masalahnya, teori itu diciptakan oleh orang-orang yang hidup di wilayah
yang memiliki laut sedikit, tapi punya daratan banyak,” ungkap Agus.

Latar belakang tersebut jelas berpengaruh, karena ternyata untuk kawasan seperti Indonesia yang lebih banyak memiliki lautan, parameter ideal KKL jadi tak mudah dilaksanakan. Pasalnya, dengan jumlah penduduk yang terhitung terbanyak di dunia, sebagian besar hidup dari lautan. Nilai ekonomi Indonesia akan tinggi dibidang kelautan di masa depan. Dengan membuat KKL sebanyaknya akan menimbulkan masalah baru, seperti masyarakat nelayan yang makin sempit lokasi mencari penghidupan.

Tolok ukur nilai ideal kawasan konservasi laut juga dihitung berdasarkan  parameter habitat rentan yang ada dikawasan tersebut. Secara ideal menurut ukuran ini, ada 20-30 persen wilayah dengan habitat rentan harus dijadikan KKL.

Di Indonesia ada tiga jenis mahluk laut yang dijadikan parameter konservasi
laut, yaitu terumbu karang, mangrove, dan padang lamun. Untuk luasan terumbu karang, saat ini sudah dicapai wilayah konservasi seluas 747-750 hektare.

“Itu berarti sekitar 22,7 persen wilayah terumbu karang di Indonesia sudah
terlindungi,” urai Agus, dan memenuhi parameter habitat rentan.

Sementara untuk daerah mangrove atau hutan bakau di pesisir pantai, sekarang ini sudah ada seluas 758.472 hektare dijadikan kawasan konservasi. Itu berarti sudah mencapai 22 persen dari total kawasan mangrove yang ada di Indonesia dilindungi. Perlindungan terhadap mangrove ini diklaim juga sudah memenuhi kriteria ideal.

Hanya kawasan konservasi padang lamun yang diperkirakan belum mencapai nilai ideal. Karena luas daerah konservasi padang lamun baru mencapai 304.866 hektare.

“Itu berarti baru mencapai 17,3 persen dari total kawasan padang lamun yang ada di Indonesia,” lanjut Agus.

Jadi secara teori, kawasan konservasi laut di Indonesia sudah lebih dari setengah dari target yang diharapkan. Yang paling sulit tentunya meluaskan nilai ideal konservasi laut, berdasarkan luasan daerah KKL.

Terutama masalah kelembagaan dan sumberdaya manusia yang tidak mumpuni, Indonesia seakan berkejaran dengan kebutuhan konservasi dan pertumbuhan ekonomi. Pekerjaan rumah yang terus harus diselesaikan merupakan mencari cara agar kebutuhan ekonomi berimbang dengan kelestarian laut. Sebab percuma saja mencari ikan banyak-banyak, bila suatu waktu ikan-ikan tersebut punah lantaran tak terpikirkan bagaimana melestarikannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s