Pengelolaan Air Indonesia Salah Arah

Air akan menjadi masalah besar dimasa mendatang. Terutama bila desakan dampak kerusakan lingkungan dan perubahan iklim terus menggejala. Untuk menghadapinya, cara mengelola air dianggap menjadi titik kunci keberhasilan.

“Konflik mengenai air sulit dihindari. Berbagai negara di dunia kini mengalaminya. Perlu sistem pengelolaan yang baik untuk menghadapinya,” ujar Ganesh Pangare, Koordinator Program Regional mengenai Air dan Lahan Basah dari Lembaga Internasional untuk Konservasi Alam (International Union fot Conservation of Nature/IUCN), di Jakarta, Rabu (4/11/2009).

Pangare yang berbicara pada diskusi bertajuk Perang Air: Pertempuran Sumberdaya Air di Asia, yang diselenggarakan Asia Calling Forum, KBR68H, Green Radio dan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) tersebut menambahkan bilamana konsep pengelolaan air salah arah, malah bisa menjadi konflik yang membahayakan.

“Seperti pada kasus adaptasi terhadap perubahan iklim pada pertanian. Banyak pihak berpikir dengan menyediakan bibit jenis tahan kering, maka masalah adaptasi akan selesai. Padahal bukan itu titik utama masalah. Sistem pengelolaan air yang seharusnya didahulukan dalam upaya beradaptasi,” ujarnya.

Pengelolaan air yang dimaksud merupakan upaya mempertahankan air tawar selama mungkin berada di daratan. Selain juga tindakan tegas untuk menghentikan berbagai polusi air yang terjadi diberbagai sungai besar dunia saat ini.

Hal serupa juga diungkapkan berbagai kalangan dalam memperingati Hari Air yang diselenggarakan disela Konferensi putaran terakhir mengenai perubahan iklim yang diadakan di Barcelona, minggu ini.

Global Water Partnership (GWP) menyatakan cara mengelola air secara  nasional dan regional antar negara, akan menjadi komponen vital untuk suksesnya berbagai upaya beradaptasi terhadap perubahan iklim.

“Bahkan juga vital bagi upaya mitigasi, termasuk pembangunan pembangkit listrik tenaga hidro, pertanian dan kehutanan,” papar  Ania Grobicki, selaku Sekretaris Eksekutif dari GWP, dalam penjelasan yang diberikan melalui surat elektronik, Rabu (4/11/2009).

Sayangnya di Indonesia saat ini, konsep pengelolaan air sepertinya tidak sesuai dengan kebutuhan mendatang. Seperti pada kesiapan menghadapi perubahan iklim, banyak sistem pengelolaan air justru mengalami kemunduran. Rusaknya sistem irigasi, pengendapan pada bendungan, banjir yang menggejala menjadi beberapa indikator yang menguatkan pendapat tersebut.

Raja Siregar dari Oxfam GB Indonesia lebih dalam mengarahkan masalah buruknya pengelolaan air, melalui tidak tepatnya kebijakan pemerintah pada upaya menyiapkan petani dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim.

“Sekolah Lapang Iklim (SLI-red) tidak mampu menyelesaikan masalah utama petani dalam penyediaan air. Sementara sistem informasi iklim yang ditransfer, malah tak efektif dilapangan,” ujar Raja, pada sebuah kesempatan.

Sementara pada pola pengurangan polusi air, juga tak menunjukan kemajuan berarti. Masnellyarti Hilman, Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian  Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI menjelaskan kalau saat ini sudah ada pengklasifikasian tingkat polusi air sungai, mulai dari hulu sampai hilir. Dengan modal tersebut, maka pola kenaikan kualitas air bisa diukur kemajuan atau kemundurannya. Namun bila melihat pada kasus sungai Ciliwung, masih belum menunjukan hasil yang menggembirakan. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s