Patahan Gempa Menuju Jakarta Tak Terdeteksi

Meskipun mengandung resiko besar, patahan bernama Baribis di utara
Jawa Barat menuju Jakarta tak pernah terdeteksi hingga saat ini. “Jakarta pernah mengalami gempa besar tahun 1699 dan 1852 lalu,” ujar Danny Hilman N, pakar gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pada acara peluncuran peta bahaya gempa Indonesia di Jakarta, Senin (16/8/2010).

Dari kedua kejadian gempa tersebut, memiliki skala yang terhitung besar.
Sayangnya data mengenai hal tersebut teramat minim. Namun dari data itu terlihat ada siklus 200 tahunan gempa besar yang terulang.

Hal tersebut menjadi masalah besar, karena kondisi bangunan dan gedung-gedung di Jakarta yang sebenarnya tak memiliki daya adaptasi terhadap gempa.

“Kalau belajar dari Chili, kita patut waspada terhadap gempa besar di Jakarta
yang bisa meruntuhkan gedung-gedung,” tambah Mashyur Irsyam dari Tim 9, yang merupakan tim khusus Presiden RI untuk masalah sosial dan bencana.

“Dari hasil perhitungan di Chili, setidaknya daya rambat dari bawah tanah
memiliki tambahan energi goyang lebih dari 4,5 kali lebih besar. Sementara
ketika mencapai permukaan daya goyang gempa bisa meningkat sampai 21 kali,” ungkap Mansyur lagi, pada kesempatan serupa.

Sementara kalau dianalisis diperkirakan kondisi tanah yang ada di Jakarta,
merupakan tipe tanah lunak yang sama juga seperti terdapat pada Chili.

Resiko Bertambah 
Secara mendalam, peta potensi bencana yang diresmikan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tersebut merupakan upaya untuk memahami kondisi gempa yang tahun-tahun terakhir ini kerap terjadi di nusantara, serta korelasinya dengan tuntutan bangunan lebih tahan gempa. Dari penilaian pergeseran dan kondisi tanah, diketahui beberapa pulau di Indonesia memiliki potensi bencana lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.

“Seperti pada pulau Jawa, kondisi kerentanan terhadap bencana gempa meningkat 30 persen dibandingkan tahun 2002 lalu,” urai Mansyur.

Potensi peningkatan itu sendiri berdasarkan parameter makin banyaknya bangunan dan lokasi tinggal manusia, serta frekuensi kejadian gempa di Indonesia selama ini.

Sementara itu dibagian timur Indonesia, meskipun memiliki frekuensi tinggi
terkena gempa, namun jumlah penelitian mengenai kegempaan disana masih terhitung sedikit. Gap tersebut dianggap Kepala Pusat Mitigasi Institut Teknologi Bandung (ITB) I Wayan Sengaran, sebagai hal yang perlu diperbaiki dimasa depan. Sebab tanpa kemampuan riset yang baik, maka niat unutk menurunkan resiko bencana akan mustahil tercapai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s