Surga Fauna di Belantara Timur Jawa

kukang TNMB

dok. sulung prasetyo
Satwa kukang di malam hari di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) tampak bersinar terang karena tersorot sinar senter. Satwa lamban ini masih sering ditemui di TNMB, hingga awal bulan Juli 2009 ini.

Sepanjang pengalaman menjejak hutan-hutan di Jawa. Baru kali ini diberikan kesempatan melihat lima satwa secara berturutan langsung di alam. Itu juga setelah berjalan paling tidak sejauh 17 kilometer, dari Sarongan, lewat Rajegwesi dan Sukamade, dalam enam jam perjalanan di malam hari.

Tiga daerah tadi itu, terletak di ujung timur pulau Jawa. Tepatnya di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Dengan luas mencapai 58.000 hektare, taman nasional ini bisa dikatakan sebagai daerah konservasi terluas yang ada di tanah Jawa.

Dengan luas sebesar itu, didukung dengan daerah bertopografi rendah yang mendominasi, maka pantas bila TNMB memiliki jumlah satwa yang banyak pula. Dalam catatan dibeberapa laporan dan situs TNMB sendiri, tercatat ada fauna sebanyak 217 jenis telah teridentifikasi disana. Terdiri dari 92 jenis yang dilindungi, dan 115 jenis yang tidak dilindungi. Jumlah sebanyak itu meliputi 25 jenis mamalia, dimana 18 diantaranya dilindungi, ada 8 reptilia yang 6 jenis diantaranya dilindungi, dan 184 jenis burung yang 68 jenis diantaranya dilindungi.

Satwa pertama yang terlihat adalah kepiting kecil-kecil. Banyak terdapat di pantai Rajegwesi. Berlarian-lari gesit dengan gaya miring. Kemudian masuk ke dalam lubang-lubang di pasir. Setelah melawati pasir Rajegwesi yang agak keras karena sepertinya mengandung besi. Baru kami masuki wilayah hutan. Belum berapa lama berjalan, satwa sejenis kukang, yang dalam istilah latin dikenal dengan nama Nycticebus caoncang tampak menggelayut di pohon. Satwa tersebut terlihat dengan mata bersinar tajam. Seperti kena pantulan sinar senter yang diarahkan. Bukannya lari, satwa sebesar paha lelaki dewasa tersebut malah terdiam kaku. Melihat dengan tegang ke arah kami yang berempat berjalan bersama sekarang.

Kami yang mula-mula was-was, mengira sinar mata berkilat tersebut merupakan jenis macan dahan atau macan kumbang. Jadi tertarik untuk berlama-lama melihat dahulu. Warnanya coklat berbulu, dengan ekor agak panjang. Muka dan matanya bulat.

“Kayaknya dia tegang melihat kita,” kata Ade Wahyudi, salah satu personil dari kami.

Akhirnya ketimbang kasihan melihat satwa lamban ini terus-terusan tegang. Kami meneruskan perjalanan lagi. Tujuan kami adalah Sukamade. Lokasi perkebunan dibagian barat pantai Rajegwesi. Tak berapa lama berjalan. Tiba-tiba suara berkemerisik kembali memenuhi daerah hutan dipinggir jalur lintasan. Kembali kami waspada. Ketika sinar senter akhirnya menemukan sumber suara. Terlihat bokong kera hitam berkelebat. Ternyata mamalia yang dikenal bernama daerah lutung budeng tersebut hanya kaget saja melihat kedatangan kami. Kera dengan nama latin Trachypithecus auratus tersebut kemudian terasa menjauh, dan hilang di kegelapan malam.

Usai melihat kera, sebagian dari kami menyumpah-nyumpah. Karena perjalanan mendaki yang agak berat dan suhu panas yang mendera. Kalau malam hari saja seperti ini, bagaimana siang. Maka pantas kalau kami dengar, rombongan besar perjalanan panjang Mapala UI di depan kami banyak yang harus dievakuasi. Sekarang rombongan itu ada di Sukamade, makanya kami berniat menyusul kesana. Agar bisa bersama menyusuri wilayah lain di TNMB ini.

