Kereta Makin Menuju Ramah Lingkungan

Kereta api pertamakali dioperasikan oleh perusahaan Stockton and
Darlington di Inggris pada tahun 1825. Terus berkembang hingga kini, menjadi
alat transportasi massal yang sulit tergantikan fungsinya. Bahkan terus
dikembangkan hingga makin cepat dan makin ramah terhadap lingkungan.

Sebenarnya bila dibandingkan dengan pesawat atau mobil pribadi, kereta api
memiliki nilai efisiensi energi lebih rendah. Seperti dijelaskan oleh berbagai
sumber yang ada di internet, sebuah kereta api menggunakan energi 70 persen
lebih rendah daripada pesawat terbang. Kemudian bila dibandingkan dengan mobil pribadi, kereta api hanya mengeluarkan karbondioksida (CO2) kurang dari 27 kilogram per penumpang, dalam jarak 322 kilometer. Sementara mobil pribadi, mengeluarkan CO2 sebesar 78 kilogram perpenumpang, dalam jarak yang sama.

Bila mengingat CO2 merupakan unsur utama penyebab pemanasan global yang
menyebabkan perubahan iklim saat ini. Bukan basa-basi bila secara normal kereta api sebenarnya lebih ramah lingkungan, bila dibandingkan dua pengangkut massal manusia yang lain, seperti pesawat atau mobil.

Nilai plus kereta api terhadap kelestarian lingkungan tersebut, kemudian makin
bertambah dengan berbagai aplikasi baru yang dipraktekan pada kereta api saat
ini. Seperti yang dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI), Minggu (12/9/2010) yang baru lalu.

Dengan niat suci untuk melestarikan lingkungan pula, KAI akhirnya membuat kereta api baru jurusan Jakarta-Solo dengan fasilitas WC atau toilet yang ramah
lingkungan. Direktur Utama KAI, Ignasius Johan pada peluncuran kereta api
tersebut di stasiun Gambir Jakarta menyatakan toilet tersebut memiliki bak
penampungan sehingga kotoran tidak langsung jatuh ke jalan rel. Kemudian, dalam bak tersebut diisi air yang dicampur dengan bahan mikroba sebagai bahan penghancur dan penetralisir kotoran, sehingga kotoran yang dibuang akan berbentuk air yang tidak mencemarkan lingkungan.

“Agar toilet berfungsi maksimal maka bak penampungan akan diganti setiap tiga
bulan sekali,” urai Johan.

Meskipun tak menyebutkan mengenai kemungkinan penghematan energi yang dipakai, namun upaya tersebut cukup terasa melegakan. Mengingat kondisi toilet kereta api di Indonesia yang hingga kini terasa masih dibawah standar kenyamanan.

Bangkitkan Energi
Urusan kereta ramah lingkungan, lain lagi yang dilakukan oleh sistem
perkeretaapian di negara bagian Amerika Serikat (AS), Pennsylvania. Menurut
berita yang dilangsir earthcling.com, Jumat (10/9/2010) ini mengabarkan kalau kereta api disana saat ini memanfaatkan sistem penghentian untuk membangkitkan energi.

Manajer umum Otoritas Transportasi Pennsylvania Tenggara (Southeastern
Pennsylvania Transportation Authority/SEPTA) Joseph M Casey bilang kemungkinan tersebut bisa saja terjadi karena adanya daya dorong saat kereta tersebut direm.

“Memelankan objek bergerak, secara esensial berarti memindahkan energi yang
seharusnya digunakan,“ papar Casey.

Energi yang tak terpakai dan daya dorong objek bergerak tersebut yang kemudian dikumpulkan, dan kemudian digunakan untuk membangkitkan energi.

Perusahaan Septa sendiri kemudian berencana mengumpulkan energi tersebut, dan kemudian menjualnya kepada perusahaan listrik yang ada. Diharapkan setidaknya US$ 500.000 dapat dihasilkan dari upaya ini.

Kereta Biofuel 
Lain lagi yang dilakukan operator kereta api Amtrak yang juga berdomisili di AS.
Tetap dengan semangat melestarikan lingkungan, Amtrak merencanakan membuat kereta api dengan bahan biofuel.

Meskipun belum terasa maksimal, karena sebenarnya masih mencampurkan antara 80 persen solar dan 20 persen biofuel, namun paling tidak upaya tersebut bisa makin meminimalkan CO2 yang keluar ke angkasa, demikian dilaporkan situs Guardian, pada akhir April 2010 lalu.

Menurut kabar, hingga akhir bulan Mei 2010 ini, Amtrak telah mempromosikan
kereta berbahan bakar biofuel tersebut, dengan harga karcis lebih murah 50
persen. Mengingat persaingan harga tiket dengan pesawat terbang, yang juga makin rendah disana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s