Isi Kembali Air Tanah dengan Penghijauan

 

Jangan kaget, kalau tiba-tiba merasa miring bila berjalan di sentra Jakarta. Beberapa gedung diindikasikan miring, serta wilayah berjalan kaki dan perparkiran menjadi labil. Ihwalnya bisa datang dari beberapa sebab, yang paling utama merupakan penyedotan air tanah secara berlebihan.

Seperti kalau berjalan di koridor pejalan kaki, di depan parkiran sebuah bank terkemuka di samping perempatan Kebon Sirih. Jalan terlihat dan terasa miring. Bahkan membuat timbul perasaan aneh. Mula-mula akan berpikir, apa gaya berjalan kita miring atau memang kondisi tanah yang miring?

Sebenarnya kondisi tanah di Jakarta memang sudah tak stabil lagi. Seperti pada kasus gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pertengahan tahun silam. Gedung kebanggaan mantan Presiden RI, BJ Habibie, tiba-tiba dikategorikan miring. Beberapa asumsi kemudian muncul di internet. Sampai akhirnya kemudian pembangun gedung Departemen Agama, yang persis di samping gedung BPPT dijadikan kambing hitam. Diperkirakan sistem penyedotan air tanah atau dewatering, untuk mempermudah pembuatan pondasi gedung Departemen Agama yang baru, membuat lahan parkir dan pondasi BPPT menjadi turun. Meskipun kemudian pihak kontraktor menyatakan bertanggung jawab terhadap kejadian tersebut. Namun masalah penyedotan air tanah sebenarnya belum selesai.

Lantaran kemudian terkuak masalah penyedotan air tanah ilegal yang banyak dilakukan gedung-gedung di Jakarta. Menurut Kepala Dinas Pertambangan DKI Jakarta Peni Susanti, setidaknya sampai tahun lalu ada 17.000 titik penyedotan air tanah ilegal di Jakarta. Dimana terjadi kenaikan yang signifikan, bila dibandingkan tahun 2002, yang hanya mencapai 450 titik penyedotan. Dari ribuan titik penyedotan tersebut, berarti setidaknya 650 juta meter kubik air tanah telah terhisap per satu tahun.

Ini tidak menjadi masalah, bila air tersebut berasal dari permukaan. Karena air tanah merupakan bagian-bagian dari lapisan tanah. Maka penyedotan secara berlebihan secara logika akan menyebabkan labilnya lapisan tanah permukaan. Pada kasus gedung BPPT, teori tersebut telah terbukti.

Robert N. Delinom dan Hasanudin Z Abidin, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB), juga membuktikan hal ini. Dalam paper mereka, yang diterbitkan dalam Jurnal Science Direct tahun 2008 lalu menyebutkan, kalau setidaknya dua wilayah Jakarta, yaitu Jakarta Barat dan Utara menjadi daerah yang paling rentan amblas tanahnya.

“Selain karena penyedotan air tanah, amblasnya tanah juga disebabkan oleh beban bangunan diatasnya,” urai Delinom, awal minggu ini.

Delinom, yang merupakan peneliti dari Kedeputian Geoteknologi LIPI tersebut bersama Hasanudin kemudian melakukan analisa secara berkala terhadap wilayah Jakarta. Melalui penelitian Sistem Informasi Geografi yang dilakukan mulai Desember 1997, hingga September 2005, disimpulkan masalah penurunan muka tanah bisa terjadi fluktuatif dibagian mana saja di Jakarta. Namun daerah Utara dan Barat, merupakan daerah yang paling rentan amblas.

Masalah tanah yang amblas, secara keilmuwan dijabarkan sebagai kondisi dimana terdaapt salah satu lapisan dibawahnya berubah, bergeser atau hilang. Seperti pada kasus lumpur Sidoarjo yang memancar keluar. Semburan lumpur merupakan bagian dari lapisan tanah yang bergeser ke permukaan. Akibatnya lapisan tanah permukaan asal, yang merupakan lokasi kehidupan manusia, seperti perumahan, pasar dan pekuburan menjadi amblas dan kemudian terkubur oleh lumpur.

Pada kondisi Jakarta, kejadian keamblasan tanah sebenarnya sudah terbukti dibeberapa tempat. Seperti penelitian yang diungkapkan oleh Firdaus Ali, seorang peneliti kajian hidrologi dari Universitas Indonesia (UI). Dalam pemaparannya beberapa saat lalu, diketahui setidaknya 10 sentimeter pertahun, tanah di Jakarta amblas. “Sekarang tinggi permukaan tanah di kawasan Monas turun 66 sentimeter dibandingkan kondisi tahun 1984 lalu,” ujar Firdaus.

Beberapa wilayah lain, juga diindikasikan mengalami penurunan. Seperti di wilayah Jakarta Barat, selama 11 tahun terakhir, permukaan tanah turun 1,2 meter. Di wilayah Kemayoran dan Thamrin, Jakarta Pusat, dalam 8 tahun terakhir turun 80 sentimeter. Oleh karena itu wajar bila kemudian Firdaus meramalkan, sekitar tahun 2012 sebagian besar wilayah Jakarta akan tenggelam. Banjir, tanah amblas, dan faktor perubahan iklim akan menjadi sebab bagian Jakarta yang hilang tersebut, tambahnya.

Antisipasi

Menyadari resiko kerugian yang timbul dari masalah tersebut, banyak upaya kemudian dilakukan untuk mengantisipasinya. Pihak pemerintah daerah Jakarta kemudian mengeluarkan kebijakan kenaikan harga pengambilan air tanah, hingga 16 kali lipat. Harga tersebut berarti tak jauh berbeda dengan air yang dijual melalui PAM atau Palyja, sekitar RP 12.250 per meter kubik.

Kenaikan harga tersebut pada satu sisi akan membuat banyak pemakai gedung menghentikan eksploitasi air tanah. Namun pada kenyataannya masalah tak akan berhenti di situ saja. Karena sekarang sudah banyak gedung yang terlanjur berubah pondasinya.

“Perhitungan lebih terperinci dari beban gedung dan kekuatan tanah yang akan dibangun, tampaknya kini perlu mendapat kontrol dari pemerintah,” analisa Delinom. Pasalnya, bila gedung-gedung tetap dibangun di Jakarta, sementara angka beban yang bisa ditahan tak terkontrol, maka bisa jadi tingkat amblasnya tanah akan makin signifikan.

“Penghijauan daerah-daerah asal air tanah juga perlu dilakukan. Untuk mengisi kembali air-air tanah yang telah disedot,” papar Delinom.

Berarti wilayah hulu-hulu sungai yang menuju Jakarta, seperti di kawasan Cisarua Puncak, Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak harus dihijaukan kembali. Sebab dengan pohon yang banyak, baru bisa air tersimpan di akar dan dialirkan baik melalui air permukaan atau air tanah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s