Wanita Pendaki Everest Pertama dari Indonesia Masuk RSJ

Clara Sumarwati (44), pendaki wanita Indonesia yang mengklaim sebagai pendaki pertama Indonesia di puncak gunung tertinggi Everest, Senin (12/10/2009) kemarin kembali dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ)  Prof dr Soerojo Magelang.

Menurut informasi yang tersebar, Direktur Medik dan Keperawatan RSJ Prof dr Soerojo Magelang Bella Patriajaya mengatakan, Clara adalah pasien kambuhan yang sudah tiga kali ini menjalani perawatan di RSJ. Gangguan jiwa yang dideritanya beberapa kali kambuh karena dia tidak rutin mengonsumsi obat.

Menurut Bella, Clara pertama kali masuk dan dirawat di RSJ pada tahun 1997. Selama di RSJ, dia pun kerap bercerita bahwa dia pernah mendaki Gunung Everest. Namun, ceritanya kerap diabaikan oleh para tenaga medis karena dianggap hanya sebagai bagian dari khayalannya saja.

Kemudian baru terungkap minggu lalu, ketika ada beberapa tim penilai pemuda pelopor dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga yang datang untuk menilai Poppy Safitri, wakil kontingen Jawa Tengah untuk lomba pemuda pelopor tingkat nasional. Salah satu aktivitas Poppy, diantaranya adalah mengajar tari di RSJ. Dalam kunjungan ke RSJ itulah, salah satu anggota tim mengenali sosok Clara.

Ripto Mulyono, salah seorang pendaki dari Mapala UI juga membenarkan hal itu. Sementara itu, Adiseno, seorang dedengkot pendaki gunung lain pernah menceritakan kalau kemungkinan Clara sebagai wanita pertama Indonesia yang pernah mencapai puncak Everest bukan khayalan.

”Saya pernah bertemu dengan sherpa (tenaga pengangkut barang – red) di Himalaya, yang pernah mengantarkan Clara ke puncak Everest. Itu salah satu sherpa terpercaya yang ada disana. Dan dari ceritanya, hampir 80 persen say apercaya Clara pernah ke puncak Everest,” papar Adiseno.

Sementara itu menurut Makky Ananda, seorang pemerhati masalah ini menyatakan terlepas dari kondisi Clara, sesuai dengan cerita dari teman-teman, ”Memang Clara layak menyandang nama “pendaki everest”,” urainya dalam perbincangan di internet.

Sekarang ini beberapa rekan berencana mengirimkan pakar mengenai hal ini, seperti Dr Dangsina Moeloek untuk menganalisa masalah kejiwaan Clara dan kegiatan petualangan.

Sementara itu menurut info Clara sudah menjalani perawatan di RSJ selama dua minggu. Kendatipun kondisinya sudah membaik, keluarga menolak menjemputnya pulang ke rumah karena khawatir sewaktu-waktu Clara kumat kembali. Surat penolakan menjemput ini, bahkan dilampiri keterangan dari RT dan RW setempat dari alamat tempat tinggalnya di Minggiran, Sleman, DIY, yang menyatakan lingkungan sekitarnya juga menolak keberadaan wanita ini kembali.

“Dengan kondisi tersebut, maka Clara tidak bisa dipulangkan dan kami tampung dulu disini,” ujarnya.

Menurut Bella, ini merupakan kondisi yang rutin dialami pasien di RSJ. Dengan berbagai kejadian semacam ini, dapat disimpulkan bahwa selain beban gangguan jiwa yang dialaminya, pasien sebenarnya menanggung masalah yang lebih besar, yaitu beban sosial karena ditolak oleh lingkungannya.

“Ini lumrah terjadi pada pasien gangguan jiwa manapun, termasuk mereka yang berprestasi seperti Clara,” ujarnya.

Dalam pencarian informasi di google.co.id, terdapat 889 keluaran yang menyebutkan bahwa Clara Sumarwati adalah pendaki asal Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang berhasil mencapai Gunung Everest pada ketinggian 8.848 meter diatas permukaan laut (dpl). Atas prestasinya ini, dia mendapatkan penghargaan Bintang Nararya dari pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s