Indonesia Laboratorium Bencana

Bencana sudah dapat dipastikan akan terus melanda Indonesia. Mengingat
posisinya yang berada di pertemuan berbagai lempeng, adanya barisan gunung api, dan kondisi lingkungan yang makin rusak. Tak ada cara lain untuk menghadapinya, selain selalu bersiap dan tidak hanya menunggu bantuan.

Kalau mau bicara bencana, mungkin Indonesia bisa dikatakan salah satu
laboratorium yang paling lengkap. Bagaimana tidak, posisi Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, ternyata menyimpan unsur-unsur kebumian yang sebenarnya teramat membahayakan jiwa.

Seperti kondisi lipatan lempeng bumi di bagian barat Indonesia. Desakan
teraturnya ternyata menimbulkan banyak masalah. Maka wajar bila kemudian tsunami dan gempa bumi kerap menghajar wilayah Sumatera dan timur Indonesia.

Direktur Pengurangan Resiko Bencana BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, kalau peningkatan potensi bencana gempa, diperkirakan akan terus meningkat akhir-akhir ini.

“Dalam catatan yang ada, dari tahun 2000 hingga 2009 tren frekwensi gempa
meningkat signifikan sekali,” ujar Sutopo, Senin (20/9/2010).

Dalam catatan Sutopo, kondisi tersebut main membahayakan karena kebanyakan gempa berkekuatan hingga 5 skala richter (SR), yang semakin mengalami peningkatan.

Kondisi bisa bertambah runyam bila mendengar ulasan pakar pergerakan tanah,
Adrin Tohari dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Lantaran menurut Adrin, potensi pergerakan tanah sangat mungkin terjadi bila magnitude atau getaran akibat letusan atau gempa bumi mencapai pada skala 5 SR.

“Pergerakan tanah bisa terjadi karena dua hal. Magnitude getaran yang teramat
besar atau titik jenuh tanah menampung air sudah mencapai maksimal,” urai Adrin.

Gerakan tanah, menurut Adrin juga bisa terjadi pada daerah-daerah dengan tanah yang labil. Pada tanah labil usai terjadinya letusan gunung berapi, bukan tak mungkin akan mengakibatkan longsor bila curah hujan terus turun secara ekstrem.

 

Gunung Berapi

Gunung berapi yang berderet teratur dari barat laut ke tenggara Sumatera, hingga melintas Jawa, kepulauan Sunda Kecil dan kemudian mengarah ke Sulawesi selatan dan utara, menjadi masalah lain yang tak kalah besar.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi  (PVMBG) menyatakan setidaknya ada 129 gunung berapi yang teridentifikasi di Indonesia. Tapi sebenarnya belum semua gunung api teridentifikasi. Seperti diungkapkan Kepala PVMBG Surono, masih banyak gunung berapi yang tidak diketahui, terutama yang berada di dalam lautan.

Kondisi tersebut sebenarnya membahayakan, mengingat bisa saja mereka meletus sewaktu-waktu. Kemudian bila belajar dari kasus letusan gunung Sinabung, yang baru lalu. Gunung berapi yang dianggap tak aktif, ternyata bisa saja meletus tanpa isyarat apapun.

“Di Indonesia berdasarkan pemetaan terdapat 129 gunung api. Tiga persennya masih aktif di dunia. Delapan puluh gunung aktif dari tahun 1.600 sampai kini dan terdapat tiga gunung api bawah laut dan 65 gunung api sangat aktif,” papar
Surono, pada Workshop Pengembangan Analisis Resiko Bencana Nasional yang
diadakan di Jakarta, belum lama ini.

Dalam buku Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Bencana potensi risiko bencana gunungapi pada masa datang yang perlu mendapat perhatian adalah Gunung Merapi, Soputan dan Lokon. Gunung Merapi di Yogyakarta  mempunyai perulangan letusan cukup pendek berdasarkan sejarah letusannya yaitu tahun 1994, 1997, 1998, 2001 dan 2006. Letusan tersebut memiliki pola yang sama yaitu pertumbuhan kubah lava, kubah lava kolaps dan menghasilkan awan panas yang melanda daerah sekitar gunung Merapi pada jarak tertentu.

Sedangkan kawah gunungapi yang berisiko tinggi pada masa akan datang adalah kawah Gunung Ijen dan Dempo. Gunung Ijen terletak di Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Gunung Ijen merupakan gunungapi aktif yang mempunyai keunikan danau kawahnya, karena airnya paling asam di dunia. Letusan terbesar Gunung Ijen terjadi pada tahun 1817 mengakibatkan danau kawahnya menghasilkan aliran lumpur yang mengarah ke utara (Kecamatan Asembagus), ke timur (Desa Wongsorejo) dan ke selatan (Desa Genteng) dan merusakkan 3 desa dan 90 rumah.

Sedangkan kawah Gunung Dempo berpotensi untuk mematikan ikan. Apabila ikan tersebut dikonsumsi oleh penduduk akan sangat berbahaya.

Hidrometeorologi
Kemungkinan bencana tak berhenti hanya disitu saja. Kondisi iklim global dan
degradasi lingkungan yang makin rusak saat ini, turut menambah potensi yang ada.

Bencana seperti banjir dan longsor, diperkirakan akan makin kerap terjadi,
mengingat adanya fenomena perubahan iklim, yang menyebabkan kondisi iklim yang makin ekstrem.

Hal itu juga diamini oleh Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sugeng Tryutomo. Dalam penjelasannya Sugeng memperkirakan potensi bencana ke depannya akan memperlihatkan tren yang semakin meningkat secara signifikan, 70 persen diantaranya adalah bencana hidrometeorologi.

“Tren peningkatan potensi bencana tersebut seiring dengan
meningkatnya perubahan iklim global dan degradasi lingkungan,” ungkap Sugeng,” pada  kesempatan berbeda.

Jadi bukan basa-basi bila Indonesia dianggap sebagai laboratorium bencana dunia. Karena memang segala macam bencana, baik secara geologi atau lingkungan memang ada disini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s