Pembalak Merbau Papua Tak Tersentuh Hukum

Laporan terbaru yang dikeluarkan Telapak dan Environmental Investigation Agency (EIA) menjabarkan kalau dua nama gembong pembalak kayu
merbau dari Papua dari Indonesia sama sekali tak tersentuh hukum, dan dengan bebas melenggang hingga saat ini.

“Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum untuk meneliti kasus pembalakan liar harus difokuskan pada dua penyelundup merbau seperti yang terlampir dalam laporan ini, Ricky Gunawan dan Hengky Gosal,” ucap Hapsoro dari Telapak, di Jakarta, Kamis (6/8/2010).

”Sudah waktunya bagi Indonesia untuk berusaha dua kali lebih keras untuk melawan pembalakan liar dan penyelundupan ilegal dengan mengejar dua pelaku utama,” tambah Hapsoro lagi.

Dalam laporan bertajuk  Rogue Traders: Bisnis Hitam Penyelundupan Merbau di
Indonesia, EIA dengan Telapak mengidentifikasi pengusaha Ricky Gunawan dan
Hengky Gosal sebagai dua pelaku utama dalam penyelundupan kayu merbau ilegal.

Investigasi penyamaran yang dilakukan Telapak dan EIA dalam beberapa tahun
terakhir, mengikuti peredaran perdagangan merbau ilegal di Cina dan Singapura,
juga Surabaya, Makassar, dan Papua di Indonesia. Merbau merupakan kayu yang bernilai tinggi karena keras dan kuat. Merbau biasa digunakan untuk lantai,
furnitur, dan pintu. Di Indonesia, hampir semua merbau berasal dari Papua. Hutan Papua merupakan bagian dari hutan tropis utuh yang masih tersisa di wilayah Asia Pasifik. Sekitar seperempat hutan Papua telah habis dalam 12 tahun terakhir.

Pada Oktober 2009, 23 kontainer kayu merbau tujuan Cina, India, dan Korea
Selatan disita di Jakarta. Telapak dan EIA menyamar sebagai pembeli kayu
membongkar operasi penyelundupan yang dilakukan oleh Hengky Gosal. Penyitaan tersebut menunjukkan betapa lemahnya sistem pemantauan kayu legal di Indonesia yang dilakukan oleh Sucofindo dan Badan Revitalisasi Industri Kayu.

Saat berbincang dengan investigator, Hengky Gosal mengakui telah menyelundupkan hingga 50 kontainer balok kayu merbau setiap bulannya ke Cina. Hal tersebut tentunya melanggar aturan yang menyebutkan bahwa ekspor kayu Indonesia dilarang.

Hengky Gosal juga mengatakan ia menyuap petugas bea cukai untuk memastikan pengiriman yang aman keluar dari Indonesia.

Salah satu tempat utama lain untuk perdagangan kayu ilegal adalah di Surabaya,
Jawa Timur. Ricky Gunawan yang sudah cukup dikenal sebagai penyelundup memilih Surabaya sebagai tempatnya beroperasi. Telapak dan EIA telah menyerahkan beberapa laporan tentang kegiatan Ricky Gunawan dari 2007 kepada pihak berwenang. Namun tetap tidak ada investigasi dan penyelidikan yang dilakukan. Desember 2009 Ricky masih saja mengirimkan balok kayu merbau ilegal ke selatan Cina.

Dengan menggunakan beberapa cara untuk memperdaya, Gunawan dapat mempengaruhi pihak berwenang. Salah satu pengiriman merbau tujuan Cina miliknya yang diakui sebagai “komponen jembatan” tertahan di bea cukai pada April 2009. Namun intervensi oleh pegawai pemerintahan dan anggota DPRD memastikan pengiriman tersebut terus berjalan mulus.

Laporan ini merupakan hasil investigasi Telapak dan EIA antara tahun 2009 hingga 2010. EIA dan Telapak mengimbau pemerintah Indonesia untuk menginvestigasi kedua nama tersebut dan melindungi kayu merbau melalui Convention on International Trade in Endangered Species (CITES).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s