Tiga Spesies Laut Indonesia Masuk Daftar Merah 

Dari sepuluh jenis flora dan fauna di dunia, setidaknya ada tiga jenis di Indonesia masuk daftar merah paling rentan terimbas dan punah, akibat dampak perubahan iklim. Demikian ungkap laporan terbaru yang dikeluarkan Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN/International Union for Conservation of Nature), bertajuk Spesies dan Perubahan Iklim: Tak Hanya Beruang Kutub, yang dirilis Senin (14/12/2009).

Ketiga spesies tersebut merupakan komunitas flora dan fauna di lautan. Termasuk diantaranya Karang Jahe (Staghorn coral)  di lautan,
Penyu Belimbing (Leatherback Turtle) dan Ikan Badut (Clownfish) laut.

Karang jahe yang berbentuk seperti tanduk rusa, merupakan spesies paling utama diperkirakan rusak. Makin meningkatnya suhu dipermukaan laut, diperkirakan akan membuat kumpulan karang jahe akan memutih (bleaching). Seperti yang pernah terjadi di Great Barrier, panas diperkirakan akan makin tinggi beberapa tahun dimuka. Maka proses pemutihan karang, diperkirakan akan terjadi kembali. Posisi karang jahe yang notabene berada di dekat permukaan air laut, diprediksi mempertinggi potensi komunitas
karang laut tersebut terimbas dampak perubahan iklim.

Persebaran karang tersebut rata-rata berada di garis khatulistiwa. Jenis karang ini teridentifikasi paling banyak berada di Indonesia. Terutama di daerah segitiga terumbu karang (coral triangle) di bagian timur Indonesia. Pada tahun 2008, IUCN sendiri telah menilai paling tidak 704 jenis spesies terumbu karang di dunia. 33 persen diantaranya masuk daftar paling terancam. Diantaranya karena polusi manusia, dan perubahan iklim.

Selain karang jahe, Leatherback Turtle, atau lebih dikenal sebagai Penyu belimbing juga masuk daftar merah keluaran IUCN tersebut. Penyu belimbing masuk daftar merah lantaran potensi tersapunya sarang-sarang telur dan makin minimnya lokasi bersarang, akibat kenaikan muka air laut. Selain itu beberapa penelitian juga menyebutkan, kalau suhu yang makin panas akan menyebabkan kecenderungan lahirnya jenis betina dari satwa tersebut.

Sehingga kenaikan suhu dimasa akan datang ditakutkan akan menimbulkan ledakan populasi jenis betina pada penyu belimbing, ketimbang jenis jantan.

Penyu belimbing banyak ditemukan di Indonesia. Dalam berbagai laporan diidentifikasi terdapat 22 lokasi bersarang penyu belimbing di Indonesia. Hanya sayangnya, hanya tiga tempat yang paling dapat diketahui perkembangannya, yaitu di Meru Betiri dan Alas Purwo, Jawa Timur, serta di Jamursba Medi di Papua.

Sementra di Papua diperkirakan penyu tersebut membuat sarang hingga 4000 buah pertahun, di Jawa Timur, penyu belimbing hanya membuat sarang sebanyak 50 buah. Sayangnya banyak juga perburuan penyu belimbing terjadi di Indonesia. Selain juga karena salah tangkap atau terjerat jaring nelayan secara tak sengaja.

Ikan badut atau Clownfish merupakan spesies laut lain, yang diperkirakan akan mudah terimbas dampak perubaha niklim. Ikan yang terkenal karena film ‘Finding Nemo’ tersebut juga banyak terdapat di Indonesia. Ikan badut masuk daftar merah karena proses asidifikasi atau pengasaman laut, yang makin berlebihan. Berlebihnya pengasaman tersebut terjadi karena makin banyaknya tugas laut menyerap karbondioksida (CO2). Pengasaman mengakibatkan daya hidup ikan badut berubah, termasuk keahlian mencari tumbuhan anemon laut, tempat tinggal mereka.

Sementara ke tujuh spesies daftar merah yang lain, yang diperkirakan paling rentan terdampak perubahan iklim adalah Penguin, Koala, Ikan Lumba-Lumba/Paus Beluga, Pohon Quiver, Serigala Antartika, Ikan Salmon dan Anjing Laut. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s