Pembukaan WOC Diwarnai Aksi Represi

Konferensi Kelautan Dunia (WOC) yang secara resmi dibuka hari Senin (11/5/2009) pagi ini, diwarnai dengan aksi represi dari aparat kepolisian. Tindakan tersebut dilakukan  untuk mengamankan aksi Pembacaan Deklarasi Aliansi Manado yang dilakukan oleh Solidaritas LSM terdiri dari Kelola, YSN, KPNNI, Sea Fish, KIARA, WALHI, JATAM, Institut Hijau Indonesia, dan AMMALTA.

Siti Maemunah dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menyatakan kalau secara subtansi penyelenggaraan WOC tidak menyentuh permasalahan dasar nelayan dan pesisir yang dihadapi Indonesia.

“WOC-CTI diragukan mampu menyelamatkan nasib nelayan, laut dan mendukung keadilan iklim,” ucap Siti.

Dasar-dasar seperti tidak melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan, menunjukan masih konsistennya pemerintah Indonesia dalam arogansi feodalisme.

“Kami curiga niat orang luar untuk mengetahui tentang potensi laut Indonesia, diikuti dengan keinginan untuk mengeruk kekayaan alam seperti tambang,” tambah Siti.

Hingga berita ini dibuat, tercatat ribuan aparat masih sibuk dengan aksi protes yang dilakukan LSM di area Pelataran Kolongan Beach Hotel, Jl. Raya Wolter Monginsidi, Malalayang Dua – Manado. Untungnya tidak ada korban jiwa maupun luka-luka, namun bendera-bendera para pemrotes tampak sedang dipreteli.

Sementara itu dalam pemaparan Bank Pembangunan Asia (ADB), hingga kini mereka terus mendukung pelaksanaan berbagai proyek yang terkait dengan bidiversitas, perairan internasional dan perubahan iklim, termasuk juga yang terkait dengan isyu kelautan.

Tercatat total dana sebesar US$ 13.760.000 telah dikeluarkan melalui skema GEF (Dana Lingkungan Global). Untuk beberapa tahun mendatang Negara-negara seperti Timor Leste, Papua Nugini, Solomon, Vanuatu dan Fiji akan menjadi sasaran proyek selanjutnya.

Sedangkan mengenai isyu lambatnya dana yang tiba ke negara terkait, menurut Maurice Knight dari Coral Triangle Support Partenership (CTSP), terjadi karena adanya kebersinggungan kepentingan antara LSM yang dipercaya dan pemerintah wilayah.

“Banyak pemerintah negara terkait tidak menginginkan kalangan LSM untuk menjadi coordinator dari program,” ujar Knight, dalam diskusi yang diselenggarakan ADB, di sela pelaksaaan WOC Menado, Senin (11/5/2009) ini. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s