Bisakah MOD Memberantas Illegal Fishing ?

Tak ada satupun kata-kata dalam Deklarasi Kelautan Menado (Menado Ocean Declaration/MOD) yang menuliskan pencurian ikan (illegal fishing). Bukti pemerintah meremehkan masalah internal kelautan Indonesia, atau bentuk strategi implisit yang dicarikan dasarnya pada pasal-pasal MOD.

Sebelumnya Menteri Perikanan dan Kelautan (MenKP) Freddy Numberi pernah menyatakan, kalau setiap tahun Indonesia mengalami kerugian sekitar Rp30 triliun akibat kasus pencurian ikan, yang dilakukan oleh pihak asing. Data tersebut didasarkan pada keluaran Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Menurut Freddy, pelaku pencurian merupakan kelompok terorganisasi tingkat dunia yang secara periodik selalu melakukan aksinya.

Sementara itu dari sekian pelaku pencurian ikan yang tertangkap di wilayah perairan Indonesia, sebagian besar teridentifikasi berasal dari Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, Taiwan, Korea, Panama, Kamboja, Myanmar, Tiongkok dan Australia.

Menjelang Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC) di gelar di Menado, isyu mengenai lingkungan laut dan pencurian ikan dianggap masalah utama yang harus diusung Indonesia. WWF, TNC, CI dan berbagai LSM yang tergabung dalam Aliansi Menado berkesimpulan pada hal serupa juga. Intinya laut saat ini sedang dalam bahaya, terutama melalui masalah penangkapan ikan yang berlebihan, pencurian ikan internasional, pola pembangunan pesisir yang tak berkelanjutan, polusi dan perubahan iklim.

Sayangnya, ketika kemudian MOD disepakati oleh 83 negara pada hari Kamis (14/5/2009) lalu, sepertinya ada satu masalah besar, yaitu pencurian ikan yang bahkan kalimatnya saja tak termaktub dalam 21 butir  deklarasi. Hal ini cukup mencemaskan mengingat besarnya angka kerugian yang harus diterima Indonesia.

Dalam pernyataan menjelang penutupan Inisiatif Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle Initiative/CTI), Freddy menjelaskan hal ini tampak seperti ada makna implisit dari upaya pemberantasan pencurian ikan, dengan pasal-pasal yang ada di dalam MOD.

“Sekarang kita bisa menuntut negara pencuri ikan di Indonesia, atau bahkan menenggelamkan kapalnya, karena terbukti merusak lautan melalui pencurian ikan,” ujar Freddy, Jumat (15/5/2009).

Perjanjian internasional juga telah diupayakan dalam masalah ini. Melalui dukungan dari Komisi Eropa, yang akan menolak ikan yang berasal dari sumber yang tak bisa dipertanggung jawabkan, Freddy merasa yakin kalau masalah pencurian ikan akan teratasi.

“Sekarang mereka akan menanyakan asal ikan, lengkap dengan titik koordinat dan tag untuk memastikan ikan datang dari sumber yang bisa dipercaya. Kalau tidak maka mereka akan menolak,” urai Freddy.

Namun sekali lagi, tak ada kalimat mengenai pencurian ikan dalam deklarasi tersebut. Ditambah dengan hasil deklarasi yang tak mengikat maka berbagai konsensus didalamnya bisa dipertanyakan kembali.

Arif Satria, dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga merupakan pengamat dalam masalah perikanan menyatakan kalau MOD bersifat tak mengikat, lalu apa yang akan dilakukan setelah MOD dideklarasikan?

Yang mana, bisa saja negara-negara yang menandatangi ingkar. Kalau mereka ingkar dengan perjanjian, lalu bisa apa? Menjerat melalui butir-butir MOD? Sekali lagi ditegaskan, kalau butir-butir tersebut tak mengikat. Butir-butir tersebut hanya bersifat formal, keinginan untuk menyelamatkan lautan. Namun bukan berarti bisa digunakan untuk menjerat pelaku dalam persidangan internasional misalnya.

Apabila kemudian dikembalikan pada masalah moral, karena berharap negara-negara pendukung akan menjalankan deklarasi tersebut, kalau tidak akan dianggap memiliki moral yang tak baik. Bisa jadi hanya akan menjadi mimpi buruk yang tidak berkesudahan. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s