Menjual Isu Lingkungan, Meninggalkan Kemandirian

Hajat Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC) dan Inisiatif Segitiga Terumbu karang (Coral Triangle Initiative/CTI) telah sukses dilaksanakan, di Menado antara 11 – 15 Mei 2009 lalu. Berbagai keputusan ada didalamnya. Namun kembali seperti kita meninggalkan nilai kemandirian yang seharusnya tercipta.

Max Havelaar dalam bukunya jelas menyebutkan, “Kita bersyukur bukan karena padi yang kita panen. Namun kita bersyukur karena kita memanen padi yang kita tanam.”

Pada penyelenggaraan WOC dan CTI, banyak pihak bersyukur karena hampir keseluruhan target penyelenggaraan bisa tercapai. Deklarasi Kelautan Menado (Menado Ocean Declaration/MOD) berhasil dicapai, selain kesepakatan bersama antar kepala negara untuk menjalankannya dalam forum CTI.

Ada 83 negara yang menyetujui WOC dan enam kepala negara menandatangani CTI. Ada pula sumbangan total US$ 119,5 juta didalamnya.

“Terbesar adalah sumbangan AS sebesar US$ 41,6 juta, kemudian dana Global Environment Facilities (GEF) sebesar US$ 63 juta. Sementara yang lain berkisar antara US$ 1 juta sampai US$ 5 juta,” ucap Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP), Freddy Numberi, dihari penutupan acara WOC dan CTI, Jumat (15/5/2009).

Sumbangan sebesar itu akan dipergunakan untuk menjalankan Rencana Aksi Regional (Regional Plan of Action/RPOA) dalam bentuk pengelolaan bentang laut prioritas pada kawasan laut, pengelolaan perikanan berbasis ekosistem, penetapan dan pengelolaan efektif kawasan konservasi laut dan jejaringnya, adaptasi terhadap perubahan iklim dan mempertahankan keberadaan spesies langka serta mengupayakan peningkatannya.

Nilai ideal sepertinya termaktub dalam rencana aksi tersebut. Karena hampir keseluruhan isyu mengenai lingkungan dan kelautan ada didalamnya. Namun bila ditelaah ulang, ada beberapa upaya di paska kegiatan yang patut dipertanyakan. Seperti yang diungkapkan oleh berbagai pihak, niat mengenai perhatian kelautan ini akan diteruskan pada forum-forum internasional lain. Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar bahkan menjanjikan akan mengajukan klausul mengenai kelautan ini pada Konferensi Perubahan Iklim UNFCCC di Copenhagen akhir tahun 2009 nanti.

Ujung-ujungnya kemudian kita akan menadahkan tangan, untuk meminta ‘hak’ kita atas dana adaptasi yang sudah seharusnya diterima. Lalu kita juga akan mengupayakan penjualan karbon, pada daya serap laut terhadap karbondioksida. Kembali kita dihadapkan pada pilihan yang stagnan. Mengharapkan bantuan lantaran kondisi yang ada.

Belajar pada skema bantuan yang telah ada. Kita akan dihadapkan kembali pada opsi-opsi hutang untuk pembangunan. Sementara hutang tersebut jelas membuat bangsa ini tak berdaya. Dengan dikte keputusan disana-sini.

Urusan dikte mendikte ini jelas merusak nilai kemerdekaan sebuah bangsa. Karena kita akan hidup laksana kerbau yang dibawa kesana-kemari. Jadi meskipun besar dan bertenaga kuat, namun dianggap bodoh karena tak punya kemandirian.

Aliansi Manado, yang didalamnya berkumpul Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti Walhi, Jatam, Kiara, Perkumpulan Kelola, YSN, Ammalta, Institut Hijau Indonesia, KPNNI, Sinar, PKP2M, SEAFish, Commit dan KAU jelas menolak hal ini. Menurut mereka Indonesia harus merubah diplomasi murahan dalam forum WOC-CTI  untuk mendapatkan “dana receh” berupa utang luar negeri, maupun hibah bersyarat dari negara industri penghasil emisi karbon, dengan “dalih” menyelamatkan bumi dari perubahan iklim global.

“Tak ada cara paling jitu menghadapi dampak perubahan iklim, selain menuntut negara-negara industri memangkas emisi karbonnya hingga 40 persen pada tahun 2020, dari angka di tahun 1990,” ujar Berry N Furqon, Direktur Eksekutif Walhi.

Hanya sayangnya niat kemandirian dan menuntut hak sesuai dengan dasar masalah yang ada tersebut malah dibungkam. Berry, bersama seorang anggota Walhi lain ditangkap, dengan berbagai dalih. Dan dijatuhi hukuman satu bulan pidana kurungan, meskipun boleh tak menjalani.

Seperti pada awal tulisan ini, Max Havelaar telah mengingatkan, kita tak seharusnya bersyukur dari panen yang dilakukan, apabila bukan kita yang menanam.  (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s