Puncak Gunung Slamet via Penjara (1)

Puluhan tahun silam, tim Mapala UI berhasil melakukan pendakian menuju puncak Gunung Slamet di Jawa Tengah melalui jalur utara. Hasil perjalanan tersebut pernah ditulis Soe Hok Gie, dan dimuat di Harian Kompas tanggal 14 Desember 1967, dengan judul ‘Menaklukkan Gunung Slamet’.

Tepat akhir tahun 2008, rombongan pendaki Mapala UI bersama wartawan Sinar Harapan, Sulung Prasetyo, mencobanya kembali, dengan melakukan eksplorasi kemungkinan jalur baru melalui sisi Gunung Penjara, yang bersebelahan dengan jalur lama melalui sisi utara Gunung Slamet.

Mulanya niat tersebut hanya karena meremehkan jalur utara Gunung Slamet. Oleh karena, notabene, pendaki pasti pernah mendengar mengenai jalur legendaris tersebut, baik melalui Internet maupun buku-buku. Namun bila kita mencoba jalur yang bermula dari Dukuh Liwung itu, pasti akan kecele dengan kondisi alam yang sudah berubah, di mana jalur pembukaan sebelum masuk hutan sejak September 2008 telah tertutup ladang.

Ladang jagung yang bersebelahan dengan kebun karet, jelas membuat awal arah pendakian menuju selatan yang cenderung ke timur laut, bisa berubah asumsi menjadi selatan. Perubahan arah tersebut bisa fatal akibatnya, karena akan mengantarkan pendaki menuju sisi barat Gunung Penjara.

slamet utara

dok.sulung prasetyo
Gunung Slamet, Jawa Tengah dilihat dari sisi utara.

Bagi para pendaki yang tak memahami navigasi darat dan kurang persiapan, jelas masalah ini bisa membawa bencana. Karena pada peta tertera wilayah Gunung Penjara merupakan daerah “jahat”, lantaran dipenuhi jurang-jurang dalam dan puncak-puncak bukit kecil yang melelahkan.

Belajar dari kondisi tak menguntungkan tersebut, Sabtu (27/12/2008) malam, saya bersama sembilan pendaki dari Mapala UI mencoba membuka jalur tak formal tersebut. Selain karena niat ekplorasi, upaya ini juga merupakan sumbangsih kami untuk mencegah agar tidak terjadi malapetaka yang bisa dialami para pendaki bila ceroboh memasuki jalur tersebut tanpa persiapan yang mumpuni.

Minggu (28/12/2008), Pak Karsad, sang juru kunci Gunung Slamet via jalur utara menerima kami di rumahnya yang kini mulai bertembok. Pria dengan bibir sumbing tersebut hanya mengangguk-angguk mendengar niatan yang disampaikan Dadang Sukandar, pemimpin perjalanan kali ini.

“Saya hanya menitipkan kemenyan putih, agar dibakar di batas hutan Gunung Penjara dan asapnya diusapkan di muka tiap peserta, setelah sebelumnya membaca surat Al Ikhlas sebanyak tiga kali,” ucapnya datar, di pelataran rumahnya, tepat sebelum kami berangkat.

ritual slamet

dok.sulung prasetyo
Seorang pendaki melakukan ritual sebelum mendaki gunung Slamet, dari sisi utara.

Tak ambil pusing dengan tata cara yang dianjurkan, beberapa anggota tim menolak melakukan ritual tersebut saat berada di batas hutan. Abdu Robbi, yang bergaya muslim klotokan menganggap ritual tersebut tergolong musyrik. Sementara Oktora Hartanto dan beberapa teman yang beragama tapi minim menjalankan ibadah, hanya menanggap hal tersebut angin lalu.

Akhirnya perjalanan dimulai dengan tak semua orang melakukan ritual. Menempuh tanah tanjakan yang dipenuhi pepohonan lebat. Saat menuju area puncak Gunung Penjara, jalur tak sulit ditemukan karena banyak pemburu burung sering melewati wilayah itu. Beberapa pemburu yang ditemui, kemudian menjelaskan bagaimana mereka membuat jerat dan menangkap burung. Rata–rata bisa sepuluh burung mereka dapatkan per harinya. Sejenis burung kecil yang siap dijual pada pedagang di Pasar Bojong, dekat kampung mereka.

Hambatan Berat

Pukul lima sore, perjalanan dihentikan karena kami mulai menemui hambatan berat. Rumpunan pakis yang banyak tumbuh di daerah puncakan barat Gunung Penjara, amat sulit ditembus. Parang merek Tramontina yang kami bawa seperti tak berkutik karena membalnya pakis saat dibabat.

Esok paginya, rumpunan pakis bisa dilalui dengan menggunakan dorongan badan. Beberapa anggota tim yang memakai baju lengan panjang hanya meringis-ringis saja, melihat teman yang tak siap dengan baju panjang dan celana panjang terlihat mulai berbaret-baret merah kulitnya.

Perjalanan hari ini sebenarnya tak terlalu berat. Karena kami hanya akan turun menuju lembah di selatan Gunung Penjara. Puncak gunung tersebut tidak akan kami daki, karena hanya membuang waktu dengan lembah-lembah curamnya. Target terbaik adalah menuju deretan bukit-bukit kecil yang membujur menuju arah tenggara, menuju puncak Gunung Slamet.

bivak slamet

dok.sulung prasetyo
Mendirikan bivak, menjadi menu sehari-hari diperjalanan pendakian gunugn Slamet.

Menjelang siang hari kedua, ujung awal deretan bukit berhasil ditembus. Dengan rimbunan semak jelatang, yang terasa panas saat menyentuh kulit. Sayangnya ketika akan memasuki puncak bukit pertama, hujan turun dengan deras. Angin dingin terasa menusuk. Beberapa anggota tim terlihat mulai kelelahan dengan kondisi ini, dan akhirnya memutuskan membuka kamp, setelah sebelumnya mengirimkan beberapa anggota untuk mengecek jalur selanjutnya.

Malam harinya, Dadang mengabarkan adanya jurang dalam yang mengadang di depan. Sehingga ia menyarankan tali 9 mm dan peralatan rescue yang kami bawa supaya disiapkan untuk esok hari.
(bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s