Botol Miring dan Kosong di Jalur Sesat

Catatan SAR Anggota Mapala UI di Pangrango

Akhir minggu paska lebaran 2010 lalu, bisa jadi merupakan saat yang paling sulit dilupakan untuk dua orang anggota Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI). Rendy Eko Oktavianus (22) dan Ali Budiarto Hadianta (23) dikabarkan tersesat di gunung Pangrango, Jawa Barat.

Sebegitu cepat kabar tersebar di twitter, Kamis (16/9/2010). Ali dan Rendy diisyukan menghadapi masalah ketika mendaki Pangrango melalui jalur Ciheulang. Pasalnya Ali sempat berpesan sebelum pergi tanggal 12 September 2010 lalu. “Tolong dicari kalau kami belum kembali tanggal 16 nanti,” begitu pesan Ali, kepada rekan di sekretariat Mapala UI.

Hingga sore tanggal 16 September, kedua rekan yang merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) tersebut ternyata benar-benar belum kembali. Suasana seketika menegang ketika Audryn Atlantis, yang merupakan sahabat terdekat Ali melaporkan hal tersebut, dan meminta secepatnya dilakukan pencarian.

sar ui1

dok.sulung prasetyo
Pencarian Search and Rescue (SAR) anggota Mapala UI di Pangrango terhambat tebing dan air terjun yang curam.

Peta segera digelar. Rekan-rekan yang lain juga dikumpulkan. Setelah berkoordinasi sebentar diputuskan empat tim dikirimkan hari itu juga, untuk mengecek kondisi dengan metode SAR tahap pertama yaitu tracking mode atau pengecekan jalur dengan melintasinya saja secara cepat, dan berharap korban masih ada atau tercecer dijalur utama.

Diputuskan satu tim menuju jalur Geger Bentang yang berada di arah utara Pangrango, dengan kemungkinan mereka turun ke daerah tersebut, mengingat jalur itu yang paling mudah dilalui. Tiga tim lain disebar ke arah Pasir Datar, di barat laut Pangrango. Tiga tim itu direncanakan menyisir jalur Pasir Pangrango, Ciheulang dan Situgunung, mengingat area tersebut merupakan titik awal mereka melakukan pendakian.

Menjelang tengah malam, Rendy tiba-tiba mengabarkan kondisi mereka melalui pesan pendek (SMS). Pesan pendek tersebut berisi kondisi mereka yang membutuhkan bantuan. Mereka turun ke arah jalur Cisarua. Sementara Ali dalam kondisi sakit. Makanan tinggal tersisa satu hari. Terjebak di jurang dan di depan mereka terhalang tebing.

Kontan seluruh tim yang sudah kadung meluncur ke titik-titik yang direncanakan, segera berbalik arah ke Cisarua. Tepat pagi hari Jumat tanggal 17 September 2010, berkumpul 11 orang anggota Mapala UI di Cisarua. Delapan orang segera bergerak naik menyisir jalur Cisarua, sementara tiga orang yang lain membuka posko Search and Rescue (SAR) sementara di pinggir Taman Safari.

Botol Miring

Waktu serasa bergerak cepat. Delapan orang tim pencari bergerak bagai kesetanan. Mendaki dengan menempuh hujan yang terus turun mulai siang hari, sambil berteriak-teriak memanggil nama Rendy dan Ali, berharap mereka mendengar datangnya pertolongan. Di pertengahan jalur penyisiran, tiba-tiba ditemukan seseorang meringkuk. Pakaiannya hanya kaus dan celana jeans, serta kaki yang ditutupi kain seadanya.

Itu bukan Rendy atau Ali. Lalu siapa? Ketika ditanyakan sepertinya laki-laki itu mengalami gangguan mental. Tak mengerti mengapa ia ada disitu, hingga berapa lama, dan kapan akan turun. Namun ia mengaku bernama Rahmat, tinggal di Cipanas, serta tak melihat dua orang pendaki turun melalui jalur tersebut.

Setelah Rahmat memakan dengan rakus semua makanan, minuman dan rokok yang tawarkan. Dengan berat hati, ia ditinggalkan. Mengingat harus mencari Rendy dan Ali. Namun sebelum pergi sempat dipesankan agar ia jangan pergi kemana-mana, karena akan ada tim lain yang akan membawa makanan dan mengantarnya turun nanti.

Sebelum berangkat, Oktora Hartanto, yang menjadi pimpinan regu pencari ini, segera mengabarkan kepada M Yusuf di posko SAR sementara, kalau mereka menemukan botol miring, sebagai sandi menemukan orang dengan kondisi metal terganggu.

Botol Kosong

Pencarian kembali dilakukan. Terus menyisir jalur Cisarua, hingga bertemu dengan jalur Pasir Pangrango. Siang hari, pertemuan jalur Cisarua dan Pasir Pangrango pada ketinggian 2700 meter diatas permukaan laut (mdpl) dicapai. Dalam kondisi hujan camp sementara dibangun, dipertigaan tersebut. Makan siang kemudian dimasak, sementara beberapa rekan melakukan survey kemungkinan ke arah timur laut, yang menuju puncak Pangrango.

Dalam taklimat singkat setelah survey, dan dengan memperhatikan pesan singkat yang dikirimkan Rendy sebelumnya, dapat dipastikan seharusnya dua rekan tersebut melintas jalur Cisarua untuk turun. Karena satu-satunya jalur di utara setelah puncakan kecil pertama di jalur Pasir Pangrango dari arah puncak Pangrango memang benar dipertigaan, dimana kami berada saat ini.