Pada sebuah jalur turun, tiba-tiba terdenagar suara ribut lagi. Kali ini satwa sejenis luwak terlihat berkelit. musang luwak, atau Phardoxorus hermaprodytus memang dikenal banyak juga di taman nasional ini. Mungkin karena adanya perkebunan kopi di daerah pinggir taman nasional.

Sampai akhirnya perkebunan Sukamade ditemui, setelah lima jam berjalan dari Rajegwesi. Di perkebunan tersebut terlihat ular hitam bergaris putih tampak tenang menyusur memotong garis lintasan kami. Kontan berempat dari kami meloncat semua. Tak ada satupun dari kami tampaknya yang suka dengan ular. Karena agak-agak cemas melihat ular lagi, perjalanan berempat kami akhirnya diteruskan dengan saling tak berjauhan, dan cemas melihat benda-benda yang mirip ular.

Untunglah sebelum jam dua malam, rombongan Mapala UI yang sedang beristirahat di lapangan desa kami temui. Tenang juga jadinya berisitirahat, meskipun saya jadi agak malas membuka tenda, dan memilih memakai hammock, bila ingat ular yang menyusur-nyusur tanah tadi.

Tiga hari perjalanan kemudian, satwa yang terlihat mulai makin sedikit. Mungkin karena perjalanan kami dipenuhi dengan orang-orang. Bagaimana tidak, hampir 80 orang personil kami sekarang. Pantas bila satwa bergerak menjauh, bila mendengar derap kaki orang sebanyak itu.

Hanya di pantai Permisan, saya melihat lagi ikan laut yang dibawa Yudho Asmoro. Pria yang kuliah di Geografi UI ini tampak riang membawa dua ekor ikan sembilang. Ikan laut sebesar tangan itu tampak sudah hilang bagian tenggorokannya. Kata Pak Budi, guide dari TNMB yang menemani kami, ikan jenis seperti itu dikenal dengan nama lele laut juga. “Kalau kepatil, bisa demam berminggu-minggu,” katanya, sambil terkekeh-kekeh.

Selain ikan sembilang, kepiting juga ada dimasak oleh teman-teman yang lain. Dapat dari nelayan, kata mereka. Sayangnya kerang yang biasanya banyak sedang tak ada pada musim di awal Juli 2009 ini.

Sampai akhirnya rombongan besar melintasi pantai Meru. Tak banyak binatang yang ada. Yang saya ingat hanya jenis kerang di pinggir-pinggir sungai, yang diamsak oleh rombongan guide. Satwa tersebut mereka dapat dengan hanya mengangkat batu-batu kecil disungai. Maka ada kepiting atau kerang berwarna putih disana. Setelah direbus, baru dimakan dengan makanan ala kadarnya yang mereka bawa.

Yang paling unik mungkin cerita Oktora Hartanto, salah satu anggota Mapala UI. Katanya, ia sempat melihat satwa seperti biawak, namun sebesar anak usia belasan tahun. Mulanya ia pikir itu sejenis komodo atau buaya. Namun tak mungkin dua satwa itu ada disana. Akhirnya daripada repot, dengan langkah panjang ia langsung ngacir menuju pantai Meru. Lokasi dimana ia berniat menjemput tim besar.

Satwa lain yang menarik, adalah Julang. Burung yang mirip Rangkong di Kalimantan tersebut terdengar sering lewat melintasi rombongan besar. Selama empat hari perjalanan melintas TNMB setidaknya sebelas kali, kepakan Julang yang bertenaga terdengar dari tanah tempat kami berpijak. Bulu-bulunya yang jatuh kemudian jadi rebutan. Karena merupakan souvenir yang tak terkira harganya.

Ketika sampai di Bandealit, beberapa teman yang lain menceritakan melihat beberapa satwa lain. Ada yang melihat burung Merak, ketika perjalanan dimulai. Ada juga yang menyempatkan melihat pertunjukan Banteng, yang turun minum ke sungai pada malam hari. Semua menjadi bukti menarik, kalau masih ada wilayah di tanah Jawa ini yang menyimpan harta satwa yang tersisa di bumi nusantara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s