Badai Matahari Tak Pengaruhi Cuaca

Badai, biar bagaimana bentuknya selalu menimbulkan kesulitan. Mulai dari badai Katrina, badai salju, hujan badai, sampai badai masalah. Apalagi sekarang, ketika isyu badai matahari terus merebak. Kemudian semua dikaitkan dengan efek yang akan dihasilkan. Termasuk didalamnya suhu bumi yang akan makin tinggi. Tapi adakah hubungan antara badai matahari dan pemanasan global, yang saat ini juga menjadi masalah besar bumi ini?

Matahari dikenal memiliki nilai energi yang teramat besar. Bahkan saking besarnya, kita, manusia-manusia dibumi bisa merasakannya ketika siang hari. Saat terik matahari terasa panas-panasnya. Itu dampak yang paling mudah dirasakan, dari energi yang dipancarkan matahari.

Sifat matahari yang berbeda dari beberapa isi bumi antariksa lain, jelas menimbulkan animo berbeda bagi tiap-tiap ilmuwan yang tertarik untuk menelitinya. Salah satunya Mausumi Dikpati dari Pusat Penelitian Atmosfer Nasional (National Center for Atmospheric Research/NCAR), yang berada di bawah koordinasi Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Setelah bertahun-tahun meneliti matahari, Dikpati menemukan, kalau matahari ternyata memiliki juga siklus pelepasan energi didalamnya. Kalau dibumi, siklus tersebut bisa dianalogikan seperti rotasi arus pada lautan dunia. Dimana pada suatu masa, arus yang berputar didunia ini, akan berbalik dan menempuh rotasi yang sama dengan sebelumnya. Jadi arus laut tidak mengitari bumi, namun memiliki putaran pribadi diantara pulau-pulau yang ada dibumi.

Di matahari, energi juga memiliki putaran atau rotasi sendiri. Dalam penjelasan Dikpati, yang kemudian dikeluarkan oleh NASA, siklus putaran tersebut berlangsung paling tidak sebelas tahun sekali. Dan pada titik akumulasi putaran tersebut, matahari akan memancarkan energi besar yang sekarang dikenal dengan badai matahari.

Badai matahari sebenarnya mulai dikenal pada tahun 1958 lalu. Dimana dua satelit milik Rusia dan AS, yaitu Sputnik dan Explorer 1 tiba-tiba mengalami masalah di angkasa. Usut npunya usut, ternyata masalah komunikasi dan pelaporan data dari kedua satelit tersebut, merupakan dampak dari pancaran energi besar dari siklus matahari.

“Sekarang diprediksi pancaran badai matahari akan lebih kuat 30 sampai 50 persen, dari yang ada sebelumnya,” tutur Dikpati.

Pemanasan Global
Penjelasan Dikpati tersebut jelas menumbuhkan beberapa tesis baru. Termasuk kemungkinan efek makin meningginya suhu bumi, akibat terpapar semburan badai matahari tersebut. Proses pemanasan tersebut, juga diprediksi dapat mempengaruhi kondisi iklim dan cuaca.

Namun hal tersebut disangkal dengan tegas, oleh beberapa ahli iklim dan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dam Geofisika (BMKG) Indonesia. Dalam penjelasannya disela pemaparan prediksi musim kemarau 2010, yang digelar di Jakarta, Selasa (9/3/2010), jelas disebutkan kalau badai matahari tidak akan mempengaruhi kondisi cuaca secara jangka pendek.

“Badai matahari hanya peristiwa alam angkasa, yang sulit bisa dikorelasikan akan menyebabkan pengaruh cuaca dalam jangka pendek,” ujar Tuwamin Mulyono, Deputi Meteorologi BMKG.

Menurutnya saat ini, kondisi cuaca terpicu oleh sebab-sebab jangka panjang, seperti El Nino, Dipole Mode, Madden Julian Oscillation, dan perubahan angin muson timur. Sementara penyebab  lain seperti badai matahari jelas tidak masuk hitungan.

Lebih dalam, Kepala BMKG, Sri Woro Budiati Harijono menjelaskan kalau pemanasan global yang terjadi saat ini, lebih utama disebabkan karena adanya kelebihan gas-gas yang terperangkap di atmosfer bumi. Gas yang paling utama merupakan CO2 atau karbondioksida. Sehingga perlu dilakukan berbagai upaya mitigasi dan adaptasi untuk menghadapinya. Namun bila dikaitkan dengan fenomena badai matahari, yang kini sedang hangat dibicarakan, Sri Woro menampik secara jelas kalau kedua hal tersebut memiliki korelasi atau hubungan yang saling mengikat erat.

Sementara itu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), tetap memberikan peringatan kepada semua pihak untuk mewaspadai dampak dari badai matahari ini. Dalam keterangan yang disebarkan disela seminar Centre for Remote Sensing and Ocean Sciences (Cresos) International Symposium on South East Asia and Pasific Environment Problems and Satelite Remote Sensing di Universitas Udayana, Denpasar, Selasa 9 Maret 2010 ini jelas menyebutkan kalau badai matahari memang tidak akan memberikan pengaruh besar bagi manusia, namun lebih berpengaruh terhadap sistem teknologi seperti satelit karena partikel badai matahari yang meletup mengenai satelit secara langsung.

Kepala Bidang Aplikasi Geomagnet dan Magnet Antariksa Lapan, Clara Yono Yatini menjelaskan, “Matahari ini akan memiliki aktivitas, sehingga memiliki letupan-letupan yang sampai ke bumi, namun tidak besar pengaruhnya terhadap manusia, karena letupan matahari tersebut mengenai satelit yang ada di angkasa.”

Sementara mengenai aktivitas badai matahari dan pemanasan global serta perubahan iklim, Clara menyatakan kalau saat ini hubungan dampak antara keduanya sedang terus dikaji oleh para peneliti. Namun Clara menyarankan sekali agar masyarakat juga bisa mengantisipasi sendiri gangguan gangguan akibat badai matahari tersebut. Dimana masyarakat yang berkepentingan dengan teknologi diimbau agar mematikan satelit, listrik, serta segala bentuk teknologi saat terjadi badai matahari nanti. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s