Sesaat ketika makan siang dihidangkan, Sofyan Nurhadi tiba-tiba berteriak dari arah barat laut. Ketika dihampiri ternyata ia menemukan jenazah. Kondisi jenazah tersebut diperkirakan telah berusia tiga minggu, dengan bau yang menusuk hidung. Namun dapat dipastikan jenazah itu bukan Rendy atau Ali.

sar ui2

dok.sulung prasetyo
Jenazah yang ditemukan saat mencari anggota Mapala UI yang hilang di gunung Pangrango.

Kembali kami memutuskan turun melalui jalur Cisarua. Memastikan tiap tikungan atau titik yang menyebabkan mereka tersesat dicek kembali. Proses penyisiran terasa demikian berat, lantaran hujan kembali turun dengan deras. Bahkan hingga pukul 19.00 WIB hujan tak juga berhenti, dan tak ada tanda-tanda pasti mengenai keberadaan Rendy dan Ali. Mengingat kondisi anggota tim yang makin tak menguntungkan, akhirnya diputuskan menghentikan pencarian dahulu. Di ketinggian 1400 mdpl, tim pencari jalur Cisarua memutuskan membuka camp darurat dan beristirahat.

Penyisiran Sungai

Sabtu (18/9/2010) pencarian kembali dilakukan. Dalam koordinasi dengan posko SAR Cisarua, diketahui posisi posko SAR dipindahkan ke titik Balekambang. Disana juga dikabarkan berbagai organ pencari sudah berkumpul untuk turut membantu. Pihak Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) jelas langsung turun tangan. Tim yang lain merupakan perwakilan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Perkumpulan Wanadri, serta klub pecinta alam yang lain. Kebanyakan kemudian dikabarkan menyisir daerah jalur Balekambang, serta pinggir-pinggir sungai di Cisarua.

Tim pencari di Cisarua segera bergerak kembali mencari dengan berkonsentrasi di daerah bawah ketinggian 1400 mdpl. Mengingat di daerah tersebut banyak terdapat jalur turun yang dibuat oleh pencari kayu dan penduduk setempat. Sehingga diasumsikan Rendy dan Ali mengalami kesulitan ketika mencari jalur turun di area tersebut.

Namun hingga menjelang makan siang, tak terdapat juga tanda-tanda dari Ali maupun Rendy. Meskipun telah kembali di cek semua kemungkinan jalur-jalur yang ada, berteriak-teriak hingga serak, namun tetap saja mereka seperti ditelan bumi saja layaknya.

Setelah makan siang sebentar, tim pencari meneruskan penyisiran dengan cara menyusuri sungai. Dengan dugaan mereka membuka tenda dipinggir sungai, dan berpatokan pada pesan yang dikirimkan Rendy sebelumnya. Dimana mereka terjebak di lembah dan terhalang tebing tinggi, serta dekat sungai.

Area sekitar sungai Cisarua kemudian disusuri. Saya, Ali Rahman, Ringga dan M Fauzan ke arah timur, sementara Oktora Hartanto, Abi, Mujab dan Sofyan N ke arah barat. Kali ini kami bersepakat hanya menyusuri sungai hingga satu setengah jam ke muka. Mengingat hari semakin sore, dan persediaan makanan tim makin menyusut. Jadi kami memutuskan akan turun ke bawah, dengan atau tanpa korban pada hari tersebut.

Penyisiran di sungai terasa lebih melelahkan, karena energi banyak terkuras oleh dingin dan basah. Belum lagi harus berteriak-teriak untuk memanggil. Kedua tim akhirnya bertemu lagi pada titik awal, bahkan sebelum satu setengah jam menyusur. Alasannya sama, kedua tim menemui air terjun yang sangat menyulitkan pergerakan dan memutuskan mundur saja dahulu.

Sore hari sebelum memutuskan turun, terdengar kabar korban kembali mengabarkan kondisi mereka, baik melalui pesan pendek maupun telepon. Kesimpulannya mereka berupaya sendiri turun hingga menemui desa, yang ternyata berada dititik jalur Pasir Benyeng, di arah lebih ke barat daya dari Cisarua.

Rendy dan Ali kemudian ditemukan di desa tersebut sekitar pukul lima sore. Dengan kondisi sehat, dan hanya terluka sedikit pada kaki dan tangan. Setelah melalui berbagai proses rumit dengan aparat militer, polisi dan taman nasional, akhirnya mereka kembali ke sekretariat Mapala UI, hari Senin (20/9/2010).

Setelah ditanyakan dengan pasti sebab musabab tersesatnya mereka, Ali dan Rendy menjelaskan adanya kesalahpahaman mengenai titik mereka turun setelah melintas jalur Pasir Pangrango. Karena sebelumnya mereka berencana turun di Cisarua, namun malah terbawa hingga ke pertigaan jalur Pasir Pangrango dan Pasir Benyeng.

Kemungkinan hal tersebut terjadi karena kondisi hujan yang terus menerus terjadi, sehingga pengamatan terhdap titik turun menjadi terhalang. Sementara hujan yang terus turun membuat perjalanan makin berisiko. Terbukti dengan kemungkinan mereka salah mengambil jalur turun dan mengantarkan mereka ke arah jalur yang makin curam dan tak terbuka. Daerah curam itu juga yang membuat Ali sempat terperosok ke dalam jurang sedalam setidaknya enam meter. Penyebab terperosok itu kemudian membuat Ali menjadi shock dan dikabarkan sakit.

Sambil terus menganalisa berbagai kemungkinan lain, sempat terbersit dalam pikiran, bagaimana nasib botol kosong yang kami tinggalkan sebelumnya. Karena seharusnya dia perlu sesegera mungkin dievakuasi. Apakah tak ada kerabat yang memperhatikannya? Hingga bisa berminggu-minggu disana, tanpa bantuan? Lalu bagaimana dengan dengan botol miring yang menghilang. Apakah ia akan menjadi botol kosong berikutnya, yang tanpa seseorangpun mencarinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s