Trembesi Tak Terbukti Pengaruhi Lingkungan

Keberadaan pohon trembesi (Albizia Saman) ditengarai tak terbukti memberikan pengaruh negatif terhadap keadaan lingkungan disekitarnya. Demikian diungkapkan Administratur KPH Perhutani Madiun, Kristomo, di Madiun, Rabu (3/3/2010).

“Keberadaan pohon Trembesi di Madiun 40 tahun terakhir ini tak membuktikan ada masalah dengan pertumbuhan tanaman lain,” ujar Kristomo.

Menurut pengamatan Kristomo, pohon Trembesi yang dikenal dengan nama Ki Hujan tersebut malah tumbuh dengan rindang, dan tajuknya yang besar menjadi peneduh lingkungan disekitarnya.

Jadi menurut Kristomo, pandangan yang mengasumsikan kalau jenis pohon Trembesi bersifat invasif dan bisa menyebabkan kerugian karena menghambat pertumbuhan tanaman lain tidak terbukti sama sekali.

“Selain itu, buah Trembesi juga bisa dimakan dan memiliki kemampuan yang tinggi untuk menyerap karbon sebagai penyebab pemanasan global,” tambahnya.

Hanya menurutnya, kekurangan pohon Trembesi tidak memiliki nilai jual yang tinggi sebagai bahan dasar produk kayu. Karena jenis batang yang banyak bercabang dan tidak memiliki batang pokok utama yang menjulang tinggi. Berbeda dengan jenis pohon Mahoni dan Jati yang memiliki batang utama yang lurus tinggi.

“Jadi paling-paling batang Trembesi dijual untuk bahan dasar pahatan patung seperti di Bali,” imbuh Kristomo lagi.

Sementara kalau untuk dipakai sebagai bahan dasar furniture, tidak akan mampu memenuhi kebutuhan, karena jenis batang yang kecil dan banyak.

Lebih jauh Kristomo menyarankan jenis Mahoni, sebagai solusi jenis pohon yang mampu menangkap karbondioksida banyak, namun juga memiliki nilai produksi tinggi. Sebelumnya beberapa peneliti mengungkapkan asumsi pro dan kontra mengenai keberadaan Trembesi. Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Mochammad Na’im pernah menyatakan kalau kebijakan penanaman pohon Trembesi  idealnya juga memperhatikan penggunaan dan kebutuhan masyarakat di tiap daerah. Mengingat Trembesi termasuk jenis pohon dengan evaporasi atau penguapan tinggi, sehingga berpotensi mengeringkan sumber air.

Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Endes N Dahlan mengungkapkan kalau pohon Trembesi pada mulanya diketahui tumbuh di savana Peru, Brasil, dan Meksiko, yang minim air. Sehingga dari riwayat tersebut diasumsikan pohon tersebut tidak memiliki evaporasi tinggi.

Sementara itu dari hasil penelitian Endes pada Trembesi dengan diameter tajuk 10-15 meter menunjukkan mampu menyerap karbon dioksida 28,5 ton per tahun. Ini angka terbesar di antara 43 jenis tanaman yang diteliti, bahkan ditambah 26 jenis tanaman lain, daya serap karbon dioksida trembesi tetap terbesar.

Meskipun demikian, Endes belum bisa menjelaskan 68 jenis pohon lainnya yang ditelitinya juga. Trembesi sendiri dikenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Biasa ditanam sebagai perindang, termasuk perindang pada penampungan kayu kehutanan. Jenis Trembesi dikenal cepat tumbuh, dalam lima tahun diameter batang bisa mencapai 25 sentimeter-30 sentimeter. Tetapi, keunggulan yang sama juga dimiliki berbagai pohon spesies asli Indonesia, di antaranya keluarga meranti, jabon, ketapang, atau pulai.

Menurut peneliti senior Biotrop Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Supriyanto, jenis trembesi saat ini juga belum diteliti apakah termasuk jenis yang invasif atau bukan. Jenis invasif itu mampu mendesak atau mematikan jenis tanaman lain di sekitarnya. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